Jumat, 07 Februari 2014

Wanita di Ujung Mawar Merah


Bunga melati telah basah, daun kuping gajah juga telah basah. Bunga-bunga lain, yang juga tumbuh dengan eloknya di halaman rumah namun aku tak tau apa itu namanya, juga telah basah. Tinggal bunga mawar merah yang belum dijamah ayah untuk disiram. Dea menalikan tali sepatunya sambil terus memperhatikan ayahnya yang sedang menyiram tanaman-tanaman itu. Ayah tampak senang rupanya melakukan hal itu. Sama senangnya ketika setiap pagi Ia membuatkan sarapan untuk anak-anaknya.
Tangan kekarnya sudah tak nampak lagi seperti dahulu. Ia menoleh dan tersenyum manis pada Dea, lalu berkata: ”Ayoo cepat sayang nanti terlambat pergi ke sekolah, maaf ayah tidak bisa mengantarmu nak.” Dengan nafas yang panjang Ia pun menatapnya.
Dea mendekati sang ayah dan menatap mata lembutnya “Tidak apa yah, sudah ayah jangan terlalu kecapean yaa, istirahat saja yah”. Ayah pun menaruh tangannya yang sangat halus di kepala Dea sambil berkata: “kamu belajar yang sungguh-sungguh nak agar kelak kamu akan jadi anak yang berguna”.
“terus nanti aku bisa dapat kerja yang bagus ya yah? Terus jadi wanita karir? Kalo begitu aku tidak mau aaah”.
“Sudah kau hanya perlu sungguh-sungguh belajar dan bukan memikirkan yang lain-lain.”
            Ayah memperhatikan langkah anaknya sejenak ketika Dea melangkah pergi meninggalkan rumah. Dalam hati Dea tumbuh semangat untuk menuruti pesan ayah agar Ia belajar sungguh-sungguh.
            Pikiran Dea tiba-tiba beralih, jika Ia belajar sungguh-sungguh dan merasa sudah cukup pintar dan hebat bisa saja Ia menjadi wanita karir. Dea mengernyitkan dahinya dan berpikir lebih dalam lagi layaknya seorang filosofis. “Aaah aku tak mau, itu keputusan akhirku.” Dea menetapkan keputusan dalam hati.
            “Tapi kalo aku nggak belajar sungguh-sungguh gimana bisa aku buat ayah bangga.” Dea pun merenungkan hal tersebut dalam hatinya. Dea sedang mencari jati dirinya. Sejati-jatinya menjadi seorang wanita. Wanita yang tentu saja sebenar-benarnya wanita. Dengan sikap yang lembut dan nampak anggun mampu memukau dunia. Tapi apakah hanya itu sejatinya seorang wanita? Itu juga lah yang selalu dipertanyakan Dea dalam benaknya.
            Tak terasa perenungan Dea telah membawanya sampai juga di kelas tempatnya menimba ilmu dan mewujudkan pesan ayahnya. Kegiatan belajar-mengajar pun segera dilaksanakan. Dea mengeluarkan buku catatan dan alat tulisnya.
            Satu jam telah berlalu, pikiran Dea tidak juga tertuju pada pelajaran yang sedang dibahas akan tetapi Ia tenggelam dalam perenungannya. Diperhatikannya Ibu Julaeha yang sedang asyik menerangkan tentang penyimpangan sosial. Dea lebih tertarik lagi dengan perenungannya akan sosok Bu Julaeha. “Ia seorang wanita yang sangat lembut, dan sangat perhatian akan anak-anak didiknya, aku yakin Bu Julaeha pasti sangat perhatian dan memberikan kasih sayang yang lembut sama anak kandungnya.” pikir Dea dalam hatinya. “Rasanya aku ingin menjadi seperti Bu Julaeha kelak, eeeeh tapi menjadi seperti anak bu Julaeha pun aku ingin”. Dea merenung lebih dalam lagi “Bu Julaeha seorang guru, sudah pasti Ia seorang wanita karir, aaah mungkin Ia juga sama saja.” Dengan sedikit mengernyitkan dahi Ia pun mengakhiri perenungannya akan sosok Bu Julaeha.
            Bel sekolah pun telah berbunyi, waktu pulang telah tiba. Dea memperhatikan sekelilingnnya. Semua temannya nampak senang dan bergegas ingin segera kembali ke rumah, tapi berbeda dengan dirinya, Dea terlihat biasa saja menyambut waktu pulang, “apa gunanya cepat-cepat pulang ke rumah, tak ada yang spesial ko.” Pikir Dea.
Matahari masih menggantung di atas langit, terik sekali rasanya bagi Dea dan Rara yang berjalan beriringan menyusuri tanah gersang.
“Ra, boleh gak kalo aku maen ke rumah kamu?”
“Tentu saja boleh dong De, kebetulan hari ini ibuku sedang masak banyak sekali makanan.”
Waah..pasti sangat menyenangkan tuh bisa nyobain masakan ibu kamu Ra.”
            Dengan penuh semangat dua sekawan ini menyusuri jalan. Rara memanglah teman Dea yang terdekat. Dea selalu merasa nyaman mencurahkan segala isi hatinya kepada Rara. Mereka juga sangat senang sekali bertukar pikiran.
            Suasana rumah Rara tenang sekali. Teduh meski di sekitarnya gersang sekali, tak nampak tanaman di sekelilingnya. Dea sangat senang sekali tiap kali berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Dea merasa nyaman berada disana. Berbeda sekali dengan rumah Dea yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang indah menghiasi rumah, tetapi Dea tetap merasa rumahnya gersang se gersang hatinya.
“Bagaimana De, enakkan masakan ibu?” Tanya Ibu Tini (Ibu Rara) dengan penuh hangat.
“Iya bu, Dea suka sekali dengan masakan Ibu.” Ungkap Dea sambil mengunyah sedikit nasi yang masih tersisa di mulutnya.
“Kalau begitu jangan malu-malu untuk tambah makanannya ya sayang” ucap Bu Tini sambil tersenyum manis kepada Dea.
            Dea tak hentinya memperhatikan Bu Tini. Wajahnya penuh dengan kelembutan. Kehangatan selalu terpancar dari matanya. Tenang sekali rasanya jika Ia berbicara. Benar-benar kehangatan yang dipancarkan seorang wanita sejati. “Wanita sejati! Ya wanita sejati!” seru Dea dalam hatinya.
Sekeras apapun hatinya untuk tak ingin kembali ke rumahnya, Dea tetap harus pulang. Dea teringat akan sosok ayahnya yang harus mengurusi rumah sendirian. “Tak tega rasanya aku melihat ayah begitu.” Kata hati Dea berbisik.
Mata Dea mulai berkaca-kaca. Air mata titik tak tertahankan saat Ia melihat sosok yang selama ini Ia banggakan. Ayahnya tertidur di sofa sambil memegang kain lap. Dea tahu benar bahwa ayahnya begitu kelelahan karna harus mengurusi segala urusan rumah sendirian. Dea membawa kain lap itu dari tangan ayahnya. Dea membetulkan posisi tidur ayahnya tanpa sadar bahwa hal itu membangunkan ayahnya.
“Dea sudah pulang, ayo cepat ganti baju seragamnya terus langsung makan ya…” kata ayah Dea sembari  terbangun dari tidurnya.
“Iya Yah, maaf ya Dea jadi membangunkan ayah yang sedang tidur.”
“Tidak ko Nak, ayah sudah masak masakan kesukaan Dea.” Tangan ayah yang halus mengelus kepala Dea.
“Ooh.. ya kalo gitu Dea jadi semangat nih Yah buat makannya.”
“Dea ganti baju dulu yaa” ucap Dea sambil bergegas menuju kamar tidurnya.
            Langkah Dea terhenti sejenak ketika melihat pintu kamar orang tuanya terbuka. Dea mengintip melalui celah pintu yang terbuka dan didapatinya ibunya sedang tertidur lelap. Dea pun masuk ke dalam kamar, lalu Ia tatap wajah ibunya. “Wajahnya begitu cantik, keanggunan terpancar dari dalam dirinya.” Dea bergumam dalam hati.
Lho sedang apa De?” seketika ibunya membuka mata.
“eeh.. tidak Bu, Dea hanya kangen sama Ibu sudah dua hari kan ibu tidak pulang.” Jawab Dea dengan nada sedikit terkejut.
“Oh.. iya De, Ibu juga kangen, maaf ya kemarin Ibu harus menghadiri acara di kantor Ibu jadi Ibu tidak bisa pulang selama dua hari.” Ucap ibu Dea dengan mata yang kembali terpejam.
            Saat itu pula Dea segera bergegas ke kamarnya. Selepas berganti pakaian Dea pun mendengar ada suara riuh dari kejauhan. Dea segera menuju ke sumber suara itu. Didapatinya ayahnya sedang memunguti serpihan gelas yang berhamburan di lantai. Tak tega rasa hati Dea menyaksikan hal itu. Dengan segera Dea membantu ayahnya. Tangan ayahnya yang belum sembuh benar dari stroke nya Ia gapai dan diciuminya. Air mata titik dalam tangan ayahnya. Ia tak kuasa menerima kenyataan antara ayah dan ibunya. Semua tidak pada tempatnya, tidak seharusnya. Ayahnya tidak memiliki kekuatan lagi seperti selayaknya seorang kepala rumah tangga. Ibunya tidak memiliki kekuatan lagi sebagai ibu rumah tangga dimana Ia merupakan seorang wanita karir.
            Ibu Dea terbangun dari tidurnya dan segera menghampiri Dea dan ayahnya.
“Kamu ini begitu saja tidak becus.” Kata Ibu Dea dengan nada sinis.
“Maaf tadi aku sedang membereskan gelas-gelas kotor itu tapi aku tidak melihat kalau lantainya belum kering sehabis aku pel tadi.” Ucap ayah Dea dengan nada bersalah.
“Kamu ini memang tidak berguna! Lelaki tak berguna!” Ucap Ibu Dea sambil berlalu menuju kamar tidurnya kembali.
            Menoleh sedikitpun tidak, apalagi merasa iba terhadap suaminya. Dea terbengong-bengong menyaksikan itu semua. Dea geram melihat tingkah ibunya yang setiap hari semakin menjadi saja. Sementara ayahnya semakin hari semakin tidak mempunyai kekuatan untuk menegakkan dirinya sebagai kepala rumah tangga.
“Yah, apa semua wanita yang memiliki karir cemerlang seperti itu?” Tanya Dea sambil menatap wajah ayahnya yang dipenuhi kelembutan.
“Tidak De, ibumu hanya sedang kelelahan saja, Ia sedang banyak pekerjaan sekarang di kantornya. Sudah jangan terlalu dipikirkan toh kami baik-baik saja.” Jawab ayah Dea dengan suara yang lembut.
“Wanita itu memiliki dua sisi layaknya bunga mawar De, disatu sisi wanita itu sangat indah untuk dipandang seperti mawar merah yang begitu elok tetapi di sisi lain ketika akan digenggam bunga itu memiliki duri yang dapat melukai bila kita tak berhati-hati.”
            Malam semakin larut, namun Dea belum juga dapat memejamkan matanya untuk tidur. Terngiang selalu di telinganya apa yang ayahnya katakan. Wanita itu mereflesikan mawar merah, indah tetapi memiliki duri. Dea pun sadar Ia seorang wanita yang harus menentukan mau menjadi wanita seperti apakah dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar