Diam.
Duduk di bangku kecilnya seperti biasa. Ia memperhatikan sekelilingnya tak
banyak bicara. Jika ada anak kecil menghampirinya barulah Ia akan dengan senng
hati meladeninya. Agar-agar dengan berbagai macam warna dan bentuk telah sejak
pagi tadi telah berada dalam tanggungan
dagangannya. Mbah Karso setia menunggu anak-anak datang padanya dan meminta
agar-agar itu.
Agar-agar
menjadi melekat dengan diri Mbah Karso. Ia membuat agar-agar itu beraneka macam
bentuk serta warna karena Ia tahu benar anak-anak sangat suka sekali dengan hal
itu. Titi juga sangat senang sekali dengan segala sesuatu yang beraneka macam
bentuk dan warna. Boneka-boneka Titi buatan ayahnya beraneka macam bentuk dan
warna, kini boneka-boneka itu masih tetap berada di kamar Titi meskipun Ia
telah tiada.
Titi
pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya menuju kota untuk menimba ilmu.
Setelah tinggal di kota selama beberapa tahun Titi akhirnya memutuskan untuk
tidak kembali ke kampung halamannya karena Ia telah mendapatkan pekerjaan yang
menjanjikan di kota. Selain itu Titi telah menemukan pasangan hidupnya di sana.
Semakin lupa lah Titi akan kedua orang tuanya.
“Si Titi mah budak doraka, ari geus senang mah ninggalkeun indung jeung bapa.”
Obrolan
tetangga yang selalu memerahkan telinga Mbah Karso. Akan tetapi Mbah Karso
menyikapinya dengan sabar dan tabah. Ia yakin benar anaknya tidak bermaksud
seperti itu.
Mbah
Karso dan Mbah Darsem merupakan perantau dari tanah Jawa dan menetap di tanah
Pasundan. Hidup mereka selalu sederhana. Mereka mendidik anak semata wayang
mereka Hayati untuk menjadi anak yang hebat. Hayati memanglah anak yang cerdas
dan pintar, ia selalu menjadi juara kelas. Kepergiannya ke kota memang sangat
di dukung kedua orang tuanya, terutama oleh Mbah Karso yang berharap kehidupan
putrinya akan lebih baik. Harapan Mbah Karso memang terpenuhi, Hayati telah
menjadi seorang dokter sekarang, suaminya juga seorang dokter. Tentu kehidupan
Hayati sangat lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Namun Mbah Karso harus
kehilangan putrid kecilnya yang selalu Ia manjakan. Ia didik Titi dengan penuh
kasih sayang agar menjadi manusia yang berguna. Ia kerja membanting tulang
hanya untuk pendidikan anaknya bisa terpenuhi. Titi memang kuliah kedokteran
dari beasiswa dan itu meringankan beban Mbah Karso. Mbah Karso sangat bangga
akan anaknya. Tak peduli orang berkata apa.
Dapat
dihitung dengan jari tangan berapa kali Titi datang ke rumah orang tuanya. Ia
datang ketika Ia akan wisuda lalu datang kembali ketika Ia akan menikah. Tak
pernah Ia datang lagi menjenguk orang tuanya. Mbah Karso dan Mbah Darsem belum
pernah melihat sosok cucu-cucunya. Kabarnya anak-anak Titi sekarang sudah
besar. Setiap kali teringat Titi air mata Mbah Darsem mengalir tiada henti.
Hingga Ia pun jatuh sakit akibat menahan rindu yang mendalam pada sang putrid
tercinta.
Mbah
Darsem akhirnya kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa. Sampai saat akan
dimasukkan ke liang lahat, putrinya belum juga datang. Semua orang mencibir
Titi. Namun Mbah Karso hanya berkilah bahwa Titi sedang di perjalanan menuju
kemari.
Sepeninggal
Mbah Darsem, hidup Mbah Darso semakin sunyi layaknya beatuan di dasar sungai.
Keramaian adalah sesuatu yang sangat Ia nantikan. Ia yakin Titi akan datang
bersama cucu-cucunya dan hidup Mbah Karso akan lebih berwarna. Namun penantian
tinggallah penantian. Mbah Karso teus menunggu datangnya saat itu. Ia rindu
akan sosok putrid kecilnya dahulu. Ia timang-timang putri kecilnya, Ia ciumi,
Ia manjakan, Ia rawat dengan baik bahkan satu nyamuk pun tak mungkin hinggap di
badan Titi sebab Mbah Karso menjaganya dengan sangat baik.
Kasih
sayang orang tua memanglah sepanjang hayat, Kasih sayang Mbah karso pada Titi
tidak akan pernah hilang selama hayatnya. Kesepian hidup Mbah Karso membuatnya
ingin selalu berada di dekat anak-anak.
“Bocah ikuh pelipur lara, pelipur hati,
pelipur sunyi.” Kata Mbah Karso.
Menjadi pedagang agar-agar memang
menjadi pilihannya. Anak-anak senang akan Mbah Karso, sikapnya yang lembut dan
penyayang membuat anak-anak nyaman berada di sampingnya. Air muka Mbah Karso
terlihat lebih segar jika di dekat anak-anak. Ia selalu berkata bahwa Titi juga
dahulu begitu riang dan centil layaknya anak-anak ini.
Diam. Ia masih tetap terdiam duduk
di bangku kecilnya di ujung jalan dekat SD. Agar-agar dagangannya telah habis
semua. Meski uang yang Ia dapat dan agar-agar yang habis tidak sebanding tapi
Mbah Karso tetap bahagia karena bisa dekat dengan anak-anak dan menunggu
keramaian tiba. Ya.. itulah Ia si
penunggu keramaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar