Jumat, 07 Februari 2014

Kembali Takkan Kemana




Matahari berada jauh disana tetapi teriknya mampu menembus ke relung hati, ditambah lagi dengan beban hidup yang ditanggung semakin membuat kepala menjadi panas sejadi-jadinya. Meski demikian Titi tetap bergegas menuju ke tempat dimana Ia mengadu nasib dan peruntungannya. Titi melaju dengan mengayuh sepeda tuanya. Sepeda pemberian dari mantan kekasihnya yang kini telah menjadi bapak dari anak-anaknya. Sepeda itu dahulu gagah, mengkilap, dan menjadi kesayangan Titi namun kini sepeda itu telah termakan usia tak lagi segagah dulu bahkan joknya pun kini sudah sobek dan tak jelas bentuknya. Sama halnya dengan suaminya yang dahulu menjadi keasayangannya namun kini menjadi kejengkelannya.
Titi melintasi jalan yang sehari-hari Ia lalui. Rasanya sudah hapal benar setiap lekuk, bahkan lubang di jalanan. Sudah bertahun-tahun Ia bekerja membanting tulang sendirian semenjak suaminya menjadi lemah tak berdaya akibat terserang stroke. Titi memang terlihat tegar lebih tegar dari batu karang yang dihempas ombak di lautan. Akan tetapi tak semua tahu bahwa bathin Titi rapuh lebih rapuh dari kayu diujung kelapukkan. ‘Apalah daya hidup menuntutku demikian’ itulah yang selalu diutarakan Titi dalam sela-sela ucapannya.
Matahari masih belum beranjak lebih dingin, Titi pun tiba di sudut jalan Malioboro. Ia segera menyimpan sepedanya dan bergegas pergi dengan tergesa-gesa dikarenakan Ia datang lebih siang dari biasanya. Sudah bisa dibayangkan olehnya berapa banyak rezeki yang telah Ia lewatkan. Ia pun menggerutu dalam hati sambil membawa barang-barang yang akan Ia dagangkan ‘Ini semua karena mas Parjo, coba saja kalau mas Parjo tidak usah aku urusi pasti aku tidak akan dating terlambat’. Setibanya di tempat Ia berjualan, di pojok depan sebuah pertokoan pakaian batik, Ia pun mulai menggelar segala barang yang bisa Ia jual. Para rekan seprofesinya pun turut menoleh ke arah Titi, ‘Ti, kemana saja kamu? Ko malah datang terlambat seperti biasanya, hahaha’ ejek mas Karno si pedagang gelang-gelang yang selalu tak laku dagangannya. ‘Lah mas ojo ngomong gitu toh.. mas Karno tahu sendiri aku ora koyo mas Karno yang bisa dengan tenang tinggal ninggalin rumah, aku banyak yang harus diurus mas, belum lagi anak-anak berangkat sekolah belum lagi ngurusi suamiku’ ungkap Titi sambil membenahi barang dagangannya. Ia jejerkan kaos-kaos diatas sekotak bangku kayu, lalu dipajangnya beberapa kaos yang mampu membujuk para pengunjung untuk membelinya. ‘Ti..ti.. sudah ku bilang dulu jangan mau koe kawin sama si Parjo tapi koe tetep keukeuh kawin sama dia dibanding karo aku’ kata Karno sambil memandang genit Titi. ‘Mas Karno jangan ngomong sembarangan ya’ Titi sedikit terpancing emosinya, ‘mau gimana-gimana juga toh itu suamiku, bapake anak-anakku, pilihan hatiku’. ‘Aku cuma mau ngingetin kenangan masa muda aja ko Ti.. masa kamu lupa gitu aja Ti, wong aku masih inget bener Ti waktu kamu sama aku…..’ ‘ngomong opo toh mas? Ojo ngelantur bae!’ Titi mulai semakin gerah dengan ucapan Karno. ‘Jangan ngambek gitu Ti, kamu makin manis kalo lagi ngambek’ goda Karno. Titipun tidak menggubris godaan Karno, Ia hanya menatap Karno dengan tatapan tajam sambil berlalu menuju tempat Ia biasa duduk.
Hari itu terlihat melelahkan, mataharipun enggan memberikan rasa dingin diantara kehidupan manusia yang semakin gersang. Dibawah terik matahari itu dengan hanya dihalangi sedikit atap yang tipis Titi tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang bisa menghidupi keluarganya. Kaos-kaos yang Titi jejerkan terlihat sedikit berkurang. ‘Ayo mba mas oleh-oleh kaosnya’ itu lah panji-panji penarik pembeli yang selalu diucapkan Titi. Titipun terlihat semakin lusuh dengan keringat yang mengalir diantara kulitnya yang berkilauan kecoklatan, jemari lentiknya terus mengusap-usap mencoba menghapus keringat itu, jemarinya pun selalu mencoba membenarkan helaian rambut hitamnya yang menghalangi mata sayu nan lembutnya. Titi memanglah masih terlihat cantik apalagi dengan tubuhnya yang masih singset seperti seorang perawan meski telah memiliki empat orang anak.
Dahulu Titi adalah kembang di desanya, banyak lelaki tergila-gila padanya. Dari mulai yang muda sampai yang tua dari mulai perjaka sampai yang duda rela mengantri untuk mengapeli Titi. Namun pilihan hati Titi jatuh pada pemuda sederhana dengan pandangan yang menyejukkan hati, pemuda yang memiliki senyum menawan dengan kumis tipisnya. Pemuda itu adalah Parjo, ya Parjo yang menjadi suaminya kini. Banyak orang tidak mempercayai bahwa Titi akhirnya memilih pemuda yang tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan pendamping hidupnya. Pertama kali mereka bertemu ketika mereka sedang menonton film layar tancap, tak terasa hati mereka pun mulai tertancap satu-sama lain. Mereka lalu jatuh cinta dan mengukuhkan cinta mereka dalam ikatan yang suci. Tak pernah terlihat rasa penyesalan di hati Titi karena telah memilih Parjo menjadi suaminya, akan tetapi tidak sampai hari ini.
Hari tak kunjung berlalu, Titi masih setia menjajakan barang dagangannya dengan harap Ia akan mendapatkan untung banyak. Tiba-tiba sesosok lelaki datang menghampirinya. Titi pun terkejut, Ia pandangi lelaki itu dengan sangat teliti. Lelaki itu dengan wajahnya yang telah usang, pakaian sederhana stelan putih, dan tak lupa bersama sepeda tuanya yang Ia simpan dekat dagangan Titi. Lelaki tua itu menghampiri Titi sambil tersenyum ‘cak ayu, pie kabare?’, ‘apik bae mbah’ jawab Titi dengan lembut. Semua mata memandang ke arah si Mbah dan Titi. ‘Ti..ti..’ tegur Karno sambil member isyarat hati-hati, tapi Titi tak memerdulikannya. ‘Duduk disini Mbah, mau minum apa toh?’ ucap Titi dengan penuh kelembutan, ‘Mbah kesini tidak mau merepotkanmu cak ayu, Mbah hanya ingin sekedar mengobrol saja’ jawab si Mbah dengan nada parau. Mbah Karso memang tak asing lagi bagi para pedagang disekitar Malioboro, di usianya yang sudah tua renta Ia masih aktif berjalan-jalan hanya sekedar mengajak orang-orang mengobrol, menceritakan semua kisah yang sangat panjang sekali sehingga hal tersebut dirasa sangat mengganggu para pedagang disitu sebab dapat menghalangi mereka untuk beraktifitas untuk berdagang. Si Mbah kadang tak mau berhenti bercerita dan tak jarang mengamuk bila tak didengarkan. Kali ini Titi mendapat giliran kemalangan, namun tak nampak sama sekali akan rasa khawatir tentang kemalangan di wajah anggun Titi.
‘Cak ayu, apa pernah merasa kecewa akan takdir?’ Tanya si Mbah sambil membenahi blangkonnya, ‘kadang aku juga suka mengeluh akan takdir mbah’ jawab Titi sambil melipat kaos-kaos. ‘Apa cak ayu mengeluhkan takdir akan pernikahanmu?’ Tanya si Mbah dengan nada sedang, ‘ya tidak lah Mbah, wong aku sendiri yang milih calonku dulu dadi ndak ada rasa penyesalan toh’ ucap Titi meski dalam dirinya tergambar jelas bahwa Ia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, ‘cuman aku kadang suka ngeroso kesel soalnya aku harus cape banting tulang kerja sama aku juga harus ngurusi suami karo anak-anakku’, ‘jadi cak ayu merasa kesal dengan takdir cak ayu yang seorang wanita?’ Tanya si Mbah dengan nada sedikit tinggi. ‘Laahh bukannya gitu toh Mbah, maksude aku kadang cape sama peran gandaku, aku juga kepingin kaya ibu-ibu rumah tangga lainnya yang tinggal ngurusi keluarganya saja di rumah tanpa harus kerja banting tulang begini toh Mbah’ jawab Titi dengan nada sedikit tegas, ‘Jadi kamu menyesali menjadi istri dari suamimu toh?’ Tanya si Mbah sambil membenarkan sandal bututnya, ‘aduuuh si Mbah iki ngomong opo toh, ya ndak lah Mbah, aku ndak pernah nyesel’ jawab Titi dengan sedikit tersenyum. ‘Kalo begitu baguslah cak ayu, mbah pun pernah ngerasa kalo pernikahan Mbah dulu gagal dan merasa tak ada lagi yang bisa Mbah banggakan’, ‘istri Mbah merupakan sosok yang sangat lembut dan penuh sabar, disaat Mbah berniat untuk meminang wanita lainpun Ia tetap menyikapinya dengan tenang, bahkan Ia yang mengantar mbah untuk bertemu dengan calon istri muda Mbah’. ‘Padaahal waktu itu Mbah ndak kerja apa-apa, malah istri Mbah yang menghidupi keluarga’, Titi tertegun mendengarkan kisah si Mbah.
‘Istri Mbah hebat yaa..’ Titi berkomentar sedikit, ‘Dia itu wanita yang kuat, tegar bahkan sangat kuat untuk menghadapi lelaki seperti si Mbah ini yang kerjaanya hanya mabok dan mempermainkan perempuan’ ucap si Mbah sambil mengelus-elus janggutnya. Titi memperhatikan raut muka si Mbah yang tak nampak sedikitpun rasa penyesalan, ‘Lalu suatu waktu aku sempet ngalami kecelakaan ndo, sampe-sampe si Mbah ini ndak bisa lagi jalan’ ucap si Mbah sambil membolak-balikkan bungkus kaos dagangan Titi, ‘Istri-istri si Mbah yang lain malah menjauh dan ninggalin si Mbah kecuali Istri Mbah yang pertama. Dengan setia Ia mengurusi Mbah’. ‘Lalu apa Mbah yang Mbah rasain waktu itu?’ Tanya Titi dengan mata yang sedikit dibasahi air mata, ‘Mbah sadar kalo Mbah salah selama ini, Mbah bertekad untuk berubah dan mau membangun rumahtangga yang sungguh-sungguh, dan yang terpenting Mbah mau mencintai Istri Mbah sepenuhnya seluruh hidup Mbah’. ‘Pasti setelah itu Mbah sama Istri Mbah bahagia selamanya, iya toh Mbah’ Titi berkata sambil mengelap sedikit air mata yang jatuh di pipinya, ‘Sayang, ga begitu lama dari semenjak Mbah sadar dan saat Mbah mau mengungkapkan rasa cinta Mbah dan kesetiaan Mbah, Dia wanita terbaik yang pernah Mbah temui ternyata meninggalkan Mbah juga’ Si Mbah berkata sambil mengambil gorengan yang tersisa di piring, ‘Apa istri Mbah tidak tahan dengan sikap Mbah lalu pergi dengan laki-laki lain?’ Tanya Titi dengan nada sedikit penasaran, ‘Dia wanita yang snagat Mbah cinta pergi bukan karna lelaki lain ndo, tapi karna takdir Tuhan, Ia meninggalkan si Mbah dan anak-anak untuk selama-lamanya’ si Mbah mengakhiri kisahnya sambil tersenyum simpul. Titi hanya bisa terdiam sedari tadi tak satupun kata ingin keluar dari mulutnya, Si Mbah sudah pergi sekitar satu jam yang lalu. Ia berlalu begitu saja, banyak orang yang bilang jangan pernah percayai omongan si Mbah Karso, Ia gila, tak waras, semua yang dikatakannya paling hanya kebohongan.
Titi seketika itu juga segera berkemas pulang. Ia selalu terbayang setiap omongan si Mbah. Ada sedikit perasaan takut di hatinya, cemas, dan gelisah. Ia tersadar bahwa seorang wanita itu tangguh karena dapat menguatkan setiap prianya. Ia pun menghapus air matanya lalu memanggul semua barang dagangannya sendiri, Ia merapikan sedikit rambut hitam panjangya yang terurai, Ia bergegas pergi pulang, kembali ke pangkuan suaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar