Langit diselimuti awan
gelap sehingga hari nampak tak menggairahkan untuk dilalui. Kubangan air
dimana-mana. Sisa hujan semalam masih terasa, menyisakan jalanan becek. Gunung
Manglayang menghilang tertutup kabut dan awan hitam, itu berarti hujan belum
akan usai hingga hari ini.
Hari gelap tak menjadi halangan bagi
setiap orang untuk melakukan aktivitasnya. Begitu pula bagi para pedagang di
Pasar Ujungberung, terik panas matahari bahkan hujan lebat sekalipun tak akan dijadikan
hambatan utuk mencari rupiah. Mereka tetap menjajakan dagangannya. Para kuli
angkut tetap terlihat bugar dan kuat mengangkat segala beban. Para pengemis
juga masih asyik berseliweran menambah padat suasana pasar. Jalanan yang tak
begitu luas tetap saja dibanjiri para pengguna jalan hingga terlihat membeludak,
melumeri hingga ke bahu jalan. Cipratan air dari ban mobil yang sedang melaju
kencang membuat sepatuku basah. Aku memandangi mobil itu dan hanya mampu melengkungkan
senyum di wajahku. Semua sibuk dengan urusan dan kegiatannya sendiri, untuk
menoleh peduli pada orang lain merupakan hal yang tak berarti. Jalanan nampak
penuh sesak dan membuat aku sedikit muak dengan keadaan itu.
Perjalanan akan segera ku mulai. Ku berhentikan
mobil angkutan umum, lalu aku masuk ke dalamnya. Mobilnya terlihat lebih bagus
dari mobil lainnya ku kira ini pasti mobil baru. Joknya masih empuk dan
membuatku nyaman untuk menikmati perjalanan. Aku layangkan pandangan mataku ke
sekitar. Tidak begitu penuh penumpang untuk hari yang masih pagi ini. Semua
sibuk dengan dunianya masing-masing. Mata masing-masing penumpang pun dijaga
agar tak sampai saling bertemu. Apakah ada rasa malu jika mata saling bertemu,
ataukah ada rasa takut, atau ada rasa yang lain, entahlah aku sendiripun tak
tahu. Hanya mataku yang masih asyik memandangi mata mereka satu- persatu. Tapi
jika mata lain melayangkan pandangan kepada mataku, aku segera menghalau arah
pandangan mataku pada arah lain.
Angin
meniup perlahan wajahku. Pintu mobil tepat berada di hadapanku membuat aku
menghirup udara lebih bebas untuk melepas kepenatan di dalam mobil ini. Aroma
badan penumpang lain sungguh menyengat hidungku. Bau keringat ataupun bau badan
penumpang lain yang bercampur dengan aroma parfum murahan benar-benar
memabukkan pikiranku. Membuat pikiranku berlarian kemana-mana untuk membuat aku
bertahan dengan tidak memikirkan bau tersebut. Alhasil tetap saja tercium dan
pikiranku tetap fokus padanya.
Jalanan
belum juga terlihat lebih lengang. Hujan pun mulai titik berjatuhan menempanya.
Angin mulai berhembus kencang, lebih kencang lagi. Angin mengarahkan air hujan
titik mengenai wajahku. Rasanya sial juga duduk di hadapan pintu mobil.
Sepatuku yang belum juga kering tertimpa tetesan hujan. Hujan rasanya
mengepungku dari arah manapun. Punggungku turut basah terkena tetesan hujan
dari celah kaca mobil. Apalagi yang bisa aku lakukan dalam mobil ini, selain
tetap diam layaknya mannequin.
Penumpang yang lain sama sepertiku, mannequin
juga. Kami tak bertegur sapa atau
sekedar memberi senyum, karena kami layaknya tak bernyawa, hanya saling
terdiam.
Aku
mencoba mencari cara untuk menghilangkan kejenuhan ini. Perjalanan menuju
sekolah memang masih jauh. Jalanan tersendat sebab hujan yang tiba-tiba datang
serentak membuat air menggenangi seluruh jalan hingga tingginya sampai setengah
ban sepeda motor yang ada di samping mobil ini. Aku rasa perjalanan kali ini
akan memerlukan waktu yang lebih lama.
“Maaf,
neng sekarang jam berapa ya?” suara itu
mengagetkanku.
“Ooh.
sekarang jam 06.35.” jawabku dengan nada sedikit kaget.
“Oh
iya, makasih neng.” Sambil Ia memberikan senyuman yang menurutku
sangat manis untuk menghiasi khayalku seharian ini. Akupun hanya membalasnya
dengan senyuman.
Ia merupakan lelaki yang dari tadi
duduk di pinggirku. Akhirnya keheningan terpecah juga setelah kami sedikit
saling mengeluarkan suara, meski akhirnya kami kembali membisu. Ia cukup tampan
dengan dandanan yang sangat rapih. Aku suka sekali melihat lelaki yang rapih.
Dengan sedikit mencuri-curi pandangan aku melihat wajahnya meski hanya dapat
melihatnya dari pinggir. Hidungnya yang sangat mancung dengan kombinasi mata,
alis tebal dan bibir yang indah membuat wajahnya begitu enak untuk dipandang.
Kami duduk sangat berdekatan karena
memang penumpang penuh sesak. Kaki kami saling beradu. Akan tetapi aku
tiba-tiba melihat gulungan kertas tepat berada di ujung sepatu basahku.
Gulungan kertas berwarna merah, dan aku yakin itu uang ratusan ribu rupiah.
Perhatian kini hanya tertuju pada gulungan uang itu. Uang siapakah itu, kenapa
pula ada di dekat sepatuku. Sejenak aku pandangi penumpang lain di sekitarku.
Mereka nampaknya tak peduli dengan gulungan uang itu, malah mereka seakan tak
melihat ada gulungan uang itu. Hatiku bergetar untuk mengambil uang tersebut.
Ku injak gulungan uang itu, lalu ku geser perlahan. Aku pun menjatuhkan tissue
sebagai kamuflase untuk mengambil uang itu. Ku jatuhkan tissue ku, lalu…
Tidak!!!! Sisi hatiku yang lain menolak melakukan itu. Niat itu pun aku
urungkan.
Mobil terus melaju meski perlahan.
Penumpang yang lain terus bergantian naik dan turun mobil dan aku pun terus
merasa bimbang akan uang yang ada di bawah sepatuku ini. Aku ambil saja, tidak
itu bukan hakku, terus saja seperti itu hatiku berdebat. Uang itu tentu saja
akan cukup untuk membeli sepatuku yang sudah sangat jelek ini, selain itu aku
bisa membeli segala keperluan sekolahku tanpa meminta pada ayah dan ibuku. Terlintas
dipikiranku sosok ayah dan ibu dan semua petuahnya, lantas akupun meyakinkan
hatiku untuk tidak mengambilnya.
Ku perhatikan satu-persatu
penumpang, mungkin saja uang ini adalah uang mereka. Tapi kenapa ada tepat di
dekat sepatuku, atau mugkin ini uang lelaki tampan yang ada di sampingku, tapi
kurasa bukan kepunyaanya. Dalam hatiku terbersit niat untuk menanyakannya pada
lelaki itu tapi menurutku dia akan mengaku itu adalah uangnya, meski itu bukan
kepunyaanya. Aku coba alihkan pikiranku pada hal lain. Jalanan sudah tampak
lengang sekarang. Air yang membanjiri jalan pun sudah mulai surut. Mobil pun
bisa melaju lebih cepat.
Semakin aku mencoba untuk tidak
memfokuskan pikiranku pada uang itu maka semakin aku memikirkan uang itu.
Bimbang sekali rasanya hatiku. Satu sisi aku ingin sekali memiliki uang itu.
Akan tetapi sisi lain hatiku meolak melakukan itu. Aku tahu itu bukanlah
sesuatu hal yang baik. Keinginanku semakin kuat aku rasakan, tetapi semakin
kuat pula aku mencoba untuk menolaknya. Semuanya tertuju pada niat di hatiku.
Apakah uang itu aku ambil saja ataukah tidak. Aku pun telah mengambil keputusan.
“Kiri!” aku berkata pada sopir, mobilpun
berhenti, aku turun dari mobil angkutan umum itu. Ku buka payungku yang
bercorak bunga-bunga karena hujan masih menerpa jalan.
Play online slots at the best casino - DrmCD
BalasHapusPlay 부천 출장마사지 a 화성 출장샵 demo or read a review. A free demo of the best slot machines. 영주 출장안마 Choose a demo 경상남도 출장마사지 for fun. We offer the best games and features 경주 출장마사지 you can