Jumat, 07 Februari 2014

Lelaki di Senja Kali Ini



Piring-piring itu masih menumpuk. Terus saja aku bergumul dengan piring-piring ini. Aku bersihkan namun datang lagi dan lagi yang baru. Rasanya tidak ada habisnya piring-piring kotor ini. Keringat mengalir melewati dahiku.
Beginilah pekerjaan seorang pencuci piring di rumah makan yang baru saja resmi dibuka. Pegawainya belum terlalu banyak tetapi pengunjung cukup banyak memenuhi rumah makan ini. Aku harus bekerja sebagai pelayan merangkap sebagai pencuci piring.
“De, sekarang giliran aku yang cuci piringnya, kamu sana layani pengunjung.” Ucap Uci teman kerjaku.
            Aku segera bergegas ke ruang depan rumah makan tempat dimana pengunjung harus aku layani. Ternyata sangat ramai disini banyak sekali pengunjung yang ingin mencoba makanan dan minuman yang disajikan disini apalagi dengan harga promo yang tentu menarik hati mereka. Aku segera beraksi. Sibuk sekali hingga rambutku yang panjang terurai dari ikatannya. Saat aku membenahi rambutku, ku lihat ada seorang lelaki di pojok sana memperhatikanku sambil tersenyum ke arahku. Aku tidak membalas senyumannya karena aku takut senyum itu bukan untukku. Aku pun memalingkan pandanganku dan meyakinkan diri bahwa itu hanya perasaanku.
            Pelayan lain berkata padaku kalau lelaki di pojok itu uterus-menerus memandangiku. Hatiku semakin gelisah. Mengapa dia memperhatikanku terus? Lantas siapakah dia? Aku pun mulai merasa ketakutan. Lalu ku pandang dia, tatapan matanya yang tajam membuat aku tak mampu menatapnya terlalu lama. Ku rendahkan pandanganku.
            Aku bergegas memasuki ruang belakang rumah makan. Rasanya aku tidak mau kembali ke ruang depan Karena takut bertemu dengan lelaki itu. Aku menceritakan kejadian ini pada Uci.
“Ha..ha..ha.. Dea Dea gitu aja kamu takut, mungkin lelaki itu naksir sama kamu De.”
“Ya ampun Ci, ko kamu malah becanda sih
“Kamu takut ya De?”
“Iya Ci, aku takut sekali, apalagi tatapan matanya.”
Tiba-tiba terdengar suara Pak Teddy managerku memanggil namaku dan meminta aku mengantakan makanan ke meja nomor Sembilan. Katanya ini adalah permintaan si pengunjung ingin aku yang mengantarkan pesanannya.
            Dengan sigap aku segera mengambil pesanan itu. Aku lihat ke meja pojok tempat si lelaki itu, ternyata dia sudah tidak ada. Lega sekali perasaanku ini. Aku pun segera bergegas ke meja nomor Sembilan. Senyum ku layangkan pada para pengunjung. Tiba juga di meja nomor Sembilan. Aku hidangkan pesanan pengunjung itu di mejanya. Saat aku mempersilahkannya untuk menikmati tiba-tiba aku terhentak. Ternyata lelaki itu yang memesan. Begitu dekat aku memandangi wajahnya. Dia begitu tampan. Tatapan matanya begitu tajam.
“Eeehh.. silahkan dinikmati makanan dan minumannya.”
“Terimakasih, kenapa kamu buru-buru sekali?” suaranya begitu memabukkan. Begitu halus dan membuat hati tentram.
“Saya masih banyak pekerjaan, maaf.” Aku pun segera pergi dari hadapannya.
“Dea, ini tertinggal.” Saat aku menoleh Ia menggenggam saputangan yang sepertinya aku kenal.
“Oh iya, terimakasih.” Aku ambil segera sapu tangan itu. Sapu tangan itu seperti sapu tanganku yang dahulu hilang. Namun entah mengapa ada di meja itu. Jelas-jelas saputangan itu sudah bertahun-tahun hilang. Terdapat bordir dengan tulisan “My….”. Aku lupa tadinya aku mau menulis apa di saputangan itu hingga hanya kata “My..”.
            Tak terasa hari telah senja, pengunjungpun tak begitu padat seperti tadi pagi. Aku berniat untuk pulang. Saat aku melewati ruang depan rumah makan, aku melihat lelaki itu ternyata masih diam duduk disana. Aku menatapnya dan dia pun tersenyum.
“Jangan pergi De, jangan pergi lagi dariku.”
Aku hanya terdiam mendengar perkataan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar