Bunga melati
telah basah, daun kuping gajah juga telah basah. Bunga-bunga lain, yang juga
tumbuh dengan eloknya di halaman rumah namun aku tak tau apa itu namanya, juga
telah basah. Tinggal bunga mawar merah yang belum dijamah ayah untuk disiram.
Dea menalikan tali sepatunya sambil terus memperhatikan ayahnya yang sedang
menyiram tanaman-tanaman itu. Ayah tampak senang rupanya melakukan hal itu.
Sama senangnya ketika setiap pagi Ia membuatkan sarapan untuk anak-anaknya.
Tangan kekarnya
sudah tak nampak lagi seperti dahulu. Ia menoleh dan tersenyum manis pada Dea,
lalu berkata: ”Ayoo cepat sayang nanti terlambat pergi ke sekolah, maaf ayah
tidak bisa mengantarmu nak.” Dengan nafas yang panjang Ia pun menatapnya.
Dea mendekati sang
ayah dan menatap mata lembutnya “Tidak apa yah, sudah ayah jangan terlalu
kecapean yaa, istirahat saja yah”. Ayah pun menaruh tangannya yang sangat halus
di kepala Dea sambil berkata: “kamu belajar yang sungguh-sungguh nak agar kelak
kamu akan jadi anak yang berguna”.
“terus nanti aku
bisa dapat kerja yang bagus ya yah? Terus jadi wanita karir? Kalo begitu aku tidak mau aaah”.
“Sudah kau hanya
perlu sungguh-sungguh belajar dan bukan memikirkan yang lain-lain.”
Ayah memperhatikan langkah anaknya
sejenak ketika Dea melangkah pergi meninggalkan rumah. Dalam hati Dea tumbuh
semangat untuk menuruti pesan ayah agar Ia belajar sungguh-sungguh.
Pikiran Dea tiba-tiba beralih, jika
Ia belajar sungguh-sungguh dan merasa sudah cukup pintar dan hebat bisa saja Ia
menjadi wanita karir. Dea mengernyitkan dahinya dan berpikir lebih dalam lagi
layaknya seorang filosofis. “Aaah aku tak mau, itu keputusan akhirku.” Dea
menetapkan keputusan dalam hati.
“Tapi kalo aku nggak belajar
sungguh-sungguh gimana bisa aku buat
ayah bangga.” Dea pun merenungkan hal tersebut dalam hatinya. Dea sedang
mencari jati dirinya. Sejati-jatinya menjadi seorang wanita. Wanita yang tentu
saja sebenar-benarnya wanita. Dengan sikap yang lembut dan nampak anggun mampu
memukau dunia. Tapi apakah hanya itu sejatinya seorang wanita? Itu juga lah
yang selalu dipertanyakan Dea dalam benaknya.
Tak terasa perenungan Dea telah
membawanya sampai juga di kelas tempatnya menimba ilmu dan mewujudkan pesan
ayahnya. Kegiatan belajar-mengajar pun segera dilaksanakan. Dea mengeluarkan
buku catatan dan alat tulisnya.
Satu jam telah berlalu, pikiran Dea
tidak juga tertuju pada pelajaran yang sedang dibahas akan tetapi Ia tenggelam
dalam perenungannya. Diperhatikannya Ibu Julaeha yang sedang asyik menerangkan
tentang penyimpangan sosial. Dea lebih tertarik lagi dengan perenungannya akan
sosok Bu Julaeha. “Ia seorang wanita yang sangat lembut, dan sangat perhatian
akan anak-anak didiknya, aku yakin Bu Julaeha pasti sangat perhatian dan
memberikan kasih sayang yang lembut sama
anak kandungnya.” pikir Dea dalam hatinya. “Rasanya aku ingin menjadi seperti
Bu Julaeha kelak, eeeeh tapi menjadi
seperti anak bu Julaeha pun aku ingin”. Dea merenung lebih dalam lagi “Bu
Julaeha seorang guru, sudah pasti Ia seorang wanita karir, aaah mungkin Ia juga
sama saja.” Dengan sedikit mengernyitkan dahi Ia pun mengakhiri perenungannya
akan sosok Bu Julaeha.
Bel sekolah pun telah berbunyi,
waktu pulang telah tiba. Dea memperhatikan sekelilingnnya. Semua temannya
nampak senang dan bergegas ingin segera kembali ke rumah, tapi berbeda dengan
dirinya, Dea terlihat biasa saja menyambut waktu pulang, “apa gunanya
cepat-cepat pulang ke rumah, tak ada yang spesial ko.” Pikir Dea.
Matahari masih
menggantung di atas langit, terik sekali rasanya bagi Dea dan Rara yang
berjalan beriringan menyusuri tanah gersang.
“Ra, boleh gak kalo
aku maen ke rumah kamu?”
“Tentu saja boleh
dong De, kebetulan hari ini ibuku
sedang masak banyak sekali makanan.”
“Waah..pasti sangat menyenangkan tuh bisa nyobain masakan ibu kamu Ra.”
Dengan penuh semangat dua sekawan
ini menyusuri jalan. Rara memanglah teman Dea yang terdekat. Dea selalu merasa
nyaman mencurahkan segala isi hatinya kepada Rara. Mereka juga sangat senang
sekali bertukar pikiran.
Suasana rumah Rara tenang sekali.
Teduh meski di sekitarnya gersang sekali, tak nampak tanaman di sekelilingnya.
Dea sangat senang sekali tiap kali berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Dea
merasa nyaman berada disana. Berbeda sekali dengan rumah Dea yang dipenuhi
dengan tanaman-tanaman yang indah menghiasi rumah, tetapi Dea tetap merasa
rumahnya gersang se gersang hatinya.
“Bagaimana De,
enakkan masakan ibu?” Tanya Ibu Tini (Ibu Rara) dengan penuh hangat.
“Iya bu, Dea suka
sekali dengan masakan Ibu.” Ungkap Dea sambil mengunyah sedikit nasi yang masih
tersisa di mulutnya.
“Kalau begitu
jangan malu-malu untuk tambah makanannya ya sayang” ucap Bu Tini sambil
tersenyum manis kepada Dea.
Dea tak hentinya memperhatikan Bu
Tini. Wajahnya penuh dengan kelembutan. Kehangatan selalu terpancar dari
matanya. Tenang sekali rasanya jika Ia berbicara. Benar-benar kehangatan yang
dipancarkan seorang wanita sejati. “Wanita sejati! Ya wanita sejati!” seru Dea
dalam hatinya.
Sekeras apapun
hatinya untuk tak ingin kembali ke rumahnya, Dea tetap harus pulang. Dea
teringat akan sosok ayahnya yang harus mengurusi rumah sendirian. “Tak tega
rasanya aku melihat ayah begitu.” Kata hati Dea berbisik.
Mata Dea mulai berkaca-kaca.
Air mata titik tak tertahankan saat Ia melihat sosok yang selama ini Ia banggakan.
Ayahnya tertidur di sofa sambil memegang kain lap. Dea tahu benar bahwa ayahnya
begitu kelelahan karna harus mengurusi segala urusan rumah sendirian. Dea
membawa kain lap itu dari tangan ayahnya. Dea membetulkan posisi tidur ayahnya
tanpa sadar bahwa hal itu membangunkan ayahnya.
“Dea sudah
pulang, ayo cepat ganti baju seragamnya terus langsung makan ya…” kata ayah Dea
sembari terbangun dari tidurnya.
“Iya Yah, maaf ya
Dea jadi membangunkan ayah yang sedang tidur.”
“Tidak ko Nak,
ayah sudah masak masakan kesukaan Dea.” Tangan ayah yang halus mengelus kepala
Dea.
“Ooh.. ya kalo gitu
Dea jadi semangat nih Yah buat makannya.”
“Dea ganti baju
dulu yaa” ucap Dea sambil bergegas menuju kamar tidurnya.
Langkah Dea terhenti sejenak ketika
melihat pintu kamar orang tuanya terbuka. Dea mengintip melalui celah pintu
yang terbuka dan didapatinya ibunya sedang tertidur lelap. Dea pun masuk ke
dalam kamar, lalu Ia tatap wajah ibunya. “Wajahnya begitu cantik, keanggunan
terpancar dari dalam dirinya.” Dea bergumam dalam hati.
“Lho sedang apa De?” seketika ibunya
membuka mata.
“eeh.. tidak Bu,
Dea hanya kangen sama Ibu sudah dua
hari kan ibu tidak pulang.” Jawab Dea dengan nada sedikit terkejut.
“Oh.. iya De, Ibu
juga kangen, maaf ya kemarin Ibu harus menghadiri acara di kantor Ibu jadi Ibu
tidak bisa pulang selama dua hari.” Ucap ibu Dea dengan mata yang kembali
terpejam.
Saat itu pula Dea segera bergegas ke
kamarnya. Selepas berganti pakaian Dea pun mendengar ada suara riuh dari
kejauhan. Dea segera menuju ke sumber suara itu. Didapatinya ayahnya sedang
memunguti serpihan gelas yang berhamburan di lantai. Tak tega rasa hati Dea
menyaksikan hal itu. Dengan segera Dea membantu ayahnya. Tangan ayahnya yang
belum sembuh benar dari stroke nya Ia
gapai dan diciuminya. Air mata titik dalam tangan ayahnya. Ia tak kuasa
menerima kenyataan antara ayah dan ibunya. Semua tidak pada tempatnya, tidak
seharusnya. Ayahnya tidak memiliki kekuatan lagi seperti selayaknya seorang
kepala rumah tangga. Ibunya tidak memiliki kekuatan lagi sebagai ibu rumah
tangga dimana Ia merupakan seorang wanita karir.
Ibu Dea terbangun dari tidurnya dan
segera menghampiri Dea dan ayahnya.
“Kamu ini begitu
saja tidak becus.” Kata Ibu Dea dengan nada sinis.
“Maaf tadi aku
sedang membereskan gelas-gelas kotor itu tapi aku tidak melihat kalau lantainya
belum kering sehabis aku pel tadi.” Ucap ayah Dea dengan nada bersalah.
“Kamu ini memang
tidak berguna! Lelaki tak berguna!” Ucap Ibu Dea sambil berlalu menuju kamar
tidurnya kembali.
Menoleh sedikitpun tidak, apalagi
merasa iba terhadap suaminya. Dea terbengong-bengong menyaksikan itu semua. Dea
geram melihat tingkah ibunya yang setiap hari semakin menjadi saja. Sementara
ayahnya semakin hari semakin tidak mempunyai kekuatan untuk menegakkan dirinya
sebagai kepala rumah tangga.
“Yah, apa semua
wanita yang memiliki karir cemerlang seperti itu?” Tanya Dea sambil menatap
wajah ayahnya yang dipenuhi kelembutan.
“Tidak De, ibumu
hanya sedang kelelahan saja, Ia sedang banyak pekerjaan sekarang di kantornya.
Sudah jangan terlalu dipikirkan toh kami
baik-baik saja.” Jawab ayah Dea dengan suara yang lembut.
“Wanita itu
memiliki dua sisi layaknya bunga mawar De, disatu sisi wanita itu sangat indah
untuk dipandang seperti mawar merah yang begitu elok tetapi di sisi lain ketika
akan digenggam bunga itu memiliki duri yang dapat melukai bila kita tak berhati-hati.”
Malam semakin larut, namun Dea belum
juga dapat memejamkan matanya untuk tidur. Terngiang selalu di telinganya apa
yang ayahnya katakan. Wanita itu mereflesikan mawar merah, indah tetapi
memiliki duri. Dea pun sadar Ia seorang wanita yang harus menentukan mau
menjadi wanita seperti apakah dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar