Andaikan
Selang-selang
masih tersambung ke setiap lubang yang dibuat di tubuhnya. Matanya masih
tertutup dan belum terbuka untu waktu yang lama. Aku membayangkan saat Ia
membuka mata maka hariku akan terang seterang jiwa yang mendapat cahaya. Ia
selalu membimbing langkahku namun aku tak pernah menggubrisnya, dan kini
langkah kakinya terbujur kaku di atas dipan.
Dari
kaca jendela kamar rumah sakit ini aku memandangnya. Harap-harap cemas dalam
hatiku. Entah aku tak tahu harus bagaimana karena yang ku tahu aku hanya
berdo’a pada Tuhan agar memiliki waktu yang lebih lama lagi dengannya. Sekedar
untuk menebus waktuku yang telah aku sia-siakan tanpanya. Ia selalu memintaku
untuk sekedar mendengar cerita-cerita pendek yang Ia buat sendiri, atau sekedar
membahas pertandingan sepakbola tadi malam, tapi hatiku rasanya begitu tak
bersemangat untuk mendengarkan ocehan-ocehannya. Aku lebih memilih untuk
berkumpul bersama teman-teman.
Banyak
sekali waktu yang aku sia-siakan tanpanya. Ia selalu memberikan nasihat-nasihat
yanag akau anggap sangat klasik dan klise, dan aku lebih memilih mendengarkan
musik rock kencang-kencang di
kamarku. Ia tidak pernah marah padaku. Hanya jika Ia sudah geram padaku Ia akan
diam tidak menegurku. Aku tidak pernah ambil pusing akan kediaman ayahku.
Disaat
aku gagal menjadi seperti apa yang Ia inginkan, Ia hanya tersenyum dan berkata
“Mungkin minat dan bakatmu bukan disitu Nak, ayo lanjutkan mimpi-mimpimu Ayah
hanya bisa mendukung dan selalu mendo’akanmu.” Sayup- sayup perkataan itu
timbul di pikiranku namun terpecah saat aku mendengar orang-orang membacakan
surat Yaasin untuk ayahku. Mereka
mendo’akan agar Ayah mendapatkan keputusan yang baik, jika ayah harus pergi
untuk selama-lamanya maka pergilah dengan tenang. Jangan buat ayah seperti saat
ini hidup tidak matipun tidak. Hatiku berteriak pada Tuhan seakan ingin meminta
ayahku untuk dikembalikan seperti sedia kala. Disaat Ia selalu menceramahiku
dan mengajakku untuk membahas hal-hal yang tidak penting bagiku.
Aku
memandang mata itu. Kini sinarnya tak terlihat lagi tertutup kelopak mata yang
sudah selama empat bulan menutupnya. Tergerak hatiku untuk mengguncang-guncang
tubuh ayah, siapa tau ayah akan terbangun. Sempat aku berpikir mungkin ayah
terlalu lelah menghadapi sikapku hingga Ia lebih memilih untuk tertidur lama di
sana. Tangan kekar ayah kini dihinggapi selang-selang panjang itu. Wajahnya
kini tak karuan terhalang selang-selang itu.
Aku
lupa kapan terakhir kali aku lihat senyuman di wajah ayah karena untuk
memperhatikan wajahnya pun aku tak sempat. Setiap kali Ia akan mulai bicara aku
segera bergegas pergi ke kamarku. Pernah suatu waktu ayah bertanya akan
kesalahan apa yang telah Ia perbuat hingga aku terlihat begitu membencinya. Aku
tidak menjawabnya dan hanay memandang sinis padanya. Matanya berkaca-kaca
seperti awan mendung yang akan segera meneteskan hujan.
Pagi
selama empat bulan ini tidak ada sarapan kupat
sayur yang biasanya ayah beli untukku. Tidak ada lagi SMS minta diantar ke rumah temannya untuk bermain catur yang selalu
aku anggap sangat mengganggu. Tidak ada lagi tegurnya bila aku pulang larut
malam atau bahkan tak pulang ke rumah. Tidak ada obrolan membosankan tentang
sepakbola. Tidak ada bau balsem yang selalu menggangguku jika di dekatnya.
Tidak ada lagi tawanya. Tidak ada lagi nasihat-nasihatnya. Tidak ada lagi
do’anya untukku.
Meringis
hatiku jika mengingat semua itu. Penyesalan datang menggerogoti ego dan hati
kerasku. Aku menyesal telah melewatkan waktu-waktu berharga dengannya. Aku
begitu merindukannya saat ini. Andaikan saat itu dapat terulang kembali, ya.. aku berharap. Andaikan ayah tak
pernah dalam keadaan seperti ini mungkin aku tidak akan pernah menyadari betapa
berharganya ayah bagiku. Aku kini hanya berharap ayah mendapatkan keputusan
yang terbaik dengan segera. Tak tega rasanya melihat keadaan ayah seperti ini.
Aku haturkan do’a-do’aku pada Tuhan agar menyampaikan rasa sayangku yang
teramat dalam untuk ayahku. Tangispun terdengar menyeruak ke seluruh penjuru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar