Jumat, 07 Februari 2014

Cerpen: Andaikan karya SarahFR


Andaikan
Selang-selang masih tersambung ke setiap lubang yang dibuat di tubuhnya. Matanya masih tertutup dan belum terbuka untu waktu yang lama. Aku membayangkan saat Ia membuka mata maka hariku akan terang seterang jiwa yang mendapat cahaya. Ia selalu membimbing langkahku namun aku tak pernah menggubrisnya, dan kini langkah kakinya terbujur kaku di atas dipan.
Dari kaca jendela kamar rumah sakit ini aku memandangnya. Harap-harap cemas dalam hatiku. Entah aku tak tahu harus bagaimana karena yang ku tahu aku hanya berdo’a pada Tuhan agar memiliki waktu yang lebih lama lagi dengannya. Sekedar untuk menebus waktuku yang telah aku sia-siakan tanpanya. Ia selalu memintaku untuk sekedar mendengar cerita-cerita pendek yang Ia buat sendiri, atau sekedar membahas pertandingan sepakbola tadi malam, tapi hatiku rasanya begitu tak bersemangat untuk mendengarkan ocehan-ocehannya. Aku lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman.
Banyak sekali waktu yang aku sia-siakan tanpanya. Ia selalu memberikan nasihat-nasihat yanag akau anggap sangat klasik dan klise, dan aku lebih memilih mendengarkan musik rock kencang-kencang di kamarku. Ia tidak pernah marah padaku. Hanya jika Ia sudah geram padaku Ia akan diam tidak menegurku. Aku tidak pernah ambil pusing akan kediaman ayahku.
Disaat aku gagal menjadi seperti apa yang Ia inginkan, Ia hanya tersenyum dan berkata “Mungkin minat dan bakatmu bukan disitu Nak, ayo lanjutkan mimpi-mimpimu Ayah hanya bisa mendukung dan selalu mendo’akanmu.” Sayup- sayup perkataan itu timbul di pikiranku namun terpecah saat aku mendengar orang-orang membacakan surat Yaasin untuk ayahku. Mereka mendo’akan agar Ayah mendapatkan keputusan yang baik, jika ayah harus pergi untuk selama-lamanya maka pergilah dengan tenang. Jangan buat ayah seperti saat ini hidup tidak matipun tidak. Hatiku berteriak pada Tuhan seakan ingin meminta ayahku untuk dikembalikan seperti sedia kala. Disaat Ia selalu menceramahiku dan mengajakku untuk membahas hal-hal yang tidak penting bagiku.

Aku memandang mata itu. Kini sinarnya tak terlihat lagi tertutup kelopak mata yang sudah selama empat bulan menutupnya. Tergerak hatiku untuk mengguncang-guncang tubuh ayah, siapa tau ayah akan terbangun. Sempat aku berpikir mungkin ayah terlalu lelah menghadapi sikapku hingga Ia lebih memilih untuk tertidur lama di sana. Tangan kekar ayah kini dihinggapi selang-selang panjang itu. Wajahnya kini tak karuan terhalang selang-selang itu.
Aku lupa kapan terakhir kali aku lihat senyuman di wajah ayah karena untuk memperhatikan wajahnya pun aku tak sempat. Setiap kali Ia akan mulai bicara aku segera bergegas pergi ke kamarku. Pernah suatu waktu ayah bertanya akan kesalahan apa yang telah Ia perbuat hingga aku terlihat begitu membencinya. Aku tidak menjawabnya dan hanay memandang sinis padanya. Matanya berkaca-kaca seperti awan mendung yang akan segera meneteskan hujan.
Pagi selama empat bulan ini tidak ada sarapan kupat sayur yang biasanya ayah beli untukku. Tidak ada lagi SMS minta diantar ke rumah temannya untuk bermain catur yang selalu aku anggap sangat mengganggu. Tidak ada lagi tegurnya bila aku pulang larut malam atau bahkan tak pulang ke rumah. Tidak ada obrolan membosankan tentang sepakbola. Tidak ada bau balsem yang selalu menggangguku jika di dekatnya. Tidak ada lagi tawanya. Tidak ada lagi nasihat-nasihatnya. Tidak ada lagi do’anya untukku.
Meringis hatiku jika mengingat semua itu. Penyesalan datang menggerogoti ego dan hati kerasku. Aku menyesal telah melewatkan waktu-waktu berharga dengannya. Aku begitu merindukannya saat ini. Andaikan saat itu dapat terulang kembali, ya.. aku berharap. Andaikan ayah tak pernah dalam keadaan seperti ini mungkin aku tidak akan pernah menyadari betapa berharganya ayah bagiku. Aku kini hanya berharap ayah mendapatkan keputusan yang terbaik dengan segera. Tak tega rasanya melihat keadaan ayah seperti ini. Aku haturkan do’a-do’aku pada Tuhan agar menyampaikan rasa sayangku yang teramat dalam untuk ayahku. Tangispun terdengar menyeruak ke seluruh penjuru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar