Jumat, 07 Februari 2014

Tak Goyah


Di senja kala, saat burung-burung pulang ke sarangnya dan beradu kasih bersama disana, Sukimin dan Sutinah berjalan beriringan melewati jalan setapak diantara luasnya padi yang menguning. Sukimin genggam erat tangan Sutinah seakan tak mau kehilangan Sutinah. Dengan wajah tertunduk Sutinah mengikuti langkah suaminya itu. Mereka pasangan yang serasi dengan dibalut keanggunan akan kesederhanaan. Sukimin dan Sutinah belum lama menikah, masih seumur jagung pernikahannya.
Setibanya di rumah yang lebih terlihat seperti gubuk, Lastri, anak mereka, berlari menuju ibu bapaknya, berharap dibawakan oleh-oleh dari tempat mereka bekerja. Namun saying sepertinya harapannya itu kosong, tapi itu tak membuatnya kecewa karena tidak ada hal yang paling membuatnya bahagia selain bisa dipeluk oleh bapaknya kemudian diciumi ibunya. Sukimin dan Sutinah lantas menghilang ke dalam kamar.
‘Mas tau sendiri kan aku ndak pernah mas ngelakuin itu, kepikir pun ndak mas, ndak sama sekali’ pungkas Sutinah dengan nada sedikit lirih, ‘Iyo Nah, tapi Mas gak tahan sama omongan orang-orang itu lho, yang bilang kamu beginilah kamu begitulah’ ucap Sukimin dengan tatapan tajam pada Sutinah. ‘Jadi Mas ndak percaya karo aku? Mas Kimin lebih percaya sama omongan mereka?’ dengan air mata yang sedikit menetes Sutinah bertanya, ‘Bukannya gitu Nah, aku ndak berpikiran gitu toh, aku cumin mau kamu tenangin sama yakinin hatiku’ Sukimin menyentuh lembut pipi istrinya untuk menghapus air matanya. Mereka terdiam, mata mereka saling bertemu seakan mengisyaratkan sesuatu, Sukimin mengecup kening istrinya.
Mereka masih saling mendekap hangat dibawah sinar rembulan, dengan menghadap ke alam lepas lewat sekotak jendela. Nafas yang berdekatan mulai mengisyaratkan kata-kata, ‘Mas percaya kan sama aku?’ Tanya Sutinah dengan penuh rasa harap, ‘Iya Nah, Mas lebih percaya sama istri mas lah dibanding sama omongan orang lain’ dengan tatapan lembut Sukimin meyakinkan istrinya, Sutinah pun menyenderkan beban dikepalanya dalam dekapan suaminya.
‘Aku ndak abis pikir Mas, kenapa si kompeni itu koyo gitu toh karo aku’ ucap Sutinah dibawah selimut, ‘Laah kamu nih gimana sih Nah, kamu nih ayu tenan Nah, banyak yang menggilaimu ya wajar toh kalo dia kesengsem karo koe’. ‘Tapi masih banyak kan mas yang lebih ayu dibanding aku’, ‘kamu nih punya sesuatu yang mampu buat dia jadi terpesona sama kamu Nah, sama kaya waktu dulu pertama mas ketemu kamu Nah waktu di pertunjukkan wayang’ terang Sukimin sambil memandangi wajah istrinya. Sutinah sedikit merona merah dipipinya yang tirus itu saat Ia mengenang pertama kali bertemu dengan Sukimin dan mereka saling jatuh hati.
Mata sutinah yang lebar dan hitam pekat bola matanya bersanding dengan lekuk bibirnya yang tipis dan kecoklatan kulitnya semakin membuat Sutinah menampakkan keindahan pribumi Jawa dan tak jemu untuk dipandangi. Sukimin tahu istrinya begitu cantik dalam balutan keanggunan dan kesederhanaan, bukan tak jarang timbul dalam benaknya rasa was-was kalau-kalau ada yang berniat merebut Sutinah darinya. Namun perasaan itu dapat ditepis olehnya, karena Iya yakin Sutinah dipenuhi dengan rasa kesetiaan untuknya.
Sutinah dan Sukimin hidup sederhana di sudut kota K, kota yang sedang dalam masa pertumbuhan sebab industri sedang berkembang pesat disana. Mereka bekerja untuk menghidupi kehidupannya dari suatu pabrik di kota tersebut. Dan disitulah api-api prahara mulai menyala. Seorang Belanda pengurus pabrik tersebut jatuh hati pada kelembutan, keanggunan, dan keindahan Sutinah. Ia sangat menaruh harapan bahwa Sutinah akan meninggalkan Sukimin dan memilihnya. Ia terus menerus mendekati Sutinah selalu memberi perhatian lebih padanya. Sungguh begitu besar usaha yang diserangkan oleh si kompeni pada Sutinah. Puncaknya adalah ketika Sutinah dan Sukimin mendapat bantuan uang untuk biaya Lastri yang saat itu sakit keras. Si kompeni membantu mereka akan tetapi tak disangka Ia malah meminta Sutinah sebagai bayarannya, tak menjadi nyai nya pun taka pa asal Sutinah mau tidur semalam saja dengannya. Tentu saja emosi Sukimin memuncak. Ia tak habis piker kenapa si Kompeni tak puas juga telah merampas negerinya dan kini menginginkan hidupnya, yakni istrinya.
Omongan-omongan miringpun menyeruak di telinga, semakin hari gaungnya semakin memekakan. Akan tetapi dengan penuh keanggunan Sutinah tetap berada pada pendiriannya. Ia tahu benar hatinya untuk siapa, cinta kasihnya untuk siapa, tak mungkin Ia rela tukar hanya karena harta. Si kompeni pun pernah mengiming-imingi Sutinah dengan segala rayuan akan harta dan kehidupan yang menjanjikan kebahagiaan, akan tetapi dengan jiwa yang anggun Sutinah berkata ‘bagi saya tidak ada yang lebih berharga dan membahagiakan selain bersama dengan orang yang saya cintai dan kasihi, yaitu bersama suami dan anak saya’.
Sang kompeni tak pernah putus asa, bahkan tak jarang ia melakukan cara-cara keji seperti meneror dan mengancam Sukimin maupun Sutinah. Sang kompeni tidak pernah kehilangan akal, Ia selalu mencari cara. Si kompeni semakin hari semakin menjadi, Ia semakin ditolak malah semakin terbit penasaran dalam hatinya. Hingga tiba pada hari itu Sukimin memergoki Sutinah sedang berduaan dengan si kompeni. Entah sedang apa mereka rasanya pun Sukimin tak ingin tahu. Mereka bertengkar hebat. Sukimin merasa telah dihianati oleh Sutinah, sementara Sutinah berusaha menjelaskan dan meyakinkan Sukimin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saying Sukimin tak mau mendengarkannya dan malah berkata ‘pergi saja koe karo si kompeni ojo inget-inget  aku karo Lastri lagi’, Sutinah tahu betul hati Sukimin sedang terluka, tapi hatinya tak kalah luka sebab suami yang dicintainya tak kunjung percaya padanya. Si kompeni tersenyum puas.
Namun akhirnya panasnya prahara diantara mereka dapat dipadamkan dengan besarnya kasih saying keduanya. Mereka pun kembali menunjukkan kemesraanya tak terlihat sedikitpun bahwa mereka sedang miliki prahara dalam bahtera rumahtangganya. Bagaikan sepasang kekasih mereka terus bergandengan menyusuri jalan pulang di senja kala itu.
‘Mas, aku ndak mau kejadian tadi sampai terulang lagi’ ucap Sutinah sambil berada dalam dekapan dada suaminya, ‘Iya Nah’ terang Sukimin sambil mengelus-elus kepala Sutinah, ‘Kulo tresno karo koe mas’, ‘Iya Nah mas juga, mas percaya kamu Nah’. Semakin erat dekapan mereka dibawah cahaya rembulan yang kini makin pekat sinarnya dan menenggelamkan mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar