Jumat, 07 Februari 2014

Si Penunggu Keramaian



Diam. Duduk di bangku kecilnya seperti biasa. Ia memperhatikan sekelilingnya tak banyak bicara. Jika ada anak kecil menghampirinya barulah Ia akan dengan senng hati meladeninya. Agar-agar dengan berbagai macam warna dan bentuk telah sejak pagi tadi telah berada dalam tanggungan dagangannya. Mbah Karso setia menunggu anak-anak datang padanya dan meminta agar-agar itu.
Agar-agar menjadi melekat dengan diri Mbah Karso. Ia membuat agar-agar itu beraneka macam bentuk serta warna karena Ia tahu benar anak-anak sangat suka sekali dengan hal itu. Titi juga sangat senang sekali dengan segala sesuatu yang beraneka macam bentuk dan warna. Boneka-boneka Titi buatan ayahnya beraneka macam bentuk dan warna, kini boneka-boneka itu masih tetap berada di kamar Titi meskipun Ia telah tiada.
Titi pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya menuju kota untuk menimba ilmu. Setelah tinggal di kota selama beberapa tahun Titi akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke kampung halamannya karena Ia telah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan di kota. Selain itu Titi telah menemukan pasangan hidupnya di sana. Semakin lupa lah Titi akan kedua orang tuanya.
Si Titi mah budak doraka, ari geus senang mah ninggalkeun indung jeung bapa.
Obrolan tetangga yang selalu memerahkan telinga Mbah Karso. Akan tetapi Mbah Karso menyikapinya dengan sabar dan tabah. Ia yakin benar anaknya tidak bermaksud seperti itu.
Mbah Karso dan Mbah Darsem merupakan perantau dari tanah Jawa dan menetap di tanah Pasundan. Hidup mereka selalu sederhana. Mereka mendidik anak semata wayang mereka Hayati untuk menjadi anak yang hebat. Hayati memanglah anak yang cerdas dan pintar, ia selalu menjadi juara kelas. Kepergiannya ke kota memang sangat di dukung kedua orang tuanya, terutama oleh Mbah Karso yang berharap kehidupan putrinya akan lebih baik. Harapan Mbah Karso memang terpenuhi, Hayati telah menjadi seorang dokter sekarang, suaminya juga seorang dokter. Tentu kehidupan Hayati sangat lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Namun Mbah Karso harus kehilangan putrid kecilnya yang selalu Ia manjakan. Ia didik Titi dengan penuh kasih sayang agar menjadi manusia yang berguna. Ia kerja membanting tulang hanya untuk pendidikan anaknya bisa terpenuhi. Titi memang kuliah kedokteran dari beasiswa dan itu meringankan beban Mbah Karso. Mbah Karso sangat bangga akan anaknya. Tak peduli orang berkata apa.
Dapat dihitung dengan jari tangan berapa kali Titi datang ke rumah orang tuanya. Ia datang ketika Ia akan wisuda lalu datang kembali ketika Ia akan menikah. Tak pernah Ia datang lagi menjenguk orang tuanya. Mbah Karso dan Mbah Darsem belum pernah melihat sosok cucu-cucunya. Kabarnya anak-anak Titi sekarang sudah besar. Setiap kali teringat Titi air mata Mbah Darsem mengalir tiada henti. Hingga Ia pun jatuh sakit akibat menahan rindu yang mendalam pada sang putrid tercinta.
Mbah Darsem akhirnya kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa. Sampai saat akan dimasukkan ke liang lahat, putrinya belum juga datang. Semua orang mencibir Titi. Namun Mbah Karso hanya berkilah bahwa Titi sedang di perjalanan menuju kemari.
Sepeninggal Mbah Darsem, hidup Mbah Darso semakin sunyi layaknya beatuan di dasar sungai. Keramaian adalah sesuatu yang sangat Ia nantikan. Ia yakin Titi akan datang bersama cucu-cucunya dan hidup Mbah Karso akan lebih berwarna. Namun penantian tinggallah penantian. Mbah Karso teus menunggu datangnya saat itu. Ia rindu akan sosok putrid kecilnya dahulu. Ia timang-timang putri kecilnya, Ia ciumi, Ia manjakan, Ia rawat dengan baik bahkan satu nyamuk pun tak mungkin hinggap di badan Titi sebab Mbah Karso menjaganya dengan sangat baik.
Kasih sayang orang tua memanglah sepanjang hayat, Kasih sayang Mbah karso pada Titi tidak akan pernah hilang selama hayatnya. Kesepian hidup Mbah Karso membuatnya ingin selalu berada di dekat anak-anak.
Bocah ikuh pelipur lara, pelipur hati, pelipur sunyi.” Kata Mbah Karso.
            Menjadi pedagang agar-agar memang menjadi pilihannya. Anak-anak senang akan Mbah Karso, sikapnya yang lembut dan penyayang membuat anak-anak nyaman berada di sampingnya. Air muka Mbah Karso terlihat lebih segar jika di dekat anak-anak. Ia selalu berkata bahwa Titi juga dahulu begitu riang dan centil layaknya anak-anak ini.
            Diam. Ia masih tetap terdiam duduk di bangku kecilnya di ujung jalan dekat SD. Agar-agar dagangannya telah habis semua. Meski uang yang Ia dapat dan agar-agar yang habis tidak sebanding tapi Mbah Karso tetap bahagia karena bisa dekat dengan anak-anak dan menunggu keramaian tiba. Ya.. itulah Ia si penunggu keramaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar