Minggu, 09 Februari 2014

Dunia dalam Hawa Nafsu yang Menggebu


SARAH FITRI RABBANI
1211503125
BSI/III/D
Dunia dalam Hawa Nafsu yang Menggebu
Setiap kali membaca koran dan majalah, menonton televisi, mendengarkan radio, melihat jejaring sosial, membuka internet, dan melintas di jalan-jalan selalu dipenuhi dengan penawaran-penawaran yang seolah-olah membuat mata kita terbelalak olehnya. Iklan dijumpai dimana-mana serasa menghantui keberadaan kita. Membayang-bayangi dengan segala keanggunanya. Lama-kelamaan serasa seperti memaksa kita untuk menyukainya lalu terbujuk untuk membelinya.
Para produsen bersama para pembuat iklan memang jadi seakan berpesta pora menikmati perkembangan zaman dimana masyarakatnya mudah terbujuk oleh rayuan-rayuan  kosong. Para produsen berlomba membayar mahal agar produknya dapat diterima dan dikagumi oleh masyarakat. Salah satu jalannya yaitu dengan menampilkan iklan seberkesan mungkin di hati masyarakat. Iklan dewasa ini tidak hanya menjadi suatu alat untuk memasarkan suatu produk akan tetapi menjadi suatu trend di kalangan masyarakat seperti jargon-jargon yang sering diikuti oleh masyarakat. Semua penawaran tersebut telah membuat masyarakat semakin terlarut.
Itu merupakan realitas kehidupan kita di zaman sekarang ini yang tidak dapat terelakkan lagi. Masyarakat dunia semakin berbondong-bondong memperkaya diri. Menuhankan kekayaan mendewakan uang. Segala sesuatunya dinilai dengan uang. Uang, uang, dan uang menjadi pangkal bencana seakan kehilangan fungsi awalnya sebagai alat tukar-menukar. Keadilan, harga diri, jabatan, kemewahan, kepuasan dengan mudahnya dibeli dengan uang. Semakin terperosoklah masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan. Jangan tercengang bila sekarang semakin banyak kejahatan. Perampokan, pencurian, pencopetan, pemerkosaan, pembunuhan yang sekarang sudah seperti hal biasa yang dikonsumsi masyarakat. Pernahkah terlintas dibenak kita mengapa semakin banyak orang yang mendadak gila? Semakin banyak orang gila yang kita temui di jalanan sebenarnya itu merupakan salah satu bukti nyata dari keedanan zaman yang menuhankan kekayaan dan mendewakan uang.
Jadi, siapakah atau apakah yang harus bertanggung jawab atas kebobrokan zaman saat  ini? Haruskah kita saling menuding? Kita saling menuding sementara kita sendiri bisa jadi merupakan salah satu agen yang membuat kekacauan dunia menjadi sangat parah. Masyarakat dunia menyadari benar akan adanya kebobrokan-kebobrokan yang semakin menyeruak, akan tetapi masyarakat dunia seakan lebih memusatkan perhatiaannya pada masalah-masalah lain. Seakan mereka menikmati keadaan ini. Keadaan dimana uang adalah segalanya. Tanpa disadari bahwa pangkal dari kebobrokan ini merupakan uang yang mereka dewakan. Benang kusut harus lah kita rapikan secepatnya agar mengetahui dimana ujung pangkalnya semua ini.  
Globalisasi dituding sebagai biang kerok dari semua kekacauan di dunia. Semua permasalahan pada akhirnya disudutkan pada globalisasi dari mulai adanya perubahan budaya, pergeseran nilai, kebobrokan moral, hingga permasalahan sampah. Memang diakui bahwa globalisasi menjadi pintu utama masuknya segala pengaruh buruk. Globalisasi secara singkat dikatakan sebagai suatu tatanan kehidupan manusia yang secara global telah melibatkan seluruh umat manusia[1]. Dengan adanya globalisasi maka segala batas-batas yang menjadi penyekat antar Negara menjadi terkikis dan bahkan seakan hilang. Dengan begitu pengaruh satu Negara dapat dengan mudah masuk ke Negara yang lain.
Negara-negara penguasa dunia menjadikan globalisasi sebagai pengontrol dari kekuasaannya tersebut. Globalisasi seakan menjadi sebuah topeng yang digunakan oleh Negara-negara penguasa untuk menjadi penguasa atas Negara-negara lainnya. Maka dari itu para penguasa semakin menggila dalam mempromokan globalisasi. Akan tetapi realitas yang ada adalah akibat dari adanya globalisasi yang tak dapat terhentikan. Globalisasi layaknya sebuah gelombang yang terus menerjang dan mengikis habis kehidupan masyarakat dunia sehingga seakan terbawa arus begitu saja.
Globalisasi menjadi sekedar peralihan yang dipersalahkan untuk bencana-bencana yang sekarang terjadi menimpa masyarakat dunia. Masyarakat dunia dilanda kekhawatiran yang luar biasa, yaitu kekhawatiran akan uang. Ya, pada akhirnya tetap kembali pada uang. Cikal bakal dari terjadinya kekeliruan dalam mendewakan uang adalah adanya kapitalisme. Kapitalisme telah merubah pola pikir masyarakat dunia. Sebenarnya globalisasi merupakan hasil manipulasi dari kapitalisme. Akar kapitalisme dalam beberapa hal bersumber dari filsafat kuno romawi[2]. Hal tersebut didasari oleh ambisi rasa ingin memiliki kekuatan untuk meluaskan pengaruh serta kekuasaan.
Falsafah kapitalisme ialah membiarkan masyarakat berusaha dengan bebas, didorong oleh nafsu manusia serendah-rendahnya, seperti keserakahan, kepentingan pribadi, dan ingin berkuasa, dalam mengejar kekayaan dan kekuasaan sebesar-besarnya[3].  Kapitalisme telah memanjakan hawa nafsu sehingga diri menjadi diperbudak oleh hawa nafsu. Kapitalisme telah menciptakan suatu tatanan baru dalam kehidupan dimana masyarakatnya hanya memikirkan tentang bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga pola pikir serta pola perilaku mereka berorientasi terhadap uang.
Nafsu yang melambung tinggi seakan tak bisa terpadamkan sehingga hasrat untuk mengejar kekayaan serta mendapat kekuasaan haruslah terpenuhi, tanpa peduli akan sekitarnya. Inilah yang menjadi bencana besar bagi dunia disaat hawa nafsu menjadi sangat diutamakan. Masyarakat dunia seakan kehilangan semua sistem nilai serta moral. Nafsu akan sesuatu yang semu telah membuat masyarakat dunia seakan telah kehilangan hati nuraninya. Kepuasaan akan pemenuhan hasrat menjelma menjadi suatu wabah mengerikan bernama konsumerisme.
            Konsumerisme menjadi suatu perwujudan dari pemberhalaan hasrat akan pemenuhan kepuasan hawa nafsu. Masyarakat dunia sedang mengalami suatu ketergantungan dimana merasa tidak pernah puas akan sesuatu bahkan secara terus menerus selalu ingin melakukan konsumsi. Pada dasarnya manusia selalu merasa tidak puas. Oleh karenanya hasrat ketidak puasaan yang ada di dalam diri manusia akan semakin terangsang oleh segala macam bujuk rayu. Maka tidak heran masyarakat dunia, khususnya di Indonesia sekarang ini menjadi sangat konsumtif. Kapitalisme terus menerus menciptakan kebutuhan baru untuk menjaga kelangsungan konsumerisme[4]. Hal tersebut membuat masyarakat lupa akan kebutuhan utamanya. Orang sudah tidak bisa membedakan lagi antara kebutuhan (need) dengan keinginan (want)[5].
            Di dalam kebudayaan yang dikuasai oleh hawa nafsu ketimbang kedalaman spiritual, maka sebuah revolusi kebudayaan tak lebih dari dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu[6]. Inilah dia pangkal utama dari terperosoknya masyarakat dunia ke dalam lubang hitam kebobrokan dan kehancuran dimana hawa nafsu menjadi penguasa utama. Segala sesuatu hal dilakukan demi mendapatkan kepuasan. Hawa nafsu yang menggebu menjadi suatu pendorong terjadinya segala permasalahan masyarakat dunia saat ini.
            Masyarakat dunia seakan dibutakan oleh pesona kemajuan zaman, dimana segala sesuatu bisa didapatkan asal mempunyai uang. Segala cara ditempuh untuk mendapatkan uang, tak jarang hingga harus melakukan hal-hal jahat, keji, kotor, dan hina. Hal tersebut dilakukan untuk apa lagi jika bukan untuk memenuhi hasrat akan kepuasan nafsunya. Hingga tak mengherankan ketika sekarang ini banyak remaja yang rela menjual keperawanannya hanya demi segepok uang. Sungguh ironis melihat keadaan masyarakat sekarang ini. Rasanya sudah tak ada lagi rasa malu, harga diri serta kehormatan telah dikesampingkan, nilai-nilai moral telah dilenyapkan. Para koruptor dengan roman wajahnya yang tanpa rasa berdosa masih mengumbar senyumnya seakan-akan mereka tidak memiliki beban apapun justru mereka menampilkan seakan-akan telah merasakan  suatu kepuasan.
Kapitalisme dan konsumerisme yang terlahir dari hawa nafsu yang menggebu merupakan pendorong terjadinya kemajuan dalam kebobrokan serta kehancuran dunia saat ini. Masyarakat berbondong untuk menyaksikan film-film berbau pornografi dan pornoaksi yang bersembunyi dibalik nama horror. Para pembuat film hanya memikirkan tentang bagaimana mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana nasib dunia ini karenanya. Inilah potret dari realitas saat ini dimana sesuatu dibuat atas dasar mendapatkan keuntungan saja akan tetapi isinya sama sekali hanya kosong belaka (kitsch). Masyarakat juga saat ini terlena akan kecanggihan zaman dimana segala sesuatunya menjadi serba instan. Orang beramai-ramai melakukan operasi “permak” wajah, sedot lemak, bahkan hingga merubah seluruh tampilan dirinya, dengan tak segan-segan mengeluarkan uang banyak. Hal tersebut dilakukan hanya untuk pemuasan hawa nafsunya. Sementara itu, akhir-akhir ini banyak sekali kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja putri, hal tersebut semata-mata karena mereka tidak mau bertanggung jawab serta  menanggung risiko dari apa yang telah diperbuatnya. Mereka hanya mau merasakan nikmatnya saja tapi tidak mau menanggung risikonya, apa itu tak lebih untuk dikatakan sebagai seorang pengecut? Anorexia kini sedang menjangkiti masyarakat dunia. Disisi lain Suatu kenikmatan sesaat (pastiche) seakan menjadi primadona saat ini, anak-anak sekolah bahkan anak-anak SD zaman sekarang lebih sering terlihat main, dan “jajan” di warnet main game on-line. Masyarakat dunia sekarang ini sedang berlomba untuk menjadikan dirinya diakui keberadaannya, yaitu dengan mendapatkan suatu popularitas (popularity), tak jarang banyak hal dilakukan hanya untuk sebuah popularitas salah satunya orang beramai-ramai membuat video lalu memajangnya di youtube dan berharap banyak orang akan menonton dan menyukainya.
Dunia semakin hari semakin menggila, bukan dunia yang menjadi gila akan tetapi masyarakat dunianya yang menjadi gila. Masyarakat dunia seakan menjadi kehilangan hati nurani, hilang nilai moralnya, dan lenyap segala normanya. Segala kegilaan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan. Pada akhirnya benang kusut dari permasalahan tersebut memperlihatkan ujungnya, yaitu karena masyarakat dunia gila akan uang dan kekayaan, sebagi tuntutan dari zaman kapitalisme dengan masyarakat yang konsumerisme. Hawa nafsu yang menggebu menjadi dasar dari masyarakat melakukan kegilaan-kegilaan yang bertujuan untuk mememuaskan hasratnya. Jika kita tidak segera sadar dan bijak dalam menyikapi akan bahaya kehancuran dunia yang semakin dalam maka kita tinggal menunggu kehancuran dunia akibat dari dunia dalam hawa nafsu yang menggebu.














REFERENSI

Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html 16/12/12
Sumawinata, Sarbini. 2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Amminudin, M. Faisal. 2009. Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh, Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Mizan Pustaka.



[1] Tilaar, H.A.R. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.
[2] http://muhammadzacky.com/2012/05/kapitalisme-berakar-dari-pembangkangan-agama.html 16/12/12
[3] Sumawinata, Sarbini. 2004. Politik Ekonomi Kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[4] Amminudin, M. Faisal. 2009. Globalisasi dan Neoliberalisme: Pengaruh dan Dampaknya Bagi Demokratisasi Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
[5] Sumardianta, J. 2009. Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh, Bergelimang Makna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[6] Piliang, Yasraf Amir. 1999. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Mizan Pustaka.

SARAH FITRI RABBANI
1211503125
BSI/IV/D
MAKALAH PROSE I/SHORT STORY
Eksploitasi Feminisme dan Gender Tokoh Elisa
dalam The Chrysanthemums
A.    Pendahuluan
Tokoh Elisa dalam The Chrysanthemums menjadi suatu ‘magnet’ tersendiri untuk cerita pendek tersebut. Itu karena dalam cerita pendek The Chrysanthemums tokoh Elisa menjadi sentral cerita. Tokoh Elisa menjadi penting sebab Elisa yang memegang cerita atau alur cerita dalam The Chrysanthemums. Cerita disuguhkan dari perspektif-perspektif para tokoh dan yang terutama sekali dari perspektif tokoh Elisa.
 The Chrysanthemums sangatlah menarik dan memiliki keunikan tersendiri. Pembaca disuguhkan cerita yang ringan dan berkenaan dengan ordinary life atau kehidupan sehari-hari. Akan tetapi dibalik kesederhanaan cerita yang ditampilkan terdapat suatu makna mendalam yang hendak ingin disampaikan. Kesederhanaan cerita dari The Chrysanthemums menjadi nilai plus yang membuat cerita tersebut sangat menarik dan berkesan bagi pembaca.
Dibalik kesederhanaan cerita tersebut terdapat sesuatu yang sangat menarik dari sosok seorang Elisa. Dalam The Chrysanthemums sosok Elisa menjadi pusat perhatian dimana Elisa ini merupakan sesuatu yang unik dan sangat menarik. Hal tersebut membuat saya menyoroti tokoh Elisa yang dalam cerita pendek The Chrysanthemums Elisa menjadi sosok yang menonjolkan adanya eksploitasi sisi feminisme. Tokoh Elisa juga menjadi penanda dari suatu usaha penyetaraan gender. The Chrysanthemums sangat kental dengan issue feminisme dan penyetaraan gender yang dibawakan oleh tokoh Elisa.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana feminisme berperan dalam cerita The Chrysanthemums?
2.      Apakah aplikasi dari penyetaraan gender dalam The Chrysanthemums?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui peran feminisme dalam cerita The Chrysanthemums.
2.      Untuk mengetahui aplikasi dari penyetaraan gender dalam The Chrysanthemums.














D.    Kajian Teori
Irwan (2009) mendefinisikan secara gamblang bahwa feminisme merupakan suatu ideologi menuntut kebebasan, persamaan hak dan keadilan sosial bagi perempuan. Berbeda dengan Irwan, Siregar (1999) mendefinisikan feminisme tidak hanya dikhususkan untuk perempuan, akan tetapi feminisme dapat dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan yang menentang diskriminasi atas jenis kelamin, ketidak adilan gender, dan melakukan suatu tindakan untuk menentangnya.
Djajanegara (2000) menyatakan bahwa terdapat dua cara untuk mencapai feminisme, diantaranya adalah:
1.      Memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki atau yang biasa disebut dengan equal right’s movement.
2.      Membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga atau yang biasa disebut dengan women’s liberation movement atau women’s emancipation movement.
Sadli (2010) berpendapat bahwa salah satu faktor yang mendasari pemikiran feministik adalah hubungan gender diangkat sebagai permasalahan. Terlebih lagi melalui hubungan gender terciptalah dua pribadi dengan ciri khas bagi perempuan dan lelaki. Sementara itu Siregar (2010) menyatakan bahwa gender merupakan suatu konstruksi sosial mengenai kedudukan, peran, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Ritzer (dalam Sunarto, 2004) berpendapat bahwa variasi gerakan feminis bisa dibedakan berdasarkan:
1.      Perbedaan jender (gender difference)
2.      Ketidaksamaan jender (gender inequality)
3.      Penindasan jender (gender oppression)
4.      Feminisme gelombang ketiga (third-wave feminism).
The Chrysanthemums merupakan cerita pendek yang sangat unik dan menarik dimana ceritanya menyajikan sesuatu mengenai kehidupan sehari-hari atau ordinary life. The Chrysanthemums merupakan cerita mengenai seorang tokoh Elisa yang merawat tanaman Chrysanthemums. Elisa yang memiliki perkebunan seringkali berkebun dan beternak dan Ia melakukan hal tersebut layaknya seperti seorang pria. Suami Elisa, Henry seringkali sibuk dengan urusan pekerjaannya. Elisa dan Henry Allen belum memiliki keturunan.
Ketika Elisa sedang melakukan pekerjaannya datanglah seorang penambal panci yang hendak menanyakan alamat kepadanya. Elisa pun berbincang-bincang dengan si penambal panci tersebut. Pada awalnya Elisa merasa sedikit tidak senang kepada si penambal panci sebab Ia seakan memaksa Elisa untuk memberi pekerjaan untuknya (menambal panci, membenarkan barang yang rusak). Elisa pun akhirnya merasa senang sebab si penambal panci memperhatikan serta memuji Chrysanthemums yang Ia rawat. Si penambal panci pun meminta bibit Chrysanthemums sebab Ia ingin memberikannya kepada seseorang. Elisa sangat senang dan dengan penuh semangat Ia pun menjelaskan mengenai cara merawat Chrysanthemums kepada si penambal panci.
Setelah si penambal panci bergegas pergi, Elisa pun bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama suaminya, Henry. Elisa pun menanggalkan pakaian berkebunnya yang seperti pria dan menggantinya dengan mengenakan dress. Ketika di perjalanan menuju tempat makan malam, Elisa melihat Chrysanthemums yang Ia berikan kepada si penambal panci tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Elisa merasa sangat sakit hati sebab Ia merasa bahwa si penambal panci hanya berpura-pura mengagumi Chrysanthemums nya. Tanpa sepengetahuan suaminya Elisa pun menangis.



The Chrysanthemums merupakan karya dari John Steinbeck. Steinbeck lahir di Salinas, California pada 27 Februari 1902 dan merupakan keturunan Jerman, Inggris, dan Irlandia. Steinbeck banyak menghabiskan hidupnya di Monterey County, yang mana merupakan setting dari kebanyakan karyanya. Pada tahun 1920 Steinbeck menjadi murid Standford University akan tetapi Ia tidak melanjutkan studinya tersebut. Ia pun memilih untuk bekerja dan berangkat dari hal tersebutlah banyak dari karyanya menyoroti mengenai kehidupan para pekerja, seperti karyanya Of Mice and Men.
Karya-karya Steinbeck banyak menonjolkan sisi dimana betapa complex nya kehidupan seperti pada karyanya Tortilla Flat. Ia mendapat penghargaan atas karya-karyanya seperti penghargaan Pulitzer Prize for Fiction pada tahun 1940 dan Nobel Prize in Literature pada 1962. Salah satu karyanya The Chrysanthemums merupakan karya yang sangat menarik dan berkualitas. Akan tetapi kehidupan cintanya tidak segemilang karir menulisnya, Steinbeck sempat bercerai dua kali dan akhirnya menikah kembali untuk yang ketiga kalinya dengan Scott. Pernikahan ketiganya ini berlangsung hingga akhir hayatnya dimana Steinbeck meninggal pada tahun 1968.








E.     Pembahasan
The Chrysanthemums ‘menyuguhkan’ berbagai macam perspektif kepada pembacanya. Hal tersebut menimbulkan spekulasi-spekulasi dalam benak saya. Tokoh Elisa yang saya soroti menonjolkan eksploitasi sisi feminisme dari dirinya dimana Ia mencoba untuk meng ‘explore’ sisi kewanitaannya tetapi lebih kepada untuk menunjukan bahwa Elisa berbeda dengan wanita lain dan bahkan Ia ingin menunjukan diri sebagai seorang wanita yang mampu ‘mendobrak’ anggapan umum tentang wanita. Sisi feminisme tersebut dapat terlihat dari kutipan berikut ini
Her face was lean and strong…..(halaman 1)

She took off a glove and put her strong fingers down into the forest
of new green Chrysanthemums….. (halaman 2)


With her strong fingers she pressed them into the sand and tamped around them with her knuckles. (halaman 6)

Kata ‘strong’ dari kutipan-kutipan diatas menunjukkan bahwa Elisa merupakan sosok seorang wanita yang ‘strong’. Saya menginterpretasikan kata ‘strong’ sebagai suatu representasi dari kekuatan diri seorang wanita dimana dalam hal ini Elisa mampu menunjukan dirinya bahwa Ia merupakan seorang wanita yang kuat dan tangguh. Kata ‘strong’ juga merepresentasikan bahwa hal tersebut pula yang menonjolkan Elisa sebagai sosok wanita ‘yang mampu’ melakukan segala sesuatu yang dikerjakan oleh pria.
“You’ve got a strong new crop coming”……”Yes. They’ll be strong this coming year.” In her tone and on her face there was a little smugness. (halaman 2)
Dari kutipan diatas kita dapat melihat bahwa Elisa merupakan sosok seorang wanita yang memang dengan ‘kekuatannya’ mampu melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria. Seperti yang dapat saya interpretasikan dari kutipan diatas bahwa Elisa memang terbukti mampu menyamai pria, Ia mampu melakukan segala sesuatu pekerjaan pria dengan baik. Kepercayaan diri timbul ketika Elisa merasa mampu melakukan apa yang dilakuakn pria dengan baik. Hal tersebut karena terdapat sutau kepuasan diri, ‘smugness’, dari seorang Elisa, dan dapat  merepresentasikan ada kepuasan dalam diri seorang wanita ketika Ia mampu menunjukkan dirinya sebagai sosok yang juga dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria. Dalam hal ini Elisa mampu melakukan pekerjaan berkebun, beternak bahkan seperti yang terdapat dalam kutipan diatas Elisa mampu menghasilkan crop yang bagus dan hal tersebut membuktikan bahwa Elisa memang mampu melakuakan pekerjaan pria.
“I mean you look different, strong, and happy.” (halaman 9)

Kutipan-kutipan diatas juga menegaskan kata ‘strong’, dalam hal ini terdapat suatu pernyataan yang dapat diinterpretasikan dari kata ‘different’ yang disandingkan dengan kata ‘strong’. Saya menginterpretasikan hal tersebut sebagai adanya suatu pernyataan bahwa Elisa berbeda dari wanita lain, dimana dengan ke’strong’annya tersebutlah yang menjadikannya berbeda. Hal tersebut merepresentasikan suatu pernyataan bahwa wanita juga dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria, dimana pada saat itu wanita penuh dengan ‘keterbatasan’. Sesuatu hal yang tabu apabila seorang wanita melampaui apa yang biasanya dilakukan atau dikerjakan oleh seorang wanita. Disinilah kata ‘different’ menjadi suatu penanda dimana seakan menonjolkan sosok wanita yang berbeda dari biasanya, yang tidak hanya melakukan pekerjaan wanita. Selain itu ini juga menonjolkan sisi wanita dimana Elisa sebagai penanda melawan ‘keterbatasan’ seorang wanita pada umumnya. Hal tersebut menegaskan bahwa wanita juga mampu melakuakan apa yang dilakukan oleh pria sebab wanita itu kuat.
“I am strong? Yes, strong. What do you mean ‘strong’?”(halaman9)

You look strong enough to break a calf over your knee…. (halaman9)

“I am strong,“ She boasted “I never knew before how strong.” (halaman 9)

Kutipan diatas merepresentasikan bahwa apa yang dilakukan Elisa, dimana Ia berbeda dengan wanita lain, seakan tidak Ia sadari. Bahkan dapat kita lihat dari kutipan-kutipan diatas bahwa Elisa merasa sedikit meragukan kekuatan yang Ia miliki sehingga menjadi pembeda dari wanita lain. Namun disisi lain Ia seakan diyakinkan bahwa sebenarnya begitu ‘kuatnya’ diri seorang Elisa. Elisa pun pada akhirnya meyakini bahwa Ia memang kuat sehingga Ia berbeda dengan wanita lain.
Her figure looked blocked and heavy in her gardening costume, a man’s black hat pulled low down over her eyes… (halaman 1)
Dari kutipan diatas kita dapat menginterpretasikan bahwa Elisa seakan-akan menjelma menjadi pria atau seperti pria, hal tersebut dapat terlihat dengan Elisa menggunakan ‘man’s black hat’. Disini terlihat bahwa ada penegasan dimana dengan Elisa menggunakan ‘man’s black hat’ terkesan seperti Elisa menonjolkan sisi kelelakiannya. Selain itu penggunaan ‘man’s black hat’ oleh Elisa menjadi representasi dari adanya ‘break the rule’ sebab Elisa dirasa telah keluar dari apa yang wanita lain biasanya gunakan. Sehingga menimbulkan sisi kelelakian yang menyimbolkan adanya perlawanan diri bahwa wanita pun bisa seperti pria.

A figured print dress almost completely covered by a big corduroy apron with four big pockets to hold the snips, the trowel, and scratcher, the seeds and the knife she worked with. (halaman 1)
Jika tadi ‘man’s black hat’ merupakan representasi dari kelelakian Elisa, selain itu kutipan diatas menunjukkan kelelakian sosok Elisa yang lainnya. The snips, the trowel, the scratcher, the seeds and the knife merupakan peralatan yang biasa digunakna untuk berkebun. Berkebun biasa dilakukan oleh pria dan dapat dikatakan dalam hal ini sebagai petanda dari kelelakian. Selain itu peralatan diatas juga biasa digunakan oleh pria, sedang Elisa juga menggunaknannya sehingga timbul suatu pernyataan bahwa Elisa menonjolkan sisi kelelakiannya dengan menggunakan peralatan tersebut. Ada penegasan disini dimana dengan Elisa menggunakan peralatan tersebut menonjolkan bahwa Elisa berbeda dengan wanita pada umumnya. Elisa seakan keluar dari ‘batas’ wanita pada umumnya, selain itu hal tersebut menunjukkan bahwa wanita dapat melakukan apa yang pria lakukan.
Her face was eager and mature and handsome; even her work with the scissors was over- eager, over-powerful. (halaman 1)
Kutipan yang satu ini saya rasa sangatlah unik dan menarik dimana dengan jelas disini terpampang bahwa Elisa dilukiskan seperti seorang pria dengan kata ‘handsome’. Seperti yang diketahui bhawa handsome  sangat identik dengan kelelakian. Dengan digunakannya kata handsome untuk melukiskan Elisa dapat diinterpretasikan bahwa kutipan tersebut menegaskan sisi kelelakian Elisa sehingga tidak tanggung-tanggung dipergunakanaah kata handsome tersebut.
The chrysanthemum stems seemed too small and easy for her energy. (halaman 1)
Kutipan diatas menunjukkan bahwa seorang wanita, dalam hal ini Elisa, begitu luar biasa sebab Ia mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pria dengan baik. Hal tersebut direpresentasikan dengan kutipan diatas, bahwa dengan kekuatannya tersebut Elisa seakan begitu ‘perkasa’ sehingga terasa sekan tidak ada pekerjaan pria yang berat untuknya. Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan perempuan pada umumnya apalagi dengan anggapan umum terhadap perempuan yang seakan dianggap ‘remeh’ atau dipandang tidak bisa melakukan pekerjaan pria.
“I wish women could do such things.” (halaman 7)

“You might be surprised to have a rival sometime” (halaman 8)

“I can sharpen scissors, too. And I can beat the dents out of little pots. I could show you what a woman might do.” (halaman 8)
Dari kutipan diatas saya berinterpretasi bahwa Elisa ingin menunjukkan diri sebagai seorang wanita yang kuat dan tak terkalahkan bahkan sekalipun oleh pria. Sisi ini muncul sebagai representasi feminisme dalam diri Elisa dimana Elisa menganggap dirinya mampu untuk melakukan apapun pekerjaan yang biasa dilakukan pria seperti dalam kutipan diatas yaitu beat the dents out of little pots. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa Elisa menonjolkan dirinya sebagai wanita ‘perkasa’ dimana ingin membuktikan bahwa wanita bisa melakukan apapun pekerjaan pria.
Dengan sisi kelelakian Elisa ini sebenarnya yang dapat saya soroti adalah menonjolkan sisi feminisme. Dalam cerpen ini feminisme sangat kental dan memegang kuat ‘kendali’ cerita. Dalam diri Elisa tertanam sisi feminisme seperti yang terlukis dari perspektif Elisa serta apa yang Ia lakukan. Seperti apa yang telah dikatakan, Elisa seakan ‘mendobrak’ anggapan umum mengenai wanita yang ‘lemah’ dan ingin menunjukkan bahwa wanita dapat melakukan setiap pekerjaan atau apapun yang dilakukan oleh pria serta yang terpenting adalah seberapa kuat seorang wanita.
Selain feminisme, penyetaraan gender yang dilakuakn oleh tokoh Elisa sangat kentara dalam cerpen ini. Penyetaraan gender juga menjadi fokus utama yang saya soroti dari sosok Elisa. Hal tersebut bisa diinterpretasikan dari beberapa kutipan berikut
Ellisa Allen, working in her flower garden,….. (halaman 1)
Her figure looked blocked and heavy in her gardening costume, a man’s black hat pulled low down over her eyes… (halaman 1)

A figured print dress almost completely covered by a big corduroy apron with four big pockets to hold the snips, the trowel, and scratcher, the seeds and the knife she worked with. (halaman 1)

Her face was eager and mature and handsome; even her work with the scissors was over- eager, over-powerful. (halaman 1)
Beberapa kutipan diatas menunjukan bahwa Elisa merupakan sosok wanita yang sangat ‘luar biasa’. Dengan Ia berkebun, menggunakan peralatan yang biasanya digunakan pria, dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pria tentu dapat saya interpretasikan bahwa dalam hal ini Elisa melakukan ‘usaha-usaha’ penyetaraan gender. Elisa menonjolkan bahwa meskipun Ia seorang wanita tetapi Ia juga bisa melakukan pekerjaan pria sehingga menimbulkan pernyataan bahwa wanita dan pria sama saja, diamna wanita juga mampu seperti pria. Apalagi dengan Elisa mengenakan pakaian berkebun dan juga man’s black hat serta Ia digambarkan sebagai sosok wanita yang ‘handsome’ maka semakin mempertegas dirinya bahwa meskipun Elisa seorang wanita tetapi Ia bisa ‘menjelma’ layaknya seorang pria.
 “All right, then. I’ll go get up a couple of horses.” (halaman 3)

She said, “I’ll have plenty of time to transplant some of these sets, I guess.” (halaman 3)
Kutipan diatas menunjukan bahwa Elisa seakan tidak mau kalah dengan Henry, suaminya. Elisa merasa bahwa dirinya juga memiliki kesibukan yang sama dengan suaminya. Ia mampu bekerja dengan baik meskipun Ia seorang wanita. Disini terlihat bahwa Elisa layaknya seperti kebanyakan wanita modern saat ini yang juga memiliki kesibukan aktifitas kerja sama halnya dengan seorang pria. Dengan demikian hal tersebut menegaskan bahwa wanita juga mampu seperti pria, mampu melakuakna pekerjaan apapun tak terkecuali pekerjaan pria.
“It must be very nice. I wish women could do such things.” (halaman 7)
Kutipan diatas dengan jelas menegaskan bahwa Elisa berpandangan jika seorang wanita dapat melakuakn apapun layaknya seperti pria yang dapat melakukan apapun tentu akan menjadi suatu hal yang menyenangkan. Dengan pandangan seperti itu maka tidak heran bila Elisa melakukan hal-hal seperti pria.
“I’m sorry,” said Elisa irritably. “I haven’t anything for you to do.” (halaman 5)

“You might be surprised to have a rival sometime” (halaman 8)

“I can sharpen scissors, too. And I can beat the dents out of little pots. I could show you what a woman might do.” (halaman 8)
Kutipan-kutipan diatas dapat saya interpretasikan bahwa Elisa merasa dirinya dapat melakukan segala sesuatu yang dilakukan oleh pria. Elisa merasa bahwa si penambal panci seakan ‘meremehkannya’, sehingga Ia pun dengan lantang menolak si penambal panci untuk melakuakan pekerjaan untuknya. ‘I haven’t anything for you to do’ menunjukan bahwa Elisa tidak perlu bantuan dari pria, dalam hal ini si penambal panci, karena segala sesuatunya dapat Ia kerjakan sendiri. Bahkan Elisa merasa bahwa Ia mampu lebih baik daripada pria, Ia merasa bahwa si penambal panci yang dianggap handal melakukan pekerjaannya merupakan rival bagi Elisa. Dengan begitu Elisa ingin menunjukan kepada pria bahwa seorang wanita juga mampu melakukan hal-hal yang ‘berbau’ kelaki-lakian bahkan mampu lebih baik daripada mereka.
            Akan tetapi sebagaimanapun atau sekuat apapun Elisa berusaha untuk menyetarakan dirinya dengan pria, Elisa tetaplah seorang wanita. Dalam cerpen ini ditonjolkan juga bahwa usaha penyetaraan gender yang dilakukan oleh Elisa terasa ‘sia-sia’. Hal tersebut karena para pria, seperti Henry dan si penmabal panci memandang Elisa tetaplah wanita biasa yang juga dirasa tidak ada apa-apanya dibanding dengan pria. Dan hal tersebut juga disadari oleh Elisa.
“There’s fights tonight. How’d you like to go to the fights?” (halaman 2)

“Oh, no,” she said breathlessly. “No, I wouldn’t like fights.” (halaman 2)
“Now you’re changed again,” Henry complained. (halaman 10)

“Henry, at those prize fights, do the men hurt each other very much?” (halaman 10)

“Do any women ever go to the fights?” she asked. (halaman 10)

“…..Do you want to go? I don’t think you’d like it, but I’ll take you if you really want to go.” (halaman 10)

“Oh, no. No. I don’t want to go. I’m sure I don’t.” (halaman 10)

Interpretasi dari kutipan diatas menunjukan bahwa meskipun Elisa bertindak layaknya seorang pria akan tetapi Ia tetap menyadari bahwa Ia seorang wanita dan ada hal-hal yang tidak ingin Elisa lakukan layaknya seorang pria. ‘Fights’ dalam hal ini menjadi petanda kelaki-lakian, dimana Elisa merasa Ia tidak mau melakukan hal tersebut. Dari beberapa kutipan diatas dapat dilihat bahwa wanita tidak bisa selalu diosetarakan dengan pria, dimana tetap saja ada hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh wanita. Bahkan Elisa sendiripun menyadari hal tersebut sehingga Ia menyatakan dengan tegas tidak mau melakukan ‘fights’ karena Ia menyadari hal tersebut biasa dilakukan oleh pria.
Her breast swelled passionately. (halaman 7)
She tightened her stomach and threw out her chest. (halaman 8)
Elisa tetaplah seorang wanita hal tersebut seperti yang ditunjukan oleh kedua kutipan diatas, dimana ‘breast’ menjadi petanda kewanitaanya. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun Elisa, ada hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Ia merupakan seorang wanita layaknya wanita lain pada umumnya yang memiliki ‘breast’ meskipun Ia ‘berlaga’ seperti seorang pria.
“It ain’t the right kind of a life for a woman.” (halaman 7)
“How do you know? How can you tell?” she said. (halaman7)
“It would be a lonely life for a woman, ma’am and scarcely life too….” (halaman 8)
Kutipan diatas menunjukan bahwa ada penolakan pandangan dari seorang pria dimana wanita ya tetaplah wanita yang tidak bisa disamakan dengan pria. Sehingga jadinya disini terlihat dengan jelas bahwa bagaimanapun wanita ingin menyatarakan dirinya dengan pria tetap saja ada hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh wanita. Elisa merasa tersinggung dengan pernyataan si penambal panci sebab Ia merasa si penambal panci tidak tahu apa-apa tentang wanita. Akan tetapi tetap saja si penambal panci menganggap bahwa wanita tetap tidak setara dengan pria.
In the kitchen she reached behind the stove and felt the water tank. (halaman 8)
Elisa menunjukan sisi kewanitaannya dilihat dari kutipan diatas, dimana layaknya perempuan pada umumnya yang berada di dapur dan melakukan aktifitasnya. Disini kitchen menjadi petanda kewanitaanya. Dengan demikian hal tersebut menunjukan bahwa Elisa tetap seperti wanita-wanita lain pada umumnya yang tak dapat Ia pungkiri.
In the bathroom she tore off her soiled clothes and flung them into the corner. (halaman 8)

….she stood in front of a mirror in her bedroom and looked at her body. (halaman 8)

She turned and looked over her shoulder at back. (halaman 8)

She put her newest underclothing and her nicest stocking and the dress which was the symbol of her prettiness. (halaman 8)

….pencilled her eyebrows and rouged her lips. (halaman 8)
Beberapa kutipan diatas menegaskan bahwa Elisa layaknya wanita biasa lainnya. Ketika Ia melepaskan pakaian berkebunnya Ia menjadi seperti wanita lain pada umumnya. Kata-kata ‘a mirror’ menegaskan bahwa Elisa melihat dirinya sendiri memanglah seorang wanita biasa seperti pada umumnya, selain itu ‘looked at her body’ menjadi representasi bahwa Elisa menyadari dirinya memanglah seorang wanita yang tidak bisa disetarakan dengan pria bagaimanapun. Petanda-petanda kewanitaan dimunculkan dalam kutipan-kutipan diatas dimana pada awalnya Elisa mengenakan petanda-petanda kelelakian. Dengan Elisa mengenakan the dress yang merupakan symbol of her prettiness tentu memunculkan diri Elisa sebagai seorang wanita seutuhnya yang terlepas dari kelelakiannya. Elisa pun layaknya wanita lain yang mempercantik dirinya dengan bersolek, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa bagaimanapun yang dilakukan Elisa, Ia tetaplah seorang wanita yang tentu berbeda degan pria.
She turned up her coat collar so he could not see that she was crying weakly-like an old woman. (halaman 11)

Kutipan diatas menjadi pamungkas dari spekulasi penyetaraan gender dalam cerpen ini. Hal tersebut karena Elisa pada akhirnya menyadari dirinya merupakan seorang wanita. Dan bagaimanapun usaha penyetaraan gender yang Ia lakukan, Ia tetap seorang wanita. Dan dapat saya interpretasikan bahwa disini Ia menangis karena Ia menyadari wanita tetap tidak bisa disetarakan dengan pria. Bahkan Ia merasa terluka menghadapi kenyataan tersebut. Ketidakberdayaan sosok perempuannya muncul ketika Ia menangis. Apalagi Ia merasa seakan para pria tetap memnadang ‘remeh’ dan tidak menghargai dirinya meskipun Ia telah bertindak seperti seorang pria.







F.      Simpulan
The Chrysanthemums terkonstruksi dengan adanya issue feminisme dan penyetaraan gender yang dieksploitasi oleh tokoh Elisa. Cerita pendek The Chrysanthemums menunjukan bahwa bagaimanapun usaha wanita untuk dapat ‘mendobrak’ anggapan umum mengenai wanita tetap saja hal tersebut tidak berarti apa-apa bagi pria manapun. Usaha penyetaraan gender yang dilakukan oleh tokoh Elisa pun ternyata sia-sia saja sebab toh wanita tetap saja sebagai wanita biasa yang dianggap tidak dapat menyamai pria.














Referensi
Irwan, Zoera’ini Djamal. 2009. Besarnya Eksploitasi Perempuan dan Lingkungan di Indonesia: Siapa Bisa Mengendalikan Penyulutnya?. Jakarta:  Gramedia.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:  Gramedia.
Siregar, Hetty. 1999. Menuju Dunia Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sadli, Saprinah. 2010. Berbeda Tetapi Setara: Pemikiran Tentang Kajian Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Siregar, Ashardi. 2010. Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sunarto. 2009. Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.