SARAH FITRI RABBANI
1211503125
BSI/III/D
Dunia dalam Hawa
Nafsu yang Menggebu
Setiap kali membaca koran dan majalah, menonton televisi,
mendengarkan radio, melihat jejaring sosial, membuka internet, dan melintas di jalan-jalan
selalu dipenuhi dengan penawaran-penawaran yang seolah-olah membuat mata kita
terbelalak olehnya. Iklan dijumpai dimana-mana serasa menghantui keberadaan
kita. Membayang-bayangi dengan segala keanggunanya. Lama-kelamaan serasa
seperti memaksa kita untuk menyukainya lalu terbujuk untuk membelinya.
Para produsen bersama para pembuat iklan memang jadi
seakan berpesta pora menikmati perkembangan zaman dimana masyarakatnya mudah
terbujuk oleh rayuan-rayuan kosong. Para
produsen berlomba membayar mahal agar produknya dapat diterima dan dikagumi
oleh masyarakat. Salah satu jalannya yaitu dengan menampilkan iklan seberkesan
mungkin di hati masyarakat. Iklan dewasa ini tidak hanya menjadi suatu alat
untuk memasarkan suatu produk akan tetapi menjadi suatu trend di kalangan masyarakat seperti jargon-jargon yang sering
diikuti oleh masyarakat. Semua penawaran tersebut telah membuat masyarakat semakin
terlarut.
Itu merupakan realitas kehidupan kita di zaman sekarang
ini yang tidak dapat terelakkan lagi. Masyarakat dunia semakin
berbondong-bondong memperkaya diri. Menuhankan kekayaan mendewakan uang. Segala
sesuatunya dinilai dengan uang. Uang, uang, dan uang menjadi pangkal bencana
seakan kehilangan fungsi awalnya sebagai alat tukar-menukar. Keadilan, harga
diri, jabatan, kemewahan, kepuasan dengan mudahnya dibeli dengan uang. Semakin
terperosoklah masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan. Jangan
tercengang bila sekarang semakin banyak kejahatan. Perampokan, pencurian,
pencopetan, pemerkosaan, pembunuhan yang sekarang sudah seperti hal biasa yang
dikonsumsi masyarakat. Pernahkah terlintas dibenak kita mengapa semakin banyak
orang yang mendadak gila? Semakin banyak orang gila yang kita temui di jalanan
sebenarnya itu merupakan salah satu bukti nyata dari keedanan zaman yang menuhankan
kekayaan dan mendewakan uang.
Jadi, siapakah atau apakah yang harus bertanggung jawab
atas kebobrokan zaman saat ini? Haruskah
kita saling menuding? Kita saling menuding sementara kita sendiri bisa jadi merupakan
salah satu agen yang membuat kekacauan dunia menjadi sangat parah. Masyarakat
dunia menyadari benar akan adanya kebobrokan-kebobrokan yang semakin menyeruak,
akan tetapi masyarakat dunia seakan lebih memusatkan perhatiaannya pada
masalah-masalah lain. Seakan mereka menikmati keadaan ini. Keadaan dimana uang
adalah segalanya. Tanpa disadari bahwa pangkal dari kebobrokan ini merupakan
uang yang mereka dewakan. Benang kusut harus lah kita rapikan secepatnya agar
mengetahui dimana ujung pangkalnya semua ini.
Globalisasi dituding sebagai biang kerok dari semua
kekacauan di dunia. Semua permasalahan pada akhirnya disudutkan pada
globalisasi dari mulai adanya perubahan budaya, pergeseran nilai, kebobrokan
moral, hingga permasalahan sampah. Memang diakui bahwa globalisasi menjadi
pintu utama masuknya segala pengaruh buruk. Globalisasi secara singkat
dikatakan sebagai suatu tatanan kehidupan manusia yang secara global telah
melibatkan seluruh umat manusia[1]. Dengan adanya globalisasi
maka segala batas-batas yang menjadi penyekat antar Negara menjadi terkikis dan
bahkan seakan hilang. Dengan begitu pengaruh satu Negara dapat dengan mudah masuk
ke Negara yang lain.
Negara-negara penguasa dunia menjadikan globalisasi
sebagai pengontrol dari kekuasaannya tersebut. Globalisasi seakan menjadi
sebuah topeng yang digunakan oleh Negara-negara penguasa untuk menjadi penguasa
atas Negara-negara lainnya. Maka dari itu para penguasa semakin menggila dalam
mempromokan globalisasi. Akan tetapi realitas yang ada adalah akibat dari
adanya globalisasi yang tak dapat terhentikan. Globalisasi layaknya sebuah
gelombang yang terus menerjang dan mengikis habis kehidupan masyarakat dunia
sehingga seakan terbawa arus begitu saja.
Globalisasi menjadi sekedar peralihan yang dipersalahkan
untuk bencana-bencana yang sekarang terjadi menimpa masyarakat dunia.
Masyarakat dunia dilanda kekhawatiran yang luar biasa, yaitu kekhawatiran akan
uang. Ya, pada akhirnya tetap kembali pada uang. Cikal bakal dari terjadinya
kekeliruan dalam mendewakan uang adalah adanya kapitalisme. Kapitalisme telah
merubah pola pikir masyarakat dunia. Sebenarnya globalisasi merupakan hasil
manipulasi dari kapitalisme. Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari
filsafat kuno romawi[2]. Hal tersebut didasari
oleh ambisi rasa ingin memiliki kekuatan untuk meluaskan pengaruh serta
kekuasaan.
Falsafah kapitalisme ialah membiarkan masyarakat berusaha
dengan bebas, didorong oleh nafsu manusia serendah-rendahnya, seperti
keserakahan, kepentingan pribadi, dan ingin berkuasa, dalam mengejar kekayaan
dan kekuasaan sebesar-besarnya[3]. Kapitalisme telah memanjakan hawa nafsu
sehingga diri menjadi diperbudak oleh hawa nafsu. Kapitalisme telah menciptakan
suatu tatanan baru dalam kehidupan dimana masyarakatnya hanya memikirkan tentang
bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga pola pikir
serta pola perilaku mereka berorientasi terhadap uang.
Nafsu yang melambung tinggi seakan tak bisa terpadamkan
sehingga hasrat untuk mengejar kekayaan serta mendapat kekuasaan haruslah
terpenuhi, tanpa peduli akan sekitarnya. Inilah yang menjadi bencana besar bagi
dunia disaat hawa nafsu menjadi sangat diutamakan. Masyarakat dunia seakan
kehilangan semua sistem nilai serta moral. Nafsu akan sesuatu yang semu telah
membuat masyarakat dunia seakan telah kehilangan hati nuraninya. Kepuasaan akan
pemenuhan hasrat menjelma menjadi suatu wabah mengerikan bernama konsumerisme.
Konsumerisme
menjadi suatu perwujudan dari pemberhalaan hasrat akan pemenuhan kepuasan hawa
nafsu. Masyarakat dunia sedang mengalami suatu ketergantungan dimana merasa
tidak pernah puas akan sesuatu bahkan secara terus menerus selalu ingin melakukan
konsumsi. Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas. Oleh karenanya hasrat
ketidak puasaan yang ada di dalam diri manusia akan semakin terangsang oleh
segala macam bujuk rayu. Maka tidak heran masyarakat dunia, khususnya di
Indonesia sekarang ini menjadi sangat konsumtif. Kapitalisme terus menerus
menciptakan kebutuhan baru untuk menjaga kelangsungan konsumerisme[4]. Hal tersebut membuat
masyarakat lupa akan kebutuhan utamanya. Orang sudah tidak bisa membedakan lagi
antara kebutuhan (need) dengan
keinginan (want)[5].
Di dalam
kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang kedalaman spiritual, maka
sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari dari sebuah revolusi dalam
penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu[6]. Inilah dia pangkal utama
dari terperosoknya masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan dan
kehancuran dimana hawa nafsu menjadi penguasa utama. Segala sesuatu hal
dilakukan demi mendapatkan kepuasan. Hawa nafsu yang menggebu menjadi suatu pendorong
terjadinya segala permasalahan masyarakat dunia saat ini.
Masyarakat
dunia seakan dibutakan oleh pesona kemajuan zaman, dimana segala sesuatu bisa
didapatkan asal mempunyai uang. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan uang,
tak jarang hingga harus melakukan hal-hal jahat, keji, kotor, dan hina. Hal
tersebut dilakukan untuk apa lagi jika bukan untuk memenuhi hasrat akan kepuasan
nafsunya. Hingga tak mengherankan ketika sekarang ini banyak remaja yang rela
menjual keperawanannya hanya demi segepok uang. Sungguh ironis melihat keadaan
masyarakat sekarang ini. Rasanya sudah tak ada lagi rasa malu, harga diri serta
kehormatan telah dikesampingkan, nilai-nilai moral telah dilenyapkan. Para
koruptor dengan roman wajahnya yang tanpa rasa berdosa masih mengumbar
senyumnya seakan-akan mereka tidak memiliki beban apapun justru mereka menampilkan
seakan-akan telah merasakan suatu kepuasan.
Kapitalisme dan konsumerisme yang terlahir dari hawa
nafsu yang menggebu merupakan pendorong terjadinya kemajuan dalam kebobrokan
serta kehancuran dunia saat ini. Masyarakat berbondong untuk menyaksikan film-film
berbau pornografi dan pornoaksi yang bersembunyi dibalik nama horror. Para
pembuat film hanya memikirkan tentang bagaimana mengeruk keuntungan yang
sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana nasib dunia ini karenanya. Inilah
potret dari realitas saat ini dimana sesuatu dibuat atas dasar mendapatkan
keuntungan saja akan tetapi isinya sama sekali hanya kosong belaka (kitsch). Masyarakat juga saat ini
terlena akan kecanggihan zaman dimana segala sesuatunya menjadi serba instan.
Orang beramai-ramai melakukan operasi “permak” wajah, sedot lemak, bahkan
hingga merubah seluruh tampilan dirinya, dengan tak segan-segan mengeluarkan
uang banyak. Hal tersebut dilakukan hanya untuk pemuasan hawa nafsunya.
Sementara itu, akhir-akhir ini banyak sekali kasus aborsi yang dilakukan oleh
remaja putri, hal tersebut semata-mata karena mereka tidak mau bertanggung
jawab serta menanggung risiko dari apa
yang telah diperbuatnya. Mereka hanya mau merasakan nikmatnya saja tapi tidak
mau menanggung risikonya, apa itu tak lebih untuk dikatakan sebagai seorang
pengecut? Anorexia kini sedang
menjangkiti masyarakat dunia. Disisi lain Suatu kenikmatan sesaat (pastiche) seakan menjadi primadona saat
ini, anak-anak sekolah bahkan anak-anak SD zaman sekarang lebih sering terlihat
main, dan “jajan” di warnet main game
on-line. Masyarakat dunia sekarang ini sedang berlomba untuk menjadikan
dirinya diakui keberadaannya, yaitu dengan mendapatkan suatu popularitas (popularity), tak jarang banyak hal
dilakukan hanya untuk sebuah popularitas salah satunya orang beramai-ramai
membuat video lalu memajangnya di youtube
dan berharap banyak orang akan menonton dan menyukainya.
Dunia semakin hari semakin menggila, bukan dunia yang
menjadi gila akan tetapi masyarakat dunianya yang menjadi gila. Masyarakat
dunia seakan menjadi kehilangan hati nurani, hilang nilai moralnya, dan lenyap
segala normanya. Segala kegilaan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan.
Pada akhirnya benang kusut dari permasalahan tersebut memperlihatkan ujungnya,
yaitu karena masyarakat dunia gila akan uang dan kekayaan, sebagi tuntutan dari
zaman kapitalisme dengan masyarakat yang konsumerisme. Hawa nafsu yang menggebu
menjadi dasar dari masyarakat melakukan kegilaan-kegilaan yang bertujuan untuk
mememuaskan hasratnya. Jika kita tidak segera sadar dan bijak dalam menyikapi
akan bahaya kehancuran dunia yang semakin dalam maka kita tinggal menunggu
kehancuran dunia akibat dari dunia dalam hawa nafsu yang menggebu.
REFERENSI
Tilaar, H.A.R.
1998. Beberapa Agenda Reformasi
Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html
16/12/12
Sumawinata,
Sarbini. 2004. Politik Ekonomi
Kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Amminudin, M.
Faisal. 2009. Globalisasi dan
Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta:
Logung Pustaka.
Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh,
Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Piliang, Yasraf Amir.
1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas
Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung:
Mizan Pustaka.
[1] Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional
dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
[2]
http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html
16/12/12
[3] Sumawinata, Sarbini. 2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
[4] Amminudin, M. Faisal. 2009. Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan
Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
[5]
Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing:
Inspirasi Menyentuh, Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[6]
Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia
yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme.
Bandung: Mizan Pustaka.
Para produsen bersama para pembuat iklan memang jadi seakan berpesta pora menikmati perkembangan zaman dimana masyarakatnya mudah terbujuk oleh rayuan-rayuan kosong.
BalasHapusLukQQ
Situs Ceme Online
Agen DominoQQ Terbaik
Bandar Poker Indonesia