Jumat, 07 Februari 2014

Hujan di Sore ini



Siang ini begitu sejuk hingga aku tak perlu menambahkan banyak es ke dalam minumanku. Kusedot minuman itu, mengalirlah menyejukkan tenggorokkanku. Sepotong red velvet telah aku habiskan dengan lahapnya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat namun aku masih belum ingin beranjak dari tempat duduk yang nyaman ini.
Para pelayan bolak-balik ke mejaku menawari aku makanan dan minuman, lagi dan lagi. Suasana disini begitu menyenangkan dan membuat aku betah. Aku hanya duduk manis sambil menikmati pesananku dan melanjutkan tulisanku. Waktu seperti ini memang sangat menyenangkan untuk dihabiskan sebab dalam keadaan seperti ini ilham bisa datang dengan mudah mengampiriku untuk menulis sebuah kisah.
Hujan tiba-tiba titik terjatuh membasahi sore ini. Aku pun semakin tertahan untuk pulang. Cuaca akhir-akhir ini memang begitu tak menentu, kadang ketika panas terik tiba-tiba beberapa ment kemudian turunlah hujan. Yaa.. seperti perasaan hatiku yang tiba-tiba dapat berubah seketika. Orang-orang mulai berteduh di seberang jalan sana, dari jendela café aku melihat mereka berjejer rapi layaknya pagar-pagar rumah. Lamunanku membawa aku berpikir apa yang kiranya orang-orang itu sedang pikirkan di saat hujan seperti ini. Aku lihat si penjual koran yang nampak kebingungan. Mungkin ia sedang berpikir apakah hujan ini merupakan berkah atau musibah untuknya. Jika berkah maka saat hujan seperti ini orang-orang akan membeli korannya untuk sekedar melepaskan kebosanan saat berteduh. Dan musibah bila orang-orang berpikir untuk apa membaca koran karena hujan seperti ini jika membaca koran pasti akan mengantuk.
Kulihat si penjual koran bergerak pergi mendatangi satu persatu orang yang sedang berteduh, Ia tawarkan korannya pada mereka. “Tuh kan bener, si penjual koran pasti berpikiran sama denganku.” Aku pun tersenyum karena menurutku ini bisa menghilangkan kejenuhanku menunggu hujan lebat ini reda.
Sekarang ku layangkan pandanganku pada si lelaki pebisnis itu. Aku menebaknya pebisnis karena terlihat dari air mukanya yang tak tenang menunggu hujan. Ia terus saja menatap jamnya sambil tangan kanannya menggenggam handphonenya lalu terlihat hendak menelpon seseorang. Aku mengira Ia pasti menelpon supirnya agar cepat-cepat menjemputnya karena takut kesiangan meeting dengan kliennya. Matanya sedikit melotot dan dengan wajah yang sedikit sinis aku rasa Ia sedang marah pada supirnya itu. Jika dipikir untuk apa Ia menelpon sambil melotot toh si supir tidak akan melihatnya. Ia lalu mematikan telponnya. Tak begitu lama ku lihat Ia menggenggam kempali handphonenya. Sepertinya ada yang menelponnya yang pasti bukan dari supirnya sebab kali ini wajahnya terlihat ramah dengan senyum yang terus Ia tebar. Aku menebak pasti itu telpon dari bosnya. Begitu lah jika kepada bawahan orang begitu mudah untuk menginjak-injaknya tapi atasan selalu saja disanjung-sanjung meskipun jika di belakang mereka tetap saja dibicarakan kejelekannya.
Lain lagi dengan sepasang kekasih itu. Mereka berdiri begitu berdekatan. Tangan kanan si pria selalu saja mengelus-elus rambut si perempuan yang telah basah terkena hujan. Si perempuan menatap manja sang kekasih. Lalu Ia sandarkan kepalanya di atas pundak si pria. Tangan mereka berpegangan begitu erat layaknya tak dapat terpisahkan. Gemerincik hujan bagaikan mengalun indah meramaikan suasana hati mereka. Ku lihat mereka berbincang sedikit. Lalu si pria mengambil handphone kekasihnya. Ia seperti membaca sesuatu dan seketika wajahnya berubah menjadi merah. Ia tatap kekasihnya baik-baik dan terlihat matanya sedikit meelotot sambil jarinya menunjuk-nunjuk kea rah layar hp itu. Si wanita menggenggam tangan si pria dengan wajah yang sedikit memelas memohon maaf. Tapi maaf si wanita tak digubris oleh kekasihnya, genggaman tangan si wanita pun dilepaskannya. Si pria pergi meninggalkan si wanita dengan menerjang hujan. Si wanita hanya menangis tersedu. Semua orang di sekitarnya menyaksikannya dengan terbengong-bengong layaknya baru menyaksikan sinetron secara langsung.
Aku pun tertegun dan memutuskan untuk segera pulang karena aku harus menemui seseorang dan aku takut bernasib sama seperti wanita itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar