Minggu, 09 Februari 2014

Dunia dalam Hawa Nafsu yang Menggebu


SARAH FITRI RABBANI
1211503125
BSI/III/D
Dunia dalam Hawa Nafsu yang Menggebu
Setiap kali membaca koran dan majalah, menonton televisi, mendengarkan radio, melihat jejaring sosial, membuka internet, dan melintas di jalan-jalan selalu dipenuhi dengan penawaran-penawaran yang seolah-olah membuat mata kita terbelalak olehnya. Iklan dijumpai dimana-mana serasa menghantui keberadaan kita. Membayang-bayangi dengan segala keanggunanya. Lama-kelamaan serasa seperti memaksa kita untuk menyukainya lalu terbujuk untuk membelinya.
Para produsen bersama para pembuat iklan memang jadi seakan berpesta pora menikmati perkembangan zaman dimana masyarakatnya mudah terbujuk oleh rayuan-rayuan  kosong. Para produsen berlomba membayar mahal agar produknya dapat diterima dan dikagumi oleh masyarakat. Salah satu jalannya yaitu dengan menampilkan iklan seberkesan mungkin di hati masyarakat. Iklan dewasa ini tidak hanya menjadi suatu alat untuk memasarkan suatu produk akan tetapi menjadi suatu trend di kalangan masyarakat seperti jargon-jargon yang sering diikuti oleh masyarakat. Semua penawaran tersebut telah membuat masyarakat semakin terlarut.
Itu merupakan realitas kehidupan kita di zaman sekarang ini yang tidak dapat terelakkan lagi. Masyarakat dunia semakin berbondong-bondong memperkaya diri. Menuhankan kekayaan mendewakan uang. Segala sesuatunya dinilai dengan uang. Uang, uang, dan uang menjadi pangkal bencana seakan kehilangan fungsi awalnya sebagai alat tukar-menukar. Keadilan, harga diri, jabatan, kemewahan, kepuasan dengan mudahnya dibeli dengan uang. Semakin terperosoklah masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan. Jangan tercengang bila sekarang semakin banyak kejahatan. Perampokan, pencurian, pencopetan, pemerkosaan, pembunuhan yang sekarang sudah seperti hal biasa yang dikonsumsi masyarakat. Pernahkah terlintas dibenak kita mengapa semakin banyak orang yang mendadak gila? Semakin banyak orang gila yang kita temui di jalanan sebenarnya itu merupakan salah satu bukti nyata dari keedanan zaman yang menuhankan kekayaan dan mendewakan uang.
Jadi, siapakah atau apakah yang harus bertanggung jawab atas kebobrokan zaman saat  ini? Haruskah kita saling menuding? Kita saling menuding sementara kita sendiri bisa jadi merupakan salah satu agen yang membuat kekacauan dunia menjadi sangat parah. Masyarakat dunia menyadari benar akan adanya kebobrokan-kebobrokan yang semakin menyeruak, akan tetapi masyarakat dunia seakan lebih memusatkan perhatiaannya pada masalah-masalah lain. Seakan mereka menikmati keadaan ini. Keadaan dimana uang adalah segalanya. Tanpa disadari bahwa pangkal dari kebobrokan ini merupakan uang yang mereka dewakan. Benang kusut harus lah kita rapikan secepatnya agar mengetahui dimana ujung pangkalnya semua ini.  
Globalisasi dituding sebagai biang kerok dari semua kekacauan di dunia. Semua permasalahan pada akhirnya disudutkan pada globalisasi dari mulai adanya perubahan budaya, pergeseran nilai, kebobrokan moral, hingga permasalahan sampah. Memang diakui bahwa globalisasi menjadi pintu utama masuknya segala pengaruh buruk. Globalisasi secara singkat dikatakan sebagai suatu tatanan kehidupan manusia yang secara global telah melibatkan seluruh umat manusia[1]. Dengan adanya globalisasi maka segala batas-batas yang menjadi penyekat antar Negara menjadi terkikis dan bahkan seakan hilang. Dengan begitu pengaruh satu Negara dapat dengan mudah masuk ke Negara yang lain.
Negara-negara penguasa dunia menjadikan globalisasi sebagai pengontrol dari kekuasaannya tersebut. Globalisasi seakan menjadi sebuah topeng yang digunakan oleh Negara-negara penguasa untuk menjadi penguasa atas Negara-negara lainnya. Maka dari itu para penguasa semakin menggila dalam mempromokan globalisasi. Akan tetapi realitas yang ada adalah akibat dari adanya globalisasi yang tak dapat terhentikan. Globalisasi layaknya sebuah gelombang yang terus menerjang dan mengikis habis kehidupan masyarakat dunia sehingga seakan terbawa arus begitu saja.
Globalisasi menjadi sekedar peralihan yang dipersalahkan untuk bencana-bencana yang sekarang terjadi menimpa masyarakat dunia. Masyarakat dunia dilanda kekhawatiran yang luar biasa, yaitu kekhawatiran akan uang. Ya, pada akhirnya tetap kembali pada uang. Cikal bakal dari terjadinya kekeliruan dalam mendewakan uang adalah adanya kapitalisme. Kapitalisme telah merubah pola pikir masyarakat dunia. Sebenarnya globalisasi merupakan hasil manipulasi dari kapitalisme. Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari filsafat kuno romawi[2]. Hal tersebut didasari oleh ambisi rasa ingin memiliki kekuatan untuk meluaskan pengaruh serta kekuasaan.
Falsafah kapitalisme ialah membiarkan masyarakat berusaha dengan bebas, didorong oleh nafsu manusia serendah-rendahnya, seperti keserakahan, kepentingan pribadi, dan ingin berkuasa, dalam mengejar kekayaan dan kekuasaan sebesar-besarnya[3].  Kapitalisme telah memanjakan hawa nafsu sehingga diri menjadi diperbudak oleh hawa nafsu. Kapitalisme telah menciptakan suatu tatanan baru dalam kehidupan dimana masyarakatnya hanya memikirkan tentang bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga pola pikir serta pola perilaku mereka berorientasi terhadap uang.
Nafsu yang melambung tinggi seakan tak bisa terpadamkan sehingga hasrat untuk mengejar kekayaan serta mendapat kekuasaan haruslah terpenuhi, tanpa peduli akan sekitarnya. Inilah yang menjadi bencana besar bagi dunia disaat hawa nafsu menjadi sangat diutamakan. Masyarakat dunia seakan kehilangan semua sistem nilai serta moral. Nafsu akan sesuatu yang semu telah membuat masyarakat dunia seakan telah kehilangan hati nuraninya. Kepuasaan akan pemenuhan hasrat menjelma menjadi suatu wabah mengerikan bernama konsumerisme.
            Konsumerisme menjadi suatu perwujudan dari pemberhalaan hasrat akan pemenuhan kepuasan hawa nafsu. Masyarakat dunia sedang mengalami suatu ketergantungan dimana merasa tidak pernah puas akan sesuatu bahkan secara terus menerus selalu ingin melakukan konsumsi. Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas. Oleh karenanya hasrat ketidak puasaan yang ada di dalam diri manusia akan semakin terangsang oleh segala macam bujuk rayu. Maka tidak heran masyarakat dunia, khususnya di Indonesia sekarang ini menjadi sangat konsumtif. Kapitalisme terus menerus menciptakan kebutuhan baru untuk menjaga kelangsungan konsumerisme[4]. Hal tersebut membuat masyarakat lupa akan kebutuhan utamanya. Orang sudah tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan (need) dengan keinginan (want)[5].
            Di dalam kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang kedalaman spiritual, maka sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu[6]. Inilah dia pangkal utama dari terperosoknya masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan dan kehancuran dimana hawa nafsu menjadi penguasa utama. Segala sesuatu hal dilakukan demi mendapatkan kepuasan. Hawa nafsu yang menggebu menjadi suatu pendorong terjadinya segala permasalahan masyarakat dunia saat ini.
            Masyarakat dunia seakan dibutakan oleh pesona kemajuan zaman, dimana segala sesuatu bisa didapatkan asal mempunyai uang. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan uang, tak jarang hingga harus melakukan hal-hal jahat, keji, kotor, dan hina. Hal tersebut dilakukan untuk apa lagi jika bukan untuk memenuhi hasrat akan kepuasan nafsunya. Hingga tak mengherankan ketika sekarang ini banyak remaja yang rela menjual keperawanannya hanya demi segepok uang. Sungguh ironis melihat keadaan masyarakat sekarang ini. Rasanya sudah tak ada lagi rasa malu, harga diri serta kehormatan telah dikesampingkan, nilai-nilai moral telah dilenyapkan. Para koruptor dengan roman wajahnya yang tanpa rasa berdosa masih mengumbar senyumnya seakan-akan mereka tidak memiliki beban apapun justru mereka menampilkan seakan-akan telah merasakan  suatu kepuasan.
Kapitalisme dan konsumerisme yang terlahir dari hawa nafsu yang menggebu merupakan pendorong terjadinya kemajuan dalam kebobrokan serta kehancuran dunia saat ini. Masyarakat berbondong untuk menyaksikan film-film berbau pornografi dan pornoaksi yang bersembunyi dibalik nama horror. Para pembuat film hanya memikirkan tentang bagaimana mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana nasib dunia ini karenanya. Inilah potret dari realitas saat ini dimana sesuatu dibuat atas dasar mendapatkan keuntungan saja akan tetapi isinya sama sekali hanya kosong belaka (kitsch). Masyarakat juga saat ini terlena akan kecanggihan zaman dimana segala sesuatunya menjadi serba instan. Orang beramai-ramai melakukan operasi “permak” wajah, sedot lemak, bahkan hingga merubah seluruh tampilan dirinya, dengan tak segan-segan mengeluarkan uang banyak. Hal tersebut dilakukan hanya untuk pemuasan hawa nafsunya. Sementara itu, akhir-akhir ini banyak sekali kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja putri, hal tersebut semata-mata karena mereka tidak mau bertanggung jawab serta  menanggung risiko dari apa yang telah diperbuatnya. Mereka hanya mau merasakan nikmatnya saja tapi tidak mau menanggung risikonya, apa itu tak lebih untuk dikatakan sebagai seorang pengecut? Anorexia kini sedang menjangkiti masyarakat dunia. Disisi lain Suatu kenikmatan sesaat (pastiche) seakan menjadi primadona saat ini, anak-anak sekolah bahkan anak-anak SD zaman sekarang lebih sering terlihat main, dan “jajan” di warnet main game on-line. Masyarakat dunia sekarang ini sedang berlomba untuk menjadikan dirinya diakui keberadaannya, yaitu dengan mendapatkan suatu popularitas (popularity), tak jarang banyak hal dilakukan hanya untuk sebuah popularitas salah satunya orang beramai-ramai membuat video lalu memajangnya di youtube dan berharap banyak orang akan menonton dan menyukainya.
Dunia semakin hari semakin menggila, bukan dunia yang menjadi gila akan tetapi masyarakat dunianya yang menjadi gila. Masyarakat dunia seakan menjadi kehilangan hati nurani, hilang nilai moralnya, dan lenyap segala normanya. Segala kegilaan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan. Pada akhirnya benang kusut dari permasalahan tersebut memperlihatkan ujungnya, yaitu karena masyarakat dunia gila akan uang dan kekayaan, sebagi tuntutan dari zaman kapitalisme dengan masyarakat yang konsumerisme. Hawa nafsu yang menggebu menjadi dasar dari masyarakat melakukan kegilaan-kegilaan yang bertujuan untuk mememuaskan hasratnya. Jika kita tidak segera sadar dan bijak dalam menyikapi akan bahaya kehancuran dunia yang semakin dalam maka kita tinggal menunggu kehancuran dunia akibat dari dunia dalam hawa nafsu yang menggebu.














REFERENSI

Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html 16/12/12
Sumawinata, Sarbini. 2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Amminudin, M. Faisal. 2009. Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh, Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Mizan Pustaka.



[1] Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
[2] http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html 16/12/12
[3] Sumawinata, Sarbini. 2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[4] Amminudin, M. Faisal. 2009. Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
[5] Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh, Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[6] Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Mizan Pustaka.

1 komentar:

  1. Para produsen bersama para pembuat iklan memang jadi seakan berpesta pora menikmati perkembangan zaman dimana masyarakatnya mudah terbujuk oleh rayuan-rayuan kosong.
    LukQQ
    Situs Ceme Online
    Agen DominoQQ Terbaik
    Bandar Poker Indonesia

    BalasHapus