Selalu
saja mereka berlalu tak peduli padaku. Aku hanya terdiam melihat keadaan
sekelilingku. Hujan turun terhempas terbawa angin, rintiknya mengenai sebagian
tubuhku. Dingin.. begitu dingin aku rasakan saat rintik hujan menempel di
tubuhku layaknya es yang menerjang tubuhku. Aku berusaha menyingkirkan air
hujan itu,
Matahari
belum terlalu panas untuk mengeringkan jalanan siang itu. Sisa hujan masih
nampak dimana-mana. Aku masih diam berteduh di bawah bangunan kosong. Aku tahu
ini akan membuat aku lebih baik. Aku tidak mau kalau sampai tubuhku terkena air
lagi karena itu sanagt mengggangguku. Aku ringkukkan badanku agar lebih hangat,
aku sangat tidak suka akan dingin. Mereka memulai aktifitas mereka lagi hujan
hanya memberhentikan mereka sementara seakan memberikan jeda untuk mereka dapat
menikmati waktu berlalu tanpa memikirkan proyek, bisnis, dan segala macam
tentang uang. Mereka terlalu sibuk memikirkan uang hingga tak tersadari mereka
lupa akan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang mereka pikir adalah
kebahagiaan memiliki uang. Tapi aku rasa uang tidak menjamin kebahagiaan,
buktinya tanpa uang aku tetap bisa hidup dan berbahagia.
Mereka
berlalu dihadapanku tanpa peduli akan adanya diriku. Menoleh pun mereka tak
mau. Kehidupan mereka dipenuhi dengan ambisi akan uang. Rela melakukan apapun
demi uang. Uang adalah dewa bagi mereka. Mereka puja, mereka banggakan.Tanpa
mereka sadari uang telah membutakan hati nurani mereka.
Lihat
saja orang di seberang jalan sana, Ia sedang asyik memamerkan kekayaannya.
Memang tidak secara gamblang Ia melakukannya tapi gerak-geriknya menunjukkan
bahwa Ia ingin semua orang tahu bahwa Ia memiliki uang yang banyak dan mampu
memiliki barang-barang mewah. Sepatunya mengkilap hingga dari sini terlihat
begitu menyilaukan mataku. Begitupun dengan jam tangannya berkilau saat terkena
matahari. Tangan kanan dan kirinya dipenuhi gadget-gadget
yang tentunya mahal menurutku.
Saat seorang
pengemis bersama anaknya yang masih kecil menghampirinya, mengharap belas
kasihan dan seakan tidak mempunyai harga diri lagi, orang yang terlihat kaya
itu hanya memandang sinis dan merendahkannya tanpa memberikan sedikitpun
uangnya. Pengemis itu pun berlalu dengan wajah menunduk seakan sedang mencari
kembali harga dirinya yang telah hilang. Ia melakukan itu demi uang. Aku
menatap ke arah lelaki itu, ku lihat kerlingan matanya yang begitu tajam. Ia
merasa bahwa Ia adalah orang yang paling bahagia dengan apa yang Ia miliki. Aku
terus melayangkan pandang ke sekitarku. Tapi tak ada seorangpun yang menoleh
padaku. Mereka sibuk bahkan untuk peduli pada sekitarnya.
Matahari
sekarang terasa lebih panas. Jalanan telah kering, sisa hujan nampak berkurang
sedikit demi sedikit. Aku telah siap berkeliling sekarang. Untuk mempertahankan
hidupku aku tidak harus mempunyai uang. Cukup dengan berkeliling aku bisa
mendapatkan makanan yang dapat mengurangi rasa laparku. Selain itu untuk tidur
aku hanya cukup meringkuk di tempat manapun yang aku kehendaki tanpa harus
menyewa penginapan atau bahkan hotel-hotel berbintang.
Aku
berjalan melenggak-lenggokkan tubuhku. Sekedar berjalan-jalan sore tapi jika
aku menemukan makanan tentu saja tu adalah keberuntunganku untuk hari ini. Aku
bisa melanjutkan hidupku tanpa bergantung pada uang. Aku bisa mencari sendiri
makanan untukku, hanya bisa berusaha dan berdo’a pada Tuhan agar aku
mendapatkan rizkiku untuk hari ini, selanjutnya aku hanya tinggal berusaha
saja.
Aku
melewati setiap jalan, mencoba mencari rizkiku. Dengan penuh semangat terus
kususuri jalan-jalan. Setiapa kali melewati jalan yang satu akau selalu
berharap semoga aku mendapatkan rizkiku dengan segera. Tapi jika yang aku
harapkan tidak menjadi kenyataan, aku hanya bisa bersabar dan yakin bahwa di
jalan lain pasti akan kutemukan rizkiku. Tanpa pernah merasa menyerah aku tetap
menyusuri setiap jalan. Aku melihat seekor kucing, Ia gemuk sekali.
Bulu-bulunya memang tak seindah kucing-kucing rumahan yang selalu pergi ke
salon. Ia menatapku dengan tatapan penuh percaya diri. Aku melihat kucing itu
di sebuah kaca jendela rumah makan, yaa..
kucing itu adalah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar