Siang
ini begitu sejuk hingga aku tak perlu menambahkan banyak es ke dalam minumanku.
Kusedot minuman itu, mengalirlah menyejukkan tenggorokkanku. Sepotong red velvet telah aku habiskan dengan
lahapnya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat namun aku masih belum ingin
beranjak dari tempat duduk yang nyaman ini.
Para
pelayan bolak-balik ke mejaku menawari aku makanan dan minuman, lagi dan lagi.
Suasana disini begitu menyenangkan dan membuat aku betah. Aku hanya duduk manis
sambil menikmati pesananku dan melanjutkan tulisanku. Waktu seperti ini memang
sangat menyenangkan untuk dihabiskan sebab dalam keadaan seperti ini ilham bisa
datang dengan mudah mengampiriku untuk menulis sebuah kisah.
Hujan
tiba-tiba titik terjatuh membasahi sore ini. Aku pun semakin tertahan untuk
pulang. Cuaca akhir-akhir ini memang begitu tak menentu, kadang ketika panas
terik tiba-tiba beberapa ment kemudian turunlah hujan. Yaa.. seperti perasaan hatiku yang tiba-tiba dapat berubah
seketika. Orang-orang mulai berteduh di seberang jalan sana, dari jendela café aku melihat mereka berjejer rapi
layaknya pagar-pagar rumah. Lamunanku membawa aku berpikir apa yang kiranya
orang-orang itu sedang pikirkan di saat hujan seperti ini. Aku lihat si penjual
koran yang nampak kebingungan. Mungkin ia sedang berpikir apakah hujan ini
merupakan berkah atau musibah untuknya. Jika berkah maka saat hujan seperti ini
orang-orang akan membeli korannya untuk sekedar melepaskan kebosanan saat
berteduh. Dan musibah bila orang-orang berpikir untuk apa membaca koran karena
hujan seperti ini jika membaca koran pasti akan mengantuk.
Kulihat
si penjual koran bergerak pergi mendatangi satu persatu orang yang sedang
berteduh, Ia tawarkan korannya pada mereka. “Tuh kan bener, si penjual
koran pasti berpikiran sama denganku.” Aku pun tersenyum karena menurutku ini
bisa menghilangkan kejenuhanku menunggu hujan lebat ini reda.
Sekarang
ku layangkan pandanganku pada si lelaki pebisnis itu. Aku menebaknya pebisnis
karena terlihat dari air mukanya yang tak tenang menunggu hujan. Ia terus saja
menatap jamnya sambil tangan kanannya menggenggam handphonenya lalu terlihat hendak menelpon seseorang. Aku mengira
Ia pasti menelpon supirnya agar
cepat-cepat menjemputnya karena takut kesiangan meeting dengan kliennya. Matanya sedikit melotot dan dengan wajah
yang sedikit sinis aku rasa Ia sedang marah pada supirnya itu. Jika dipikir
untuk apa Ia menelpon sambil melotot toh si supir tidak akan melihatnya. Ia
lalu mematikan telponnya. Tak begitu lama ku lihat Ia menggenggam kempali handphonenya. Sepertinya ada yang
menelponnya yang pasti bukan dari supirnya sebab kali ini wajahnya terlihat
ramah dengan senyum yang terus Ia tebar. Aku menebak pasti itu telpon dari
bosnya. Begitu lah jika kepada bawahan orang begitu mudah untuk menginjak-injaknya
tapi atasan selalu saja disanjung-sanjung meskipun jika di belakang mereka
tetap saja dibicarakan kejelekannya.
Lain
lagi dengan sepasang kekasih itu. Mereka berdiri begitu berdekatan. Tangan
kanan si pria selalu saja mengelus-elus rambut si perempuan yang telah basah
terkena hujan. Si perempuan menatap manja sang kekasih. Lalu Ia sandarkan
kepalanya di atas pundak si pria. Tangan mereka berpegangan begitu erat
layaknya tak dapat terpisahkan. Gemerincik hujan bagaikan mengalun indah meramaikan
suasana hati mereka. Ku lihat mereka berbincang sedikit. Lalu si pria mengambil
handphone kekasihnya. Ia seperti
membaca sesuatu dan seketika wajahnya berubah menjadi merah. Ia tatap
kekasihnya baik-baik dan terlihat matanya sedikit meelotot sambil jarinya
menunjuk-nunjuk kea rah layar hp itu. Si wanita menggenggam tangan si pria
dengan wajah yang sedikit memelas memohon maaf. Tapi maaf si wanita tak
digubris oleh kekasihnya, genggaman tangan si wanita pun dilepaskannya. Si pria
pergi meninggalkan si wanita dengan menerjang hujan. Si wanita hanya menangis
tersedu. Semua orang di sekitarnya menyaksikannya dengan terbengong-bengong
layaknya baru menyaksikan sinetron secara langsung.
Aku
pun tertegun dan memutuskan untuk segera pulang karena aku harus menemui
seseorang dan aku takut bernasib sama seperti wanita itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar