Jumat, 07 Februari 2014

Kucing Itu



Selalu saja mereka berlalu tak peduli padaku. Aku hanya terdiam melihat keadaan sekelilingku. Hujan turun terhempas terbawa angin, rintiknya mengenai sebagian tubuhku. Dingin.. begitu dingin aku rasakan saat rintik hujan menempel di tubuhku layaknya es yang menerjang tubuhku. Aku berusaha menyingkirkan air hujan itu,
Matahari belum terlalu panas untuk mengeringkan jalanan siang itu. Sisa hujan masih nampak dimana-mana. Aku masih diam berteduh di bawah bangunan kosong. Aku tahu ini akan membuat aku lebih baik. Aku tidak mau kalau sampai tubuhku terkena air lagi karena itu sanagt mengggangguku. Aku ringkukkan badanku agar lebih hangat, aku sangat tidak suka akan dingin. Mereka memulai aktifitas mereka lagi hujan hanya memberhentikan mereka sementara seakan memberikan jeda untuk mereka dapat menikmati waktu berlalu tanpa memikirkan proyek, bisnis, dan segala macam tentang uang. Mereka terlalu sibuk memikirkan uang hingga tak tersadari mereka lupa akan kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang mereka pikir adalah kebahagiaan memiliki uang. Tapi aku rasa uang tidak menjamin kebahagiaan, buktinya tanpa uang aku tetap bisa hidup dan berbahagia.
Mereka berlalu dihadapanku tanpa peduli akan adanya diriku. Menoleh pun mereka tak mau. Kehidupan mereka dipenuhi dengan ambisi akan uang. Rela melakukan apapun demi uang. Uang adalah dewa bagi mereka. Mereka puja, mereka banggakan.Tanpa mereka sadari uang telah membutakan hati nurani mereka.
Lihat saja orang di seberang jalan sana, Ia sedang asyik memamerkan kekayaannya. Memang tidak secara gamblang Ia melakukannya tapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa Ia ingin semua orang tahu bahwa Ia memiliki uang yang banyak dan mampu memiliki barang-barang mewah. Sepatunya mengkilap hingga dari sini terlihat begitu menyilaukan mataku. Begitupun dengan jam tangannya berkilau saat terkena matahari. Tangan kanan dan kirinya dipenuhi gadget-gadget yang tentunya mahal menurutku.
Saat seorang pengemis bersama anaknya yang masih kecil menghampirinya, mengharap belas kasihan dan seakan tidak mempunyai harga diri lagi, orang yang terlihat kaya itu hanya memandang sinis dan merendahkannya tanpa memberikan sedikitpun uangnya. Pengemis itu pun berlalu dengan wajah menunduk seakan sedang mencari kembali harga dirinya yang telah hilang. Ia melakukan itu demi uang. Aku menatap ke arah lelaki itu, ku lihat kerlingan matanya yang begitu tajam. Ia merasa bahwa Ia adalah orang yang paling bahagia dengan apa yang Ia miliki. Aku terus melayangkan pandang ke sekitarku. Tapi tak ada seorangpun yang menoleh padaku. Mereka sibuk bahkan untuk peduli pada sekitarnya.
Matahari sekarang terasa lebih panas. Jalanan telah kering, sisa hujan nampak berkurang sedikit demi sedikit. Aku telah siap berkeliling sekarang. Untuk mempertahankan hidupku aku tidak harus mempunyai uang. Cukup dengan berkeliling aku bisa mendapatkan makanan yang dapat mengurangi rasa laparku. Selain itu untuk tidur aku hanya cukup meringkuk di tempat manapun yang aku kehendaki tanpa harus menyewa penginapan atau bahkan hotel-hotel berbintang.
Aku berjalan melenggak-lenggokkan tubuhku. Sekedar berjalan-jalan sore tapi jika aku menemukan makanan tentu saja tu adalah keberuntunganku untuk hari ini. Aku bisa melanjutkan hidupku tanpa bergantung pada uang. Aku bisa mencari sendiri makanan untukku, hanya bisa berusaha dan berdo’a pada Tuhan agar aku mendapatkan rizkiku untuk hari ini, selanjutnya aku hanya tinggal berusaha saja.
Aku melewati setiap jalan, mencoba mencari rizkiku. Dengan penuh semangat terus kususuri jalan-jalan. Setiapa kali melewati jalan yang satu akau selalu berharap semoga aku mendapatkan rizkiku dengan segera. Tapi jika yang aku harapkan tidak menjadi kenyataan, aku hanya bisa bersabar dan yakin bahwa di jalan lain pasti akan kutemukan rizkiku. Tanpa pernah merasa menyerah aku tetap menyusuri setiap jalan. Aku melihat seekor kucing, Ia gemuk sekali. Bulu-bulunya memang tak seindah kucing-kucing rumahan yang selalu pergi ke salon. Ia menatapku dengan tatapan penuh percaya diri. Aku melihat kucing itu di sebuah kaca jendela rumah makan, yaa.. kucing itu adalah aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar