Jumat, 07 Februari 2014

Orang Bilang Dia Gila



Dan tersenyum lagi. Gigi-giginya tak sekotor yang lainnya. Air mukanya juga begitu tenang. Hanya dalam beberapa menit Ia akan tersenyum, tertawa, dan menangis dengan tiba-tiba. Tatapannya kosong sekosong pengharapan di hatinya yang telah hancur.
Udin menyusuri setiap jalan tiap harinya. Pakaiannya masih begitu bersih untuk disebut orang gila. Anak-anak kecil beramai-ramai membuntuti Udin sambil berkata “Nu gelo anyar, nu gelo anyar”. Suara mereka begitu nyaring hingga memekakan telinga. Akan tetapi Udin tetap berjalan tak peduli akan mereka.
Udin seringkali hanya duduk terdiam di pinggir jalan. Entah apa yang dipikirkan Udin hingga Ia terlihat begitu asyik dalam lamunannya. Seringkali Ia menghitung jari sambil berkata “sakedeung deui urang kawin euy.” Maka tersenyumlah Ia. Ia juga sering sekali memanggil-manggil nama Hayati. “Neng Titi kabogoh akang, hayu urang ēnggal-ēnggal pangantēnan.” Namun tiba-tiba Ia tersadar bahwa Hayati sudah tidak di sisinya lagi. Ia pun tertawa namun air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Ia lalu menangis sekencang-kencangnya.
Jiwanya terguncang saat Ia harus menerima kenyataan bahwa Hayati telah tiada. Hayati telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kecelakaan kereta api telah membawa Zainudin dalam kesengsaraan yang abadi. Cintanya akan Hayati masih bersemayam di dalam hatinya. Pernikahan yang telah di depan mata harus kandas begitu Udin mendapati kabar bahwa Titi yang hendak pulang ke rumah orang tuanya di Garut mengalami kecelakaan dan Ia pun tewas.
Hati Udin menggelepar mendengar kabar itu, bagai tersambar petir di siang bolong. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya tapi kekuatannya telah hilang, hancur lebur bersama jasad Titi yang hancur terbakar. Bumi tempatnya berpijak tak dapat lagi menahan berat tubuhnya, terutama berat beban hidupnya. Melayang rasanya nyawa Udin menerima kenyataan saat Ia melihat nisan bertuliskan nama kekasihnya.
Ia menangis sejadi-jadinya meratapi kepergian Hayati. Bahkan orang bilang udin sampai menginap di pemakaman umum tempat Hayati dikuburkan.
Gēlo euy si Udin, tēpi ka kituna.” Para tetangga beramai-ramai membicarakan Udin.
            Udin tidak pernah menggubris omongan tetangga karena untuk menggubris akal sehatnya pun Ia tak bisa. Mereka berbicara seperti itu karena mereka tidak merasakan apa yang Udin rasakan. Mereka seenaknya berpendapat seperti itu karena mereka tidak pernah berada dalam posisi seperti Udin. Tahu apa mereka tentang isi hati Udin, mereka hanya bisa mencela tanpa mereka sadari mereka yang terlihat gila.
            Udin meringis bila ingat akan kekasihnya itu. Ia tidak pernah mengamuk. Pakaiannya masih sanagt bersih. Dandanannya masih terlihat rapi seperti saat Hayati masih hidup. Lalu kenapa orang bilang Ia gila? Apa karena Ia meratapi kepergian kekasihnya hingga menginap di kuburan? Atau karena Udin yang sering senyum sendirian?
            Mereka terkadang marah jika Udin diam di dekat rumah mereka. Padahal Udin tidak mengganggu. Mereka seperti gila karena telah memarahi orang yang hati dan pikirannya sakit karena terbutakan oleh cinta. Udin hanya diam, merenung akan nasib cintanya. Ia lalu tersenyum seakan meihat hayati di depannya. Tangannya seperti menggapai-gapai tubuh seseorang. Ia peluk tubuh itu. Beberapa menit kemudian Ia lepaskan tubuh itu dan menangis sejadi-jadinya sambil menyebut Hayati.
Lirih hati jika melihat Udin seperti itu. Orang sebut Ia gila tapi bagiku tidak. Udin hanya tak dapat menahan perasaannya ketika isi hati dan pikirannya telah terbawa, terkubur bersama jasad Hayati. Hingga pandangan matanya begitu kosong dan gelap. Lalu Udin tersenyum lagi setelah tangisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar