Matahari berada jauh disana tetapi
teriknya mampu menembus ke relung hati, ditambah lagi dengan beban hidup yang
ditanggung semakin membuat kepala menjadi panas sejadi-jadinya. Meski demikian
Titi tetap bergegas menuju ke tempat dimana Ia mengadu nasib dan
peruntungannya. Titi melaju dengan mengayuh sepeda tuanya. Sepeda pemberian
dari mantan kekasihnya yang kini telah menjadi bapak dari anak-anaknya. Sepeda
itu dahulu gagah, mengkilap, dan menjadi kesayangan Titi namun kini sepeda itu
telah termakan usia tak lagi segagah dulu bahkan joknya pun kini sudah sobek
dan tak jelas bentuknya. Sama halnya dengan suaminya yang dahulu menjadi
keasayangannya namun kini menjadi kejengkelannya.
Titi melintasi jalan yang sehari-hari
Ia lalui. Rasanya sudah hapal benar setiap lekuk, bahkan lubang di jalanan.
Sudah bertahun-tahun Ia bekerja membanting tulang sendirian semenjak suaminya
menjadi lemah tak berdaya akibat terserang stroke. Titi memang terlihat tegar
lebih tegar dari batu karang yang dihempas ombak di lautan. Akan tetapi tak
semua tahu bahwa bathin Titi rapuh lebih rapuh dari kayu diujung kelapukkan.
‘Apalah daya hidup menuntutku demikian’ itulah yang selalu diutarakan Titi
dalam sela-sela ucapannya.
Matahari masih belum beranjak lebih
dingin, Titi pun tiba di sudut jalan Malioboro. Ia segera menyimpan sepedanya
dan bergegas pergi dengan tergesa-gesa dikarenakan Ia datang lebih siang dari
biasanya. Sudah bisa dibayangkan olehnya berapa banyak rezeki yang telah Ia
lewatkan. Ia pun menggerutu dalam hati sambil membawa barang-barang yang akan
Ia dagangkan ‘Ini semua karena mas Parjo, coba saja kalau mas Parjo tidak usah
aku urusi pasti aku tidak akan dating terlambat’. Setibanya di tempat Ia
berjualan, di pojok depan sebuah pertokoan pakaian batik, Ia pun mulai menggelar
segala barang yang bisa Ia jual. Para rekan seprofesinya pun turut menoleh ke
arah Titi, ‘Ti, kemana saja kamu? Ko malah datang terlambat seperti biasanya,
hahaha’ ejek mas Karno si pedagang gelang-gelang yang selalu tak laku
dagangannya. ‘Lah mas ojo ngomong gitu toh.. mas Karno tahu sendiri aku ora
koyo mas Karno yang bisa dengan tenang tinggal ninggalin rumah, aku banyak yang
harus diurus mas, belum lagi anak-anak berangkat sekolah belum lagi ngurusi
suamiku’ ungkap Titi sambil membenahi barang dagangannya. Ia jejerkan kaos-kaos
diatas sekotak bangku kayu, lalu dipajangnya beberapa kaos yang mampu membujuk
para pengunjung untuk membelinya. ‘Ti..ti.. sudah ku bilang dulu jangan mau koe
kawin sama si Parjo tapi koe tetep keukeuh kawin sama dia dibanding karo aku’
kata Karno sambil memandang genit Titi. ‘Mas Karno jangan ngomong sembarangan
ya’ Titi sedikit terpancing emosinya, ‘mau gimana-gimana juga toh itu suamiku,
bapake anak-anakku, pilihan hatiku’. ‘Aku cuma mau ngingetin kenangan masa muda
aja ko Ti.. masa kamu lupa gitu aja Ti, wong aku masih inget bener Ti waktu
kamu sama aku…..’ ‘ngomong opo toh mas? Ojo ngelantur bae!’ Titi mulai semakin
gerah dengan ucapan Karno. ‘Jangan ngambek gitu Ti, kamu makin manis kalo lagi
ngambek’ goda Karno. Titipun tidak menggubris godaan Karno, Ia hanya menatap
Karno dengan tatapan tajam sambil berlalu menuju tempat Ia biasa duduk.
Hari itu terlihat melelahkan,
mataharipun enggan memberikan rasa dingin diantara kehidupan manusia yang
semakin gersang. Dibawah terik matahari itu dengan hanya dihalangi sedikit atap
yang tipis Titi tetap berjuang untuk mendapatkan apa yang bisa menghidupi
keluarganya. Kaos-kaos yang Titi jejerkan terlihat sedikit berkurang. ‘Ayo mba
mas oleh-oleh kaosnya’ itu lah panji-panji penarik pembeli yang selalu
diucapkan Titi. Titipun terlihat semakin lusuh dengan keringat yang mengalir
diantara kulitnya yang berkilauan kecoklatan, jemari lentiknya terus
mengusap-usap mencoba menghapus keringat itu, jemarinya pun selalu mencoba
membenarkan helaian rambut hitamnya yang menghalangi mata sayu nan lembutnya.
Titi memanglah masih terlihat cantik apalagi dengan tubuhnya yang masih singset
seperti seorang perawan meski telah memiliki empat orang anak.
Dahulu Titi adalah kembang di desanya,
banyak lelaki tergila-gila padanya. Dari mulai yang muda sampai yang tua dari
mulai perjaka sampai yang duda rela mengantri untuk mengapeli Titi. Namun
pilihan hati Titi jatuh pada pemuda sederhana dengan pandangan yang menyejukkan
hati, pemuda yang memiliki senyum menawan dengan kumis tipisnya. Pemuda itu
adalah Parjo, ya Parjo yang menjadi suaminya kini. Banyak orang tidak
mempercayai bahwa Titi akhirnya memilih pemuda yang tidak memiliki apa-apa
untuk dijadikan pendamping hidupnya. Pertama kali mereka bertemu ketika mereka
sedang menonton film layar tancap, tak terasa hati mereka pun mulai tertancap
satu-sama lain. Mereka lalu jatuh cinta dan mengukuhkan cinta mereka dalam
ikatan yang suci. Tak pernah terlihat rasa penyesalan di hati Titi karena telah
memilih Parjo menjadi suaminya, akan tetapi tidak sampai hari ini.
Hari tak kunjung berlalu, Titi masih
setia menjajakan barang dagangannya dengan harap Ia akan mendapatkan untung
banyak. Tiba-tiba sesosok lelaki datang menghampirinya. Titi pun terkejut, Ia
pandangi lelaki itu dengan sangat teliti. Lelaki itu dengan wajahnya yang telah
usang, pakaian sederhana stelan putih, dan tak lupa bersama sepeda tuanya yang
Ia simpan dekat dagangan Titi. Lelaki tua itu menghampiri Titi sambil tersenyum
‘cak ayu, pie kabare?’, ‘apik bae mbah’ jawab Titi dengan lembut. Semua mata
memandang ke arah si Mbah dan Titi. ‘Ti..ti..’ tegur Karno sambil member
isyarat hati-hati, tapi Titi tak memerdulikannya. ‘Duduk disini Mbah, mau minum
apa toh?’ ucap Titi dengan penuh kelembutan, ‘Mbah kesini tidak mau
merepotkanmu cak ayu, Mbah hanya ingin sekedar mengobrol saja’ jawab si Mbah
dengan nada parau. Mbah Karso memang tak asing lagi bagi para pedagang
disekitar Malioboro, di usianya yang sudah tua renta Ia masih aktif
berjalan-jalan hanya sekedar mengajak orang-orang mengobrol, menceritakan semua
kisah yang sangat panjang sekali sehingga hal tersebut dirasa sangat mengganggu
para pedagang disitu sebab dapat menghalangi mereka untuk beraktifitas untuk
berdagang. Si Mbah kadang tak mau berhenti bercerita dan tak jarang mengamuk
bila tak didengarkan. Kali ini Titi mendapat giliran kemalangan, namun tak
nampak sama sekali akan rasa khawatir tentang kemalangan di wajah anggun Titi.
‘Cak ayu, apa pernah merasa kecewa akan
takdir?’ Tanya si Mbah sambil membenahi blangkonnya, ‘kadang aku juga suka
mengeluh akan takdir mbah’ jawab Titi sambil melipat kaos-kaos. ‘Apa cak ayu
mengeluhkan takdir akan pernikahanmu?’ Tanya si Mbah dengan nada sedang, ‘ya
tidak lah Mbah, wong aku sendiri yang milih calonku dulu dadi ndak ada rasa
penyesalan toh’ ucap Titi meski dalam dirinya tergambar jelas bahwa Ia merasa
tidak bahagia dengan pernikahannya, ‘cuman aku kadang suka ngeroso kesel
soalnya aku harus cape banting tulang kerja sama aku juga harus ngurusi suami
karo anak-anakku’, ‘jadi cak ayu merasa kesal dengan takdir cak ayu yang
seorang wanita?’ Tanya si Mbah dengan nada sedikit tinggi. ‘Laahh bukannya gitu
toh Mbah, maksude aku kadang cape sama peran gandaku, aku juga kepingin kaya
ibu-ibu rumah tangga lainnya yang tinggal ngurusi keluarganya saja di rumah
tanpa harus kerja banting tulang begini toh Mbah’ jawab Titi dengan nada
sedikit tegas, ‘Jadi kamu menyesali menjadi istri dari suamimu toh?’ Tanya si
Mbah sambil membenarkan sandal bututnya, ‘aduuuh si Mbah iki ngomong opo toh,
ya ndak lah Mbah, aku ndak pernah nyesel’ jawab Titi dengan sedikit tersenyum.
‘Kalo begitu baguslah cak ayu, mbah pun pernah ngerasa kalo pernikahan Mbah
dulu gagal dan merasa tak ada lagi yang bisa Mbah banggakan’, ‘istri Mbah
merupakan sosok yang sangat lembut dan penuh sabar, disaat Mbah berniat untuk
meminang wanita lainpun Ia tetap menyikapinya dengan tenang, bahkan Ia yang
mengantar mbah untuk bertemu dengan calon istri muda Mbah’. ‘Padaahal waktu itu
Mbah ndak kerja apa-apa, malah istri Mbah yang menghidupi keluarga’, Titi
tertegun mendengarkan kisah si Mbah.
‘Istri Mbah hebat yaa..’ Titi
berkomentar sedikit, ‘Dia itu wanita yang kuat, tegar bahkan sangat kuat untuk
menghadapi lelaki seperti si Mbah ini yang kerjaanya hanya mabok dan mempermainkan
perempuan’ ucap si Mbah sambil mengelus-elus janggutnya. Titi memperhatikan
raut muka si Mbah yang tak nampak sedikitpun rasa penyesalan, ‘Lalu suatu waktu
aku sempet ngalami kecelakaan ndo, sampe-sampe si Mbah ini ndak bisa lagi
jalan’ ucap si Mbah sambil membolak-balikkan bungkus kaos dagangan Titi,
‘Istri-istri si Mbah yang lain malah menjauh dan ninggalin si Mbah kecuali
Istri Mbah yang pertama. Dengan setia Ia mengurusi Mbah’. ‘Lalu apa Mbah yang
Mbah rasain waktu itu?’ Tanya Titi dengan mata yang sedikit dibasahi air mata,
‘Mbah sadar kalo Mbah salah selama ini, Mbah bertekad untuk berubah dan mau
membangun rumahtangga yang sungguh-sungguh, dan yang terpenting Mbah mau
mencintai Istri Mbah sepenuhnya seluruh hidup Mbah’. ‘Pasti setelah itu Mbah sama
Istri Mbah bahagia selamanya, iya toh Mbah’ Titi berkata sambil mengelap
sedikit air mata yang jatuh di pipinya, ‘Sayang, ga begitu lama dari semenjak
Mbah sadar dan saat Mbah mau mengungkapkan rasa cinta Mbah dan kesetiaan Mbah,
Dia wanita terbaik yang pernah Mbah temui ternyata meninggalkan Mbah juga’ Si
Mbah berkata sambil mengambil gorengan yang tersisa di piring, ‘Apa istri Mbah
tidak tahan dengan sikap Mbah lalu pergi dengan laki-laki lain?’ Tanya Titi
dengan nada sedikit penasaran, ‘Dia wanita yang snagat Mbah cinta pergi bukan
karna lelaki lain ndo, tapi karna takdir Tuhan, Ia meninggalkan si Mbah dan
anak-anak untuk selama-lamanya’ si Mbah mengakhiri kisahnya sambil tersenyum
simpul. Titi hanya bisa terdiam sedari tadi tak satupun kata ingin keluar dari
mulutnya, Si Mbah sudah pergi sekitar satu jam yang lalu. Ia berlalu begitu
saja, banyak orang yang bilang jangan pernah percayai omongan si Mbah Karso, Ia
gila, tak waras, semua yang dikatakannya paling hanya kebohongan.
Titi seketika itu juga segera berkemas
pulang. Ia selalu terbayang setiap omongan si Mbah. Ada sedikit perasaan takut
di hatinya, cemas, dan gelisah. Ia tersadar bahwa seorang wanita itu tangguh
karena dapat menguatkan setiap prianya. Ia pun menghapus air matanya lalu
memanggul semua barang dagangannya sendiri, Ia merapikan sedikit rambut hitam
panjangya yang terurai, Ia bergegas pergi pulang, kembali ke pangkuan suaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar