Dan
tersenyum lagi. Gigi-giginya tak sekotor yang lainnya. Air mukanya juga begitu
tenang. Hanya dalam beberapa menit Ia akan tersenyum, tertawa, dan menangis
dengan tiba-tiba. Tatapannya kosong sekosong pengharapan di hatinya yang telah
hancur.
Udin
menyusuri setiap jalan tiap harinya. Pakaiannya masih begitu bersih untuk
disebut orang gila. Anak-anak kecil beramai-ramai membuntuti Udin sambil
berkata “Nu gelo anyar, nu gelo anyar”.
Suara mereka begitu nyaring hingga memekakan telinga. Akan tetapi Udin tetap
berjalan tak peduli akan mereka.
Udin
seringkali hanya duduk terdiam di pinggir jalan. Entah apa yang dipikirkan Udin
hingga Ia terlihat begitu asyik dalam lamunannya. Seringkali Ia menghitung jari
sambil berkata “sakedeung deui urang
kawin euy.” Maka tersenyumlah Ia. Ia juga sering sekali memanggil-manggil
nama Hayati. “Neng Titi kabogoh akang,
hayu urang ēnggal-ēnggal pangantēnan.” Namun tiba-tiba Ia tersadar bahwa
Hayati sudah tidak di sisinya lagi. Ia pun tertawa namun air mata tiba-tiba
mengalir membasahi pipinya. Ia lalu menangis sekencang-kencangnya.
Jiwanya
terguncang saat Ia harus menerima kenyataan bahwa Hayati telah tiada. Hayati
telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kecelakaan kereta api telah membawa
Zainudin dalam kesengsaraan yang abadi. Cintanya akan Hayati masih bersemayam
di dalam hatinya. Pernikahan yang telah di depan mata harus kandas begitu Udin
mendapati kabar bahwa Titi yang hendak pulang ke rumah orang tuanya di Garut
mengalami kecelakaan dan Ia pun tewas.
Hati
Udin menggelepar mendengar kabar itu, bagai tersambar petir di siang bolong. Ia
ingin menjerit sekeras-kerasnya tapi kekuatannya telah hilang, hancur lebur
bersama jasad Titi yang hancur terbakar. Bumi tempatnya berpijak tak dapat lagi
menahan berat tubuhnya, terutama berat beban hidupnya. Melayang rasanya nyawa
Udin menerima kenyataan saat Ia melihat nisan bertuliskan nama kekasihnya.
Ia
menangis sejadi-jadinya meratapi kepergian Hayati. Bahkan orang bilang udin
sampai menginap di pemakaman umum tempat Hayati dikuburkan.
“Gēlo euy si Udin, tēpi ka kituna.” Para
tetangga beramai-ramai membicarakan Udin.
Udin tidak pernah menggubris omongan
tetangga karena untuk menggubris akal sehatnya pun Ia tak bisa. Mereka
berbicara seperti itu karena mereka tidak merasakan apa yang Udin rasakan.
Mereka seenaknya berpendapat seperti itu karena mereka tidak pernah berada
dalam posisi seperti Udin. Tahu apa mereka tentang isi hati Udin, mereka hanya
bisa mencela tanpa mereka sadari mereka yang terlihat gila.
Udin meringis bila ingat akan
kekasihnya itu. Ia tidak pernah mengamuk. Pakaiannya masih sanagt bersih.
Dandanannya masih terlihat rapi seperti saat Hayati masih hidup. Lalu kenapa
orang bilang Ia gila? Apa karena Ia meratapi kepergian kekasihnya hingga
menginap di kuburan? Atau karena Udin yang sering senyum sendirian?
Mereka terkadang marah jika Udin
diam di dekat rumah mereka. Padahal Udin tidak mengganggu. Mereka seperti gila
karena telah memarahi orang yang hati dan pikirannya sakit karena terbutakan
oleh cinta. Udin hanya diam, merenung akan nasib cintanya. Ia lalu tersenyum
seakan meihat hayati di depannya. Tangannya seperti menggapai-gapai tubuh
seseorang. Ia peluk tubuh itu. Beberapa menit kemudian Ia lepaskan tubuh itu
dan menangis sejadi-jadinya sambil menyebut Hayati.
Lirih
hati jika melihat Udin seperti itu. Orang sebut Ia gila tapi bagiku tidak. Udin
hanya tak dapat menahan perasaannya ketika isi hati dan pikirannya telah
terbawa, terkubur bersama jasad Hayati. Hingga pandangan matanya begitu kosong
dan gelap. Lalu Udin tersenyum lagi setelah tangisnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar