Di senja kala, saat burung-burung
pulang ke sarangnya dan beradu kasih bersama disana, Sukimin dan Sutinah
berjalan beriringan melewati jalan setapak diantara luasnya padi yang
menguning. Sukimin genggam erat tangan Sutinah seakan tak mau kehilangan
Sutinah. Dengan wajah tertunduk Sutinah mengikuti langkah suaminya itu. Mereka
pasangan yang serasi dengan dibalut keanggunan akan kesederhanaan. Sukimin dan
Sutinah belum lama menikah, masih seumur jagung pernikahannya.
Setibanya di rumah yang lebih terlihat
seperti gubuk, Lastri, anak mereka, berlari menuju ibu bapaknya, berharap
dibawakan oleh-oleh dari tempat mereka bekerja. Namun saying sepertinya
harapannya itu kosong, tapi itu tak membuatnya kecewa karena tidak ada hal yang
paling membuatnya bahagia selain bisa dipeluk oleh bapaknya kemudian diciumi
ibunya. Sukimin dan Sutinah lantas menghilang ke dalam kamar.
‘Mas tau sendiri kan aku ndak pernah
mas ngelakuin itu, kepikir pun ndak mas, ndak sama sekali’ pungkas Sutinah
dengan nada sedikit lirih, ‘Iyo Nah, tapi Mas gak tahan sama omongan
orang-orang itu lho, yang bilang kamu beginilah kamu begitulah’ ucap Sukimin
dengan tatapan tajam pada Sutinah. ‘Jadi Mas ndak percaya karo aku? Mas Kimin
lebih percaya sama omongan mereka?’ dengan air mata yang sedikit menetes
Sutinah bertanya, ‘Bukannya gitu Nah, aku ndak berpikiran gitu toh, aku cumin
mau kamu tenangin sama yakinin hatiku’ Sukimin menyentuh lembut pipi istrinya
untuk menghapus air matanya. Mereka terdiam, mata mereka saling bertemu seakan mengisyaratkan
sesuatu, Sukimin mengecup kening istrinya.
Mereka masih saling mendekap hangat
dibawah sinar rembulan, dengan menghadap ke alam lepas lewat sekotak jendela.
Nafas yang berdekatan mulai mengisyaratkan kata-kata, ‘Mas percaya kan sama
aku?’ Tanya Sutinah dengan penuh rasa harap, ‘Iya Nah, Mas lebih percaya sama
istri mas lah dibanding sama omongan orang lain’ dengan tatapan lembut Sukimin
meyakinkan istrinya, Sutinah pun menyenderkan beban dikepalanya dalam dekapan
suaminya.
‘Aku ndak abis pikir Mas, kenapa si
kompeni itu koyo gitu toh karo aku’ ucap Sutinah dibawah selimut, ‘Laah kamu
nih gimana sih Nah, kamu nih ayu tenan Nah, banyak yang menggilaimu ya wajar
toh kalo dia kesengsem karo koe’. ‘Tapi masih banyak kan mas yang lebih ayu
dibanding aku’, ‘kamu nih punya sesuatu yang mampu buat dia jadi terpesona sama
kamu Nah, sama kaya waktu dulu pertama mas ketemu kamu Nah waktu di
pertunjukkan wayang’ terang Sukimin sambil memandangi wajah istrinya. Sutinah
sedikit merona merah dipipinya yang tirus itu saat Ia mengenang pertama kali
bertemu dengan Sukimin dan mereka saling jatuh hati.
Mata sutinah yang lebar dan hitam pekat
bola matanya bersanding dengan lekuk bibirnya yang tipis dan kecoklatan
kulitnya semakin membuat Sutinah menampakkan keindahan pribumi Jawa dan tak
jemu untuk dipandangi. Sukimin tahu istrinya begitu cantik dalam balutan
keanggunan dan kesederhanaan, bukan tak jarang timbul dalam benaknya rasa
was-was kalau-kalau ada yang berniat merebut Sutinah darinya. Namun perasaan
itu dapat ditepis olehnya, karena Iya yakin Sutinah dipenuhi dengan rasa
kesetiaan untuknya.
Sutinah dan Sukimin hidup sederhana di
sudut kota K, kota yang sedang dalam masa pertumbuhan sebab industri sedang
berkembang pesat disana. Mereka bekerja untuk menghidupi kehidupannya dari
suatu pabrik di kota tersebut. Dan disitulah api-api prahara mulai menyala.
Seorang Belanda pengurus pabrik tersebut jatuh hati pada kelembutan,
keanggunan, dan keindahan Sutinah. Ia sangat menaruh harapan bahwa Sutinah akan
meninggalkan Sukimin dan memilihnya. Ia terus menerus mendekati Sutinah selalu
memberi perhatian lebih padanya. Sungguh begitu besar usaha yang diserangkan
oleh si kompeni pada Sutinah. Puncaknya adalah ketika Sutinah dan Sukimin
mendapat bantuan uang untuk biaya Lastri yang saat itu sakit keras. Si kompeni
membantu mereka akan tetapi tak disangka Ia malah meminta Sutinah sebagai
bayarannya, tak menjadi nyai nya pun taka pa asal Sutinah mau tidur semalam
saja dengannya. Tentu saja emosi Sukimin memuncak. Ia tak habis piker kenapa si
Kompeni tak puas juga telah merampas negerinya dan kini menginginkan hidupnya,
yakni istrinya.
Omongan-omongan miringpun menyeruak di
telinga, semakin hari gaungnya semakin memekakan. Akan tetapi dengan penuh
keanggunan Sutinah tetap berada pada pendiriannya. Ia tahu benar hatinya untuk
siapa, cinta kasihnya untuk siapa, tak mungkin Ia rela tukar hanya karena
harta. Si kompeni pun pernah mengiming-imingi Sutinah dengan segala rayuan akan
harta dan kehidupan yang menjanjikan kebahagiaan, akan tetapi dengan jiwa yang
anggun Sutinah berkata ‘bagi saya tidak ada yang lebih berharga dan
membahagiakan selain bersama dengan orang yang saya cintai dan kasihi, yaitu
bersama suami dan anak saya’.
Sang kompeni tak pernah putus asa,
bahkan tak jarang ia melakukan cara-cara keji seperti meneror dan mengancam
Sukimin maupun Sutinah. Sang kompeni tidak pernah kehilangan akal, Ia selalu
mencari cara. Si kompeni semakin hari semakin menjadi, Ia semakin ditolak malah
semakin terbit penasaran dalam hatinya. Hingga tiba pada hari itu Sukimin
memergoki Sutinah sedang berduaan dengan si kompeni. Entah sedang apa mereka
rasanya pun Sukimin tak ingin tahu. Mereka bertengkar hebat. Sukimin merasa
telah dihianati oleh Sutinah, sementara Sutinah berusaha menjelaskan dan meyakinkan
Sukimin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saying Sukimin tak mau
mendengarkannya dan malah berkata ‘pergi saja koe karo si kompeni ojo
inget-inget aku karo Lastri lagi’,
Sutinah tahu betul hati Sukimin sedang terluka, tapi hatinya tak kalah luka
sebab suami yang dicintainya tak kunjung percaya padanya. Si kompeni tersenyum
puas.
Namun akhirnya panasnya prahara
diantara mereka dapat dipadamkan dengan besarnya kasih saying keduanya. Mereka
pun kembali menunjukkan kemesraanya tak terlihat sedikitpun bahwa mereka sedang
miliki prahara dalam bahtera rumahtangganya. Bagaikan sepasang kekasih mereka
terus bergandengan menyusuri jalan pulang di senja kala itu.
‘Mas, aku ndak mau kejadian tadi sampai
terulang lagi’ ucap Sutinah sambil berada dalam dekapan dada suaminya, ‘Iya
Nah’ terang Sukimin sambil mengelus-elus kepala Sutinah, ‘Kulo tresno karo koe
mas’, ‘Iya Nah mas juga, mas percaya kamu Nah’. Semakin erat dekapan mereka
dibawah cahaya rembulan yang kini makin pekat sinarnya dan menenggelamkan mereka
berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar