Piring-piring
itu masih menumpuk. Terus saja aku bergumul dengan piring-piring ini. Aku
bersihkan namun datang lagi dan lagi yang baru. Rasanya tidak ada habisnya
piring-piring kotor ini. Keringat mengalir melewati dahiku.
Beginilah
pekerjaan seorang pencuci piring di rumah makan yang baru saja resmi dibuka.
Pegawainya belum terlalu banyak tetapi pengunjung cukup banyak memenuhi rumah
makan ini. Aku harus bekerja sebagai pelayan merangkap sebagai pencuci piring.
“De,
sekarang giliran aku yang cuci piringnya, kamu sana layani pengunjung.” Ucap
Uci teman kerjaku.
Aku segera bergegas ke ruang depan
rumah makan tempat dimana pengunjung harus aku layani. Ternyata sangat ramai
disini banyak sekali pengunjung yang ingin mencoba makanan dan minuman yang
disajikan disini apalagi dengan harga promo yang tentu menarik hati mereka. Aku
segera beraksi. Sibuk sekali hingga rambutku yang panjang terurai dari
ikatannya. Saat aku membenahi rambutku, ku lihat ada seorang lelaki di pojok
sana memperhatikanku sambil tersenyum ke arahku. Aku tidak membalas senyumannya
karena aku takut senyum itu bukan untukku. Aku pun memalingkan pandanganku dan
meyakinkan diri bahwa itu hanya perasaanku.
Pelayan lain berkata padaku kalau
lelaki di pojok itu uterus-menerus memandangiku. Hatiku semakin gelisah. Mengapa
dia memperhatikanku terus? Lantas siapakah dia? Aku pun mulai merasa ketakutan.
Lalu ku pandang dia, tatapan matanya yang tajam membuat aku tak mampu
menatapnya terlalu lama. Ku rendahkan pandanganku.
Aku bergegas memasuki ruang belakang
rumah makan. Rasanya aku tidak mau kembali ke ruang depan Karena takut bertemu
dengan lelaki itu. Aku menceritakan kejadian ini pada Uci.
“Ha..ha..ha..
Dea Dea gitu aja kamu takut, mungkin
lelaki itu naksir sama kamu De.”
“Ya
ampun Ci, ko kamu malah becanda sih”
“Kamu
takut ya De?”
“Iya
Ci, aku takut sekali, apalagi tatapan matanya.”
Tiba-tiba
terdengar suara Pak Teddy managerku
memanggil namaku dan meminta aku mengantakan makanan ke meja nomor Sembilan.
Katanya ini adalah permintaan si pengunjung ingin aku yang mengantarkan
pesanannya.
Dengan sigap aku segera mengambil
pesanan itu. Aku lihat ke meja pojok tempat si lelaki itu, ternyata dia sudah
tidak ada. Lega sekali perasaanku ini. Aku pun segera bergegas ke meja nomor
Sembilan. Senyum ku layangkan pada para pengunjung. Tiba juga di meja nomor
Sembilan. Aku hidangkan pesanan pengunjung itu di mejanya. Saat aku
mempersilahkannya untuk menikmati tiba-tiba aku terhentak. Ternyata lelaki itu
yang memesan. Begitu dekat aku memandangi wajahnya. Dia begitu tampan. Tatapan
matanya begitu tajam.
“Eeehh..
silahkan dinikmati makanan dan minumannya.”
“Terimakasih,
kenapa kamu buru-buru sekali?” suaranya begitu memabukkan. Begitu halus dan
membuat hati tentram.
“Saya
masih banyak pekerjaan, maaf.” Aku pun segera pergi dari hadapannya.
“Dea,
ini tertinggal.” Saat aku menoleh Ia menggenggam saputangan yang sepertinya aku
kenal.
“Oh
iya, terimakasih.” Aku ambil segera sapu tangan itu. Sapu tangan itu seperti
sapu tanganku yang dahulu hilang. Namun entah mengapa ada di meja itu.
Jelas-jelas saputangan itu sudah bertahun-tahun hilang. Terdapat bordir dengan
tulisan “My….”. Aku lupa tadinya aku mau menulis apa di saputangan itu hingga
hanya kata “My..”.
Tak terasa hari telah senja,
pengunjungpun tak begitu padat seperti tadi pagi. Aku berniat untuk pulang.
Saat aku melewati ruang depan rumah makan, aku melihat lelaki itu ternyata
masih diam duduk disana. Aku menatapnya dan dia pun tersenyum.
“Jangan
pergi De, jangan pergi lagi dariku.”
Aku
hanya terdiam mendengar perkataan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar