SARAH FITRI RABBANI
1211503125
BSI/IV/D
MAKALAH PROSE I/SHORT STORY
Eksploitasi Feminisme dan Gender Tokoh Elisa
dalam The Chrysanthemums
A.
Pendahuluan
Tokoh Elisa dalam The Chrysanthemums menjadi suatu ‘magnet’
tersendiri untuk cerita pendek tersebut. Itu karena dalam cerita pendek The Chrysanthemums tokoh Elisa menjadi
sentral cerita. Tokoh Elisa menjadi penting sebab Elisa yang memegang cerita
atau alur cerita dalam The Chrysanthemums.
Cerita disuguhkan dari perspektif-perspektif para tokoh dan yang terutama
sekali dari perspektif tokoh Elisa.
The
Chrysanthemums sangatlah menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Pembaca
disuguhkan cerita yang ringan dan berkenaan dengan ordinary life atau kehidupan sehari-hari. Akan tetapi dibalik
kesederhanaan cerita yang ditampilkan terdapat suatu makna mendalam yang hendak
ingin disampaikan. Kesederhanaan cerita dari The Chrysanthemums menjadi nilai plus yang membuat cerita tersebut
sangat menarik dan berkesan bagi pembaca.
Dibalik kesederhanaan cerita
tersebut terdapat sesuatu yang sangat menarik dari sosok seorang Elisa. Dalam The Chrysanthemums sosok Elisa menjadi pusat
perhatian dimana Elisa ini merupakan sesuatu yang unik dan sangat menarik. Hal
tersebut membuat saya menyoroti tokoh Elisa yang dalam cerita pendek The Chrysanthemums Elisa menjadi sosok
yang menonjolkan adanya eksploitasi sisi feminisme. Tokoh Elisa juga menjadi
penanda dari suatu usaha penyetaraan gender.
The Chrysanthemums sangat kental
dengan issue feminisme dan penyetaraan gender yang dibawakan oleh tokoh Elisa.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
feminisme berperan dalam cerita The
Chrysanthemums?
2.
Apakah aplikasi
dari penyetaraan gender dalam The Chrysanthemums?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui
peran feminisme dalam cerita The
Chrysanthemums.
2.
Untuk mengetahui
aplikasi dari penyetaraan gender dalam
The Chrysanthemums.
D.
Kajian Teori
Irwan (2009) mendefinisikan secara
gamblang bahwa feminisme merupakan suatu ideologi menuntut kebebasan, persamaan
hak dan keadilan sosial bagi perempuan. Berbeda dengan Irwan, Siregar (1999)
mendefinisikan feminisme tidak hanya dikhususkan untuk perempuan, akan tetapi
feminisme dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan yang menentang diskriminasi
atas jenis kelamin, ketidak adilan gender,
dan melakukan suatu tindakan untuk menentangnya.
Djajanegara (2000) menyatakan
bahwa terdapat dua cara untuk mencapai feminisme, diantaranya adalah:
1.
Memperoleh hak
dan peluang yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki atau yang biasa
disebut dengan equal right’s movement.
2. Membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik
atau lingkungan keluarga dan rumah tangga atau yang biasa disebut dengan women’s liberation movement atau women’s emancipation
movement.
Sadli (2010) berpendapat
bahwa salah satu faktor yang mendasari pemikiran feministik adalah hubungan gender diangkat sebagai permasalahan. Terlebih
lagi melalui hubungan gender terciptalah
dua pribadi dengan ciri khas bagi perempuan dan lelaki. Sementara itu Siregar (2010)
menyatakan bahwa gender merupakan suatu
konstruksi sosial mengenai kedudukan, peran, dan tanggung jawab laki-laki dan
perempuan. Ritzer (dalam Sunarto, 2004) berpendapat bahwa variasi gerakan
feminis bisa dibedakan berdasarkan:
1.
Perbedaan jender
(gender difference)
2.
Ketidaksamaan
jender (gender inequality)
3.
Penindasan
jender (gender oppression)
4.
Feminisme
gelombang ketiga (third-wave feminism).
The
Chrysanthemums merupakan cerita
pendek yang sangat unik dan menarik dimana ceritanya menyajikan sesuatu mengenai
kehidupan sehari-hari atau ordinary life.
The Chrysanthemums merupakan cerita mengenai
seorang tokoh Elisa yang merawat tanaman Chrysanthemums.
Elisa yang memiliki perkebunan seringkali berkebun dan beternak dan Ia melakukan
hal tersebut layaknya seperti seorang pria. Suami Elisa, Henry seringkali sibuk
dengan urusan pekerjaannya. Elisa dan Henry Allen belum memiliki keturunan.
Ketika Elisa sedang melakukan pekerjaannya datanglah
seorang penambal panci yang hendak menanyakan alamat kepadanya. Elisa pun
berbincang-bincang dengan si penambal panci tersebut. Pada awalnya Elisa merasa
sedikit tidak senang kepada si penambal panci sebab Ia seakan memaksa Elisa untuk
memberi pekerjaan untuknya (menambal panci, membenarkan barang yang rusak). Elisa
pun akhirnya merasa senang sebab si penambal panci memperhatikan serta memuji Chrysanthemums yang Ia rawat. Si
penambal panci pun meminta bibit Chrysanthemums
sebab Ia ingin memberikannya kepada seseorang. Elisa sangat senang dan dengan
penuh semangat Ia pun menjelaskan mengenai cara merawat Chrysanthemums kepada si penambal panci.
Setelah si penambal panci bergegas pergi, Elisa pun
bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama suaminya, Henry. Elisa pun
menanggalkan pakaian berkebunnya yang seperti pria dan menggantinya dengan
mengenakan dress. Ketika di perjalanan
menuju tempat makan malam, Elisa melihat Chrysanthemums
yang Ia berikan kepada si penambal panci tergeletak begitu saja di pinggir
jalan. Elisa merasa sangat sakit hati sebab Ia merasa bahwa si penambal panci
hanya berpura-pura mengagumi Chrysanthemums
nya. Tanpa sepengetahuan suaminya Elisa pun menangis.
The Chrysanthemums merupakan
karya dari John Steinbeck. Steinbeck lahir di Salinas, California pada 27
Februari 1902 dan merupakan keturunan Jerman, Inggris, dan Irlandia. Steinbeck banyak
menghabiskan hidupnya di Monterey County, yang mana merupakan setting dari kebanyakan karyanya. Pada
tahun 1920 Steinbeck menjadi murid Standford University akan tetapi Ia tidak
melanjutkan studinya tersebut. Ia pun memilih untuk bekerja dan berangkat dari
hal tersebutlah banyak dari karyanya menyoroti mengenai kehidupan para pekerja,
seperti karyanya Of Mice and Men.
Karya-karya Steinbeck banyak
menonjolkan sisi dimana betapa complex nya
kehidupan seperti pada karyanya Tortilla
Flat. Ia mendapat penghargaan atas karya-karyanya seperti penghargaan
Pulitzer Prize for Fiction pada tahun 1940 dan Nobel Prize in Literature pada 1962. Salah satu karyanya The Chrysanthemums merupakan karya yang sangat menarik dan
berkualitas. Akan tetapi kehidupan cintanya tidak segemilang karir menulisnya,
Steinbeck sempat bercerai dua kali dan akhirnya menikah kembali untuk yang
ketiga kalinya dengan Scott. Pernikahan ketiganya ini berlangsung hingga akhir
hayatnya dimana Steinbeck meninggal pada tahun 1968.
E.
Pembahasan
The Chrysanthemums ‘menyuguhkan’
berbagai macam perspektif kepada pembacanya. Hal tersebut menimbulkan
spekulasi-spekulasi dalam benak saya. Tokoh Elisa yang saya soroti menonjolkan eksploitasi
sisi feminisme dari dirinya dimana Ia mencoba untuk meng ‘explore’ sisi kewanitaannya tetapi lebih kepada untuk menunjukan
bahwa Elisa berbeda dengan wanita lain dan bahkan Ia ingin menunjukan diri
sebagai seorang wanita yang mampu ‘mendobrak’ anggapan umum tentang wanita. Sisi
feminisme tersebut dapat terlihat dari kutipan berikut ini
Her face was lean and strong…..(halaman 1)
She took off a glove and put her strong fingers down into the forest
of new green Chrysanthemums….. (halaman 2)
With her strong fingers she pressed them into the sand and tamped around
them with her knuckles. (halaman 6)
Kata ‘strong’
dari kutipan-kutipan diatas menunjukkan bahwa Elisa merupakan sosok seorang
wanita yang ‘strong’. Saya
menginterpretasikan kata ‘strong’
sebagai suatu representasi dari kekuatan diri seorang wanita dimana dalam hal
ini Elisa mampu menunjukan dirinya bahwa Ia merupakan seorang wanita yang kuat
dan tangguh. Kata ‘strong’ juga merepresentasikan
bahwa hal tersebut pula yang menonjolkan Elisa sebagai sosok wanita ‘yang
mampu’ melakukan segala sesuatu yang dikerjakan oleh pria.
“You’ve got a strong new crop coming”……”Yes. They’ll be strong this
coming year.” In her tone and on her face there was a little smugness. (halaman 2)
Dari kutipan diatas kita dapat melihat bahwa Elisa
merupakan sosok seorang wanita yang memang dengan ‘kekuatannya’ mampu melakukan
segala sesuatu yang dilakukan oleh pria. Seperti yang dapat saya interpretasikan
dari kutipan diatas bahwa Elisa memang terbukti mampu menyamai pria, Ia mampu
melakukan segala sesuatu pekerjaan pria dengan baik. Kepercayaan diri timbul
ketika Elisa merasa mampu melakukan apa yang dilakuakn pria dengan baik. Hal
tersebut karena terdapat sutau kepuasan diri, ‘smugness’, dari seorang Elisa, dan dapat merepresentasikan ada kepuasan dalam diri
seorang wanita ketika Ia mampu menunjukkan dirinya sebagai sosok yang juga
dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria. Dalam hal ini Elisa
mampu melakukan pekerjaan berkebun, beternak bahkan seperti yang terdapat dalam
kutipan diatas Elisa mampu menghasilkan crop
yang bagus dan hal tersebut membuktikan bahwa Elisa memang mampu melakuakan
pekerjaan pria.
“I mean you look different, strong, and happy.” (halaman 9)
Kutipan-kutipan diatas juga menegaskan kata ‘strong’, dalam hal ini terdapat suatu
pernyataan yang dapat diinterpretasikan dari kata ‘different’ yang disandingkan dengan kata ‘strong’. Saya menginterpretasikan hal tersebut sebagai adanya suatu
pernyataan bahwa Elisa berbeda dari wanita lain, dimana dengan ke’strong’annya tersebutlah yang
menjadikannya berbeda. Hal tersebut merepresentasikan suatu pernyataan bahwa
wanita juga dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria, dimana
pada saat itu wanita penuh dengan ‘keterbatasan’. Sesuatu hal yang tabu apabila
seorang wanita melampaui apa yang biasanya dilakukan atau dikerjakan oleh
seorang wanita. Disinilah kata ‘different’
menjadi suatu penanda dimana seakan menonjolkan sosok wanita yang berbeda dari
biasanya, yang tidak hanya melakukan pekerjaan wanita. Selain itu ini juga
menonjolkan sisi wanita dimana Elisa sebagai penanda melawan ‘keterbatasan’
seorang wanita pada umumnya. Hal tersebut menegaskan bahwa wanita juga mampu
melakuakan apa yang dilakukan oleh pria sebab wanita itu kuat.
“I am strong? Yes, strong. What do you mean ‘strong’?”(halaman9)
You look strong enough to break a calf over your knee…. (halaman9)
“I am strong,“ She boasted “I never knew before how strong.” (halaman 9)
Kutipan diatas merepresentasikan bahwa apa yang
dilakukan Elisa, dimana Ia berbeda dengan wanita lain, seakan tidak Ia sadari.
Bahkan dapat kita lihat dari kutipan-kutipan diatas bahwa Elisa merasa sedikit
meragukan kekuatan yang Ia miliki sehingga menjadi pembeda dari wanita lain. Namun
disisi lain Ia seakan diyakinkan bahwa sebenarnya begitu ‘kuatnya’ diri seorang
Elisa. Elisa pun pada akhirnya meyakini bahwa Ia memang kuat sehingga Ia
berbeda dengan wanita lain.
Her figure looked blocked and heavy in her gardening costume, a man’s
black hat pulled low down over her eyes… (halaman 1)
Dari kutipan diatas kita dapat menginterpretasikan
bahwa Elisa seakan-akan menjelma menjadi pria atau seperti pria, hal tersebut
dapat terlihat dengan Elisa menggunakan ‘man’s
black hat’. Disini terlihat bahwa ada penegasan dimana dengan Elisa
menggunakan ‘man’s black hat’
terkesan seperti Elisa menonjolkan sisi kelelakiannya. Selain itu penggunaan ‘man’s black hat’ oleh Elisa menjadi
representasi dari adanya ‘break the rule’
sebab Elisa dirasa telah keluar dari apa yang wanita lain biasanya gunakan.
Sehingga menimbulkan sisi kelelakian yang menyimbolkan adanya perlawanan diri
bahwa wanita pun bisa seperti pria.
A figured print dress almost completely covered by a big corduroy apron
with four big pockets to hold the snips, the trowel, and scratcher, the seeds
and the knife she worked with. (halaman 1)
Jika tadi ‘man’s
black hat’ merupakan representasi dari kelelakian Elisa, selain itu kutipan
diatas menunjukkan kelelakian sosok Elisa yang lainnya. The snips, the trowel, the scratcher, the seeds and the knife merupakan
peralatan yang biasa digunakna untuk berkebun. Berkebun biasa dilakukan oleh
pria dan dapat dikatakan dalam hal ini sebagai petanda dari kelelakian. Selain
itu peralatan diatas juga biasa digunakan oleh pria, sedang Elisa juga
menggunaknannya sehingga timbul suatu pernyataan bahwa Elisa menonjolkan sisi
kelelakiannya dengan menggunakan peralatan tersebut. Ada penegasan disini
dimana dengan Elisa menggunakan peralatan tersebut menonjolkan bahwa Elisa
berbeda dengan wanita pada umumnya. Elisa seakan keluar dari ‘batas’ wanita
pada umumnya, selain itu hal tersebut menunjukkan bahwa wanita dapat melakukan
apa yang pria lakukan.
Her face was eager and mature and handsome; even her work with the
scissors was over- eager, over-powerful. (halaman
1)
Kutipan yang satu ini saya rasa sangatlah unik dan
menarik dimana dengan jelas disini terpampang bahwa Elisa dilukiskan seperti
seorang pria dengan kata ‘handsome’.
Seperti yang diketahui bhawa handsome sangat identik dengan kelelakian. Dengan
digunakannya kata handsome untuk
melukiskan Elisa dapat diinterpretasikan bahwa kutipan tersebut menegaskan sisi
kelelakian Elisa sehingga tidak tanggung-tanggung dipergunakanaah kata handsome tersebut.
The chrysanthemum stems seemed too small and easy for her energy. (halaman 1)
Kutipan diatas menunjukkan bahwa seorang wanita, dalam
hal ini Elisa, begitu luar biasa sebab Ia mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan
pria dengan baik. Hal tersebut direpresentasikan dengan kutipan diatas, bahwa dengan
kekuatannya tersebut Elisa seakan begitu ‘perkasa’ sehingga terasa sekan tidak
ada pekerjaan pria yang berat untuknya. Tentu saja hal tersebut sangat berbeda
dengan perempuan pada umumnya apalagi dengan anggapan umum terhadap perempuan
yang seakan dianggap ‘remeh’ atau dipandang tidak bisa melakukan pekerjaan
pria.
“I wish women could do such things.” (halaman
7)
“You might be surprised to have a rival sometime” (halaman 8)
“I can sharpen scissors, too. And I can beat the dents out of little
pots. I could show you what a woman might do.” (halaman 8)
Dari kutipan diatas saya berinterpretasi bahwa Elisa ingin
menunjukkan diri sebagai seorang wanita yang kuat dan tak terkalahkan bahkan
sekalipun oleh pria. Sisi ini muncul sebagai representasi feminisme dalam diri
Elisa dimana Elisa menganggap dirinya mampu untuk melakukan apapun pekerjaan
yang biasa dilakukan pria seperti dalam kutipan diatas yaitu beat the dents out of little pots.
Dengan demikian kita bisa melihat bahwa Elisa menonjolkan dirinya sebagai
wanita ‘perkasa’ dimana ingin membuktikan bahwa wanita bisa melakukan apapun
pekerjaan pria.
Dengan sisi kelelakian Elisa
ini sebenarnya yang dapat saya soroti adalah menonjolkan sisi feminisme. Dalam cerpen
ini feminisme sangat kental dan memegang kuat ‘kendali’ cerita. Dalam diri
Elisa tertanam sisi feminisme seperti yang terlukis dari perspektif Elisa serta
apa yang Ia lakukan. Seperti apa yang telah dikatakan, Elisa seakan ‘mendobrak’
anggapan umum mengenai wanita yang ‘lemah’ dan ingin menunjukkan bahwa wanita
dapat melakukan setiap pekerjaan atau apapun yang dilakukan oleh pria serta
yang terpenting adalah seberapa kuat seorang wanita.
Selain feminisme,
penyetaraan gender yang dilakuakn
oleh tokoh Elisa sangat kentara dalam cerpen ini. Penyetaraan gender juga
menjadi fokus utama yang saya soroti dari sosok Elisa. Hal tersebut bisa
diinterpretasikan dari beberapa kutipan berikut
Ellisa Allen, working in her flower garden,….. (halaman 1)
Her figure looked blocked and heavy in her gardening costume, a man’s
black hat pulled low down over her eyes… (halaman 1)
A figured print dress almost completely covered by a big corduroy apron
with four big pockets to hold the snips, the trowel, and scratcher, the seeds
and the knife she worked with. (halaman 1)
Her face was eager and mature and handsome; even her work with the
scissors was over- eager, over-powerful. (halaman
1)
Beberapa kutipan diatas menunjukan bahwa Elisa
merupakan sosok wanita yang sangat ‘luar biasa’. Dengan Ia berkebun,
menggunakan peralatan yang biasanya digunakan pria, dan melakukan pekerjaan
yang biasa dilakukan oleh pria tentu dapat saya interpretasikan bahwa dalam hal
ini Elisa melakukan ‘usaha-usaha’ penyetaraan gender. Elisa menonjolkan bahwa meskipun Ia seorang wanita tetapi
Ia juga bisa melakukan pekerjaan pria sehingga menimbulkan pernyataan bahwa wanita
dan pria sama saja, diamna wanita juga mampu seperti pria. Apalagi dengan Elisa
mengenakan pakaian berkebun dan juga
man’s black hat serta Ia digambarkan sebagai sosok wanita yang ‘handsome’ maka semakin mempertegas
dirinya bahwa meskipun Elisa seorang wanita tetapi Ia bisa ‘menjelma’ layaknya
seorang pria.
“All right, then. I’ll go get up
a couple of horses.” (halaman 3)
She said, “I’ll have plenty of time to transplant some of these sets, I
guess.” (halaman 3)
Kutipan diatas menunjukan bahwa Elisa seakan tidak mau
kalah dengan Henry, suaminya. Elisa merasa bahwa dirinya juga memiliki
kesibukan yang sama dengan suaminya. Ia mampu bekerja dengan baik meskipun Ia
seorang wanita. Disini terlihat bahwa Elisa layaknya seperti kebanyakan wanita
modern saat ini yang juga memiliki kesibukan aktifitas kerja sama halnya dengan
seorang pria. Dengan demikian hal tersebut menegaskan bahwa wanita juga mampu
seperti pria, mampu melakuakna pekerjaan apapun tak terkecuali pekerjaan pria.
“It must be very nice. I wish women could do such things.” (halaman 7)
Kutipan diatas dengan jelas menegaskan bahwa Elisa
berpandangan jika seorang wanita dapat melakuakn apapun layaknya seperti pria
yang dapat melakukan apapun tentu akan menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Dengan pandangan seperti itu maka tidak heran bila Elisa melakukan hal-hal
seperti pria.
“I’m sorry,” said Elisa irritably. “I haven’t anything for you to do.” (halaman 5)
“You might be surprised to have a rival sometime” (halaman 8)
“I can sharpen scissors, too. And I can beat the dents out of little
pots. I could show you what a woman might do.” (halaman 8)
Kutipan-kutipan diatas dapat saya interpretasikan
bahwa Elisa merasa dirinya dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh
pria. Elisa merasa bahwa si penambal panci seakan ‘meremehkannya’, sehingga Ia
pun dengan lantang menolak si penambal panci untuk melakuakan pekerjaan
untuknya. ‘I haven’t anything for you to
do’ menunjukan bahwa Elisa tidak perlu bantuan dari pria, dalam hal ini si
penambal panci, karena segala sesuatunya dapat Ia kerjakan sendiri. Bahkan
Elisa merasa bahwa Ia mampu lebih baik daripada pria, Ia merasa bahwa si
penambal panci yang dianggap handal melakukan pekerjaannya merupakan rival bagi Elisa. Dengan begitu Elisa
ingin menunjukan kepada pria bahwa seorang wanita juga mampu melakukan hal-hal
yang ‘berbau’ kelaki-lakian bahkan mampu lebih baik daripada mereka.
Akan
tetapi sebagaimanapun atau sekuat apapun Elisa berusaha untuk menyetarakan
dirinya dengan pria, Elisa tetaplah seorang wanita. Dalam cerpen ini
ditonjolkan juga bahwa usaha penyetaraan gender
yang dilakukan oleh Elisa terasa ‘sia-sia’. Hal tersebut karena para pria,
seperti Henry dan si penmabal panci memandang Elisa tetaplah wanita biasa yang
juga dirasa tidak ada apa-apanya dibanding dengan pria. Dan hal tersebut juga
disadari oleh Elisa.
“There’s fights tonight. How’d you like to go to the fights?” (halaman 2)
“Oh, no,” she said breathlessly. “No, I wouldn’t like fights.” (halaman 2)
“Now you’re changed again,” Henry complained. (halaman 10)
“Henry, at those prize fights, do the men hurt each other very much?” (halaman 10)
“Do any women ever go to the fights?” she asked. (halaman 10)
“…..Do you want to go? I don’t think you’d like it, but I’ll take you if
you really want to go.” (halaman 10)
“Oh, no. No. I don’t want to go. I’m sure I don’t.” (halaman 10)
Interpretasi dari kutipan diatas menunjukan bahwa meskipun
Elisa bertindak layaknya seorang pria akan tetapi Ia tetap menyadari bahwa Ia
seorang wanita dan ada hal-hal yang tidak ingin Elisa lakukan layaknya seorang
pria. ‘Fights’ dalam hal ini menjadi
petanda kelaki-lakian, dimana Elisa merasa Ia tidak mau melakukan hal tersebut.
Dari beberapa kutipan diatas dapat dilihat bahwa wanita tidak bisa selalu
diosetarakan dengan pria, dimana tetap saja ada hal-hal yang tidak mampu
dilakukan oleh wanita. Bahkan Elisa sendiripun menyadari hal tersebut sehingga
Ia menyatakan dengan tegas tidak mau melakukan ‘fights’ karena Ia menyadari hal tersebut biasa dilakukan oleh pria.
Her breast swelled passionately. (halaman 7)
She tightened
her stomach and threw out her chest. (halaman 8)
Elisa tetaplah seorang wanita hal tersebut seperti
yang ditunjukan oleh kedua kutipan diatas, dimana ‘breast’ menjadi petanda kewanitaanya. Hal ini menunjukan bahwa
bagaimanapun Elisa, ada hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Ia merupakan
seorang wanita layaknya wanita lain pada umumnya yang memiliki ‘breast’ meskipun Ia ‘berlaga’ seperti
seorang pria.
“It ain’t the
right kind of a life for a woman.” (halaman 7)
“How do you
know? How can you tell?” she said. (halaman7)
“It would be a
lonely life for a woman, ma’am and scarcely life too….” (halaman 8)
Kutipan diatas menunjukan bahwa ada penolakan
pandangan dari seorang pria dimana wanita ya tetaplah wanita yang tidak bisa
disamakan dengan pria. Sehingga jadinya disini terlihat dengan jelas bahwa
bagaimanapun wanita ingin menyatarakan dirinya dengan pria tetap saja ada
hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh wanita. Elisa merasa tersinggung dengan
pernyataan si penambal panci sebab Ia merasa si penambal panci tidak tahu
apa-apa tentang wanita. Akan tetapi tetap saja si penambal panci menganggap
bahwa wanita tetap tidak setara dengan pria.
In the kitchen she reached behind the stove and felt the water tank. (halaman 8)
Elisa menunjukan sisi kewanitaannya dilihat dari
kutipan diatas, dimana layaknya perempuan pada umumnya yang berada di dapur dan
melakukan aktifitasnya. Disini kitchen menjadi
petanda kewanitaanya. Dengan demikian hal tersebut menunjukan bahwa Elisa tetap
seperti wanita-wanita lain pada umumnya yang tak dapat Ia pungkiri.
In the bathroom she tore off her soiled clothes and flung them into the
corner. (halaman 8)
….she stood in front of a mirror in her bedroom and looked at her body. (halaman 8)
She turned and looked over her shoulder at back. (halaman 8)
She put her newest underclothing and her nicest stocking and the dress
which was the symbol of her prettiness. (halaman 8)
….pencilled her eyebrows and rouged her lips. (halaman 8)
Beberapa kutipan diatas menegaskan bahwa Elisa
layaknya wanita biasa lainnya. Ketika Ia melepaskan pakaian berkebunnya Ia
menjadi seperti wanita lain pada umumnya. Kata-kata ‘a mirror’ menegaskan bahwa Elisa melihat dirinya sendiri memanglah
seorang wanita biasa seperti pada umumnya, selain itu ‘looked at her body’ menjadi representasi bahwa Elisa menyadari
dirinya memanglah seorang wanita yang tidak bisa disetarakan dengan pria bagaimanapun.
Petanda-petanda kewanitaan dimunculkan dalam kutipan-kutipan diatas dimana pada
awalnya Elisa mengenakan petanda-petanda kelelakian. Dengan Elisa mengenakan the dress yang merupakan symbol of her prettiness tentu
memunculkan diri Elisa sebagai seorang wanita seutuhnya yang terlepas dari
kelelakiannya. Elisa pun layaknya wanita lain yang mempercantik dirinya dengan
bersolek, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa bagaimanapun yang dilakukan
Elisa, Ia tetaplah seorang wanita yang tentu berbeda degan pria.
She turned up her coat collar so he could not see that she was crying
weakly-like an old woman. (halaman 11)
Kutipan diatas menjadi pamungkas dari spekulasi
penyetaraan gender dalam cerpen ini.
Hal tersebut karena Elisa pada akhirnya menyadari dirinya merupakan seorang
wanita. Dan bagaimanapun usaha penyetaraan gender
yang Ia lakukan, Ia tetap seorang wanita. Dan dapat saya interpretasikan
bahwa disini Ia menangis karena Ia menyadari wanita tetap tidak bisa
disetarakan dengan pria. Bahkan Ia merasa terluka menghadapi kenyataan
tersebut. Ketidakberdayaan sosok perempuannya muncul ketika Ia menangis.
Apalagi Ia merasa seakan para pria tetap memnadang ‘remeh’ dan tidak menghargai
dirinya meskipun Ia telah bertindak seperti seorang pria.
F.
Simpulan
The Chrysanthemums terkonstruksi
dengan adanya issue feminisme dan
penyetaraan gender yang dieksploitasi
oleh tokoh Elisa. Cerita pendek The
Chrysanthemums menunjukan bahwa bagaimanapun usaha wanita untuk dapat
‘mendobrak’ anggapan umum mengenai wanita tetap saja hal tersebut tidak berarti
apa-apa bagi pria manapun. Usaha penyetaraan gender yang dilakukan oleh tokoh Elisa pun ternyata sia-sia saja
sebab toh wanita tetap saja sebagai wanita biasa yang dianggap tidak dapat
menyamai pria.
Referensi
Irwan, Zoera’ini
Djamal. 2009. Besarnya Eksploitasi
Perempuan dan Lingkungan di Indonesia: Siapa Bisa Mengendalikan Penyulutnya?.
Jakarta: Gramedia.
Djajanegara,
Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis:
Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Siregar, Hetty. 1999.
Menuju Dunia Baru. Jakarta: BPK
Gunung Mulia.
Sadli, Saprinah.
2010. Berbeda Tetapi Setara: Pemikiran
Tentang Kajian Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Siregar, Ashardi. 2010. Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia.
Sunarto. 2009. Televisi,
Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar